Dihantam Banjir, Jembatan Penghubung Dua Dusun Putus

Nampak jembatan yang menghubungkan dusun Samarekat dan Dusun Kokarlian yang putus akibat diterjang banjir, belum lama ini.(Suara NTB/ist)

Taliwang (Suara NTB) – Hujan deras disertai banjir bandang yang terjadi di desa Kokarlian, Kecamatan Poto Tano, belum lama ini mengakibatkan jembatan penghubung antara dusun Samarekat dan Dusun Kokarlian Putus dan merendam puluhan rumah masyarakat. Beruntung kejadian itu tidak sampai menimbulkan korban jiwa.

Sementara itu, akses utama masyarakat menuju ke dusun yang lainnya sampai saat ini belum ditangani lantaran masih menunggu anggaran.

Iklan

Kepala Desa Kokarlian Anasrullah kepada Suara NTB, Kamis, 20 Februari 2020 mengatakan, musibah putusnya jembatan penghubung dua dusun itu terjadi setelah wilayah setempat diguyur hujan selama satu jam ditambah lagi kondisi sungai yang semakin menyempit. Sehingga air yang tidak bisa tertampung maksimal menggerus bagian kiri jembatan dan meluap ke pemukiman warga.

Beruntung kejadian itu tidak berlangsung lama sehingga kerugian akibat bencana itu bisa diminimalisir. Hanya saja yang menjadi kendala saat ini yakni masalah jembatan yang belum ada penanganan lanjutan. Pasalnya, anggaran dari APBDes yang diperuntukkan untuk penanganan  jembatan belum bisa dicairkan lantaran masih ada beberapa proses evaluasi yang harus dilakukan.

Lambatnya penanganan jembatan ini diakuinya berdampak tidak baik terhadap pelayanan yang diberikan kepada masyarakat. Karena masyarakat yang akan berurusan ke kantor desa harus memutar arah lebih jauh karena akses satu-satunya (jembatan) belum bisa ditangani.

“Memang jembatan yang rusak tersebut belum bisa kita tangani saat ini karena anggarannya masih belum tersedia. Kami juga sudah membahas masalah ini (perbaikannya) bersama BPD dan Masyarakat dan mereka sudah menyetujui untuk ditangani melalui APBDes,” ungkapnya.

Dikatakannya, berdasarkan data yang ada saat ini jumlah warga yang terdampak akibat jembatan putus yakni sekitar 40 kepala keluarga di dusun Samarekat dengan jumlah jiwa sekitar 150 orang. Maka dari itu, pihaknya menargetkan dalam waktu dekat ini anggaran untuk pembangunan jembatan ini sudah bisa dicairkan sehingga penanganannya bisa dipercepat.

Pihaknya juga berharap kepada Pemerintah daerah untuk bisa melakukan normalisasi aliran sungai dan memperlebar lokasi pembuangan. Hal tersebut diharapkan bisa terealisasi karena jika debit air sungai besar tetapi area pembuangan ke laut tidak diperbesar akan sangat percuma juga dan pasti akan kembali merusak jembatan yang terbangun.

Hanya saja sampai dengan saat ini belum ada penanganan dari Pemerintah apalagi masalah tersebut merupakan kewenangan Kabupaten bukan desa. Untuk itu, pihaknya berharap sebelum jembatan ini dibangun kembali minimal normalisasi sudah selesai dilakukan karena jika kondisi tetap dibiarkan maka jembatan yang baru dibangun juga akan rusak.

“Kalau pembangunan jembatannya anggaran sudah kita siapkan melalui APBDes dan itu sudah kami bahas dan disetujui. Hanya saja kami berharap supaya sungai yang saat ini bisa dilakukan normalisasi supaya pada saat debit airnya banyak bisa tertampung maksimal sehingga tidak terjadi lagi hal-hal yang tidak diinginkan,” pungkasnya.

Sementara itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat mengaku belum mendapatkan laporan terkait bencana itu. Bahkan tim TRC juga sudah turun ke lapangan tetapi tidak ada kejadian jembatan putus. Selama tidak ada laporan maka pihaknya tidak akan mengetahui kejadian apa yang terjadi.

“Kami belum tau adanya jembatan putus di desa Kokarlian, kami juga sudah menurunkan tim TRC untuk melakukan pemantauan, tetapi kami tidak temukan. Makanya kami berharap kepada warga masyarakat jika ada kejadian diharapkan bisa segera melapor agar kita bisa segera lakukan penanganan. Sementara atas laporan yang baru kami terima, dalam waktu dekat akan segera kita turun kesana untuk kita tangani,” ujar kepala BPBD KSB melalui Kabid Kedaruratan dan Logistik (Darlog) Hendra Ardiwinata, S.Pd. Seraya menambahkan, yang jelas jika ada kejadian tetap akan dilakukan penanganan secara maksimal. (ils)