Diduga Telantarkan Anak, Oknum Pejabat akan Dilaporkan ke Polda NTB

Rwt dan MH saat mendatangi Polda NTB, Selasa, 25 Februari 2020. (Suara NTB/why)

Mataram (Suara NTB) – Seorang oknum pejabat tinggi di Kabupaten Sumbawa berinisial MHJ, akan dilaporkan ke Polda NTB dengan dugaan kasus penelantaran anak, Selasa, 25 Februari 2020. Pelapornya, oleh seorang perempuan bernama Rwt, ibu dari anak yang diduga ditelantarkan.

Melalui kuasa hukumnya Dr. Ainuddin, Rwt menjelaskan kronologis pengaduannya bermula pada saat pelapor mengetahui dirinya tengah hamil dari hasil hubungan asmaranya dengan MHJ sekitar tahun 1989. Pada saat itu juga Rwt kemudian mencari MHJ untuk dimintai pertanggungjawaban.

Iklan

Akan tetapi berbagai upaya yang dilakukan oleh Rwt untuk meminta pertanggungjawaban MHJ tak mendapatkan hasil apapun, karena MHJ selalu menghindar. Sampai kemudian Rwt melahirkan seorang anak perempuan, MHJ tetap tak mau bertanggung jawab atas perbuatannya untuk menikahi Rwt.

‘’Pada saat melahirkan, pelapor hanya dibantu oleh seorang dukun beranak. Kita bisa bayangkan betapa pedihnya penderitaan pengadu kala itu. Lebih-lebih pada saat ini pengadu ini sudah tidak punya orang tua, dia anak yatim piatu,’’ jelas Ainuddin.

Penderitaan yang dialami Rwt belum usai. Setelah Rwt melahirkan, anaknya konon sempat diculik, dengan tujuan untuk menghilangkan jejak dan bukti dari perbuatannya. Namun karena kehendak Tuhan,  bayi perempuan yang kemudian diberi nama MH tersebut dapat ditemukan kembali.

‘’Selanjutnya, pengadu membawa anaknya ke Lombok, dan anak tersebut kemudian dibesarkan oleh tetangga Rwt, sekaligus sebagai bapak angkat anak ini. Tidak lama kemudian, bapak angkat MH ini meninggal dunia. Barulah ibu angkatnya menceritakan semuanya kepada MH, bahwa dia punya orang tua kandung,’’ tutur Ainuddin.

Dari sanalah kemudian MH mulai mencari ibu kandungnya dan juga bapak kandungnya.  Dalam upaya pencariannya, MH pada akhirnya bertemu dengan ibu kandungnya, Rwt yang saat itu sudah tinggal menetap di Surabaya. Pada saat itulah Rwt kemudian menceritakan siapa bapak kandung MH, dan disebutkan nama MHJ.

‘’Selanjutnya MH kemudian berusaha untuk mencari ayah kandungnya. Ia meminta pertanggungjawaban hukum agar dia diakui sebagai anak MHJ. Tapi usaha MH gagal untuk bertemu dengan MHJ,’’ jelasnya.

MH tidak putus harapan. Ia lantas mencari orang yang bernama inisial DJ, yang diketahui merupakan kakak kandung dari MHJ yang dinilai mengetahui dengan baik peristiwa tersebut. DJ ternyata membenarkan bahwa MH adalah anak dari hasil hubungan antara Rwt dengan adiknya MHJ.

‘’Tapi pada saat MH mendapatkan kejelasan siapa bapak kandungnya. MH kemudian mendapatkan intimidasi. Karena merasa ketakutan, akhirnya MH memutuskan untuk menerima, mengikhlaskan dan berhenti untuk mencari tahu ayah kandungnya. Padahal niat dari anak pengadu ini, untuk mencari tahu siapa ayah kandungnya itu untuk mendapatkan status yang jelas terkait siapa ayah biologisnya. Tidak pernah ada niat sedikitpun untuk meminta harta kekayaan dengan jalan meminta pengakuan dari teradu,’’ sambungnya.

Di tengah keputusasaannya, MH kemudian memberanikan diri untuk membawa permasalahan ini ke jalur hukum, dengan melaporkan teradu ke Polda NTB dan didampingi oleh pengacara dari Kantor Pengacara AN Law Office Dr. Ainuddin & Partner.

‘’Dari serangkaian kronologi kejadian itu bahwa teradu telah diduga melakukan perbuatan penelantaran anak sebagai mana dimaksud dalam pasal 76B Jo pasal 77 UU nomor 32/2014 tentang perubahan atas UU Perlindungan Anak. Pengadu memohon kepada kepolisian untuk dilakukan tes DNA antara anak pengadu, MH dengan teradu MHJ untuk mendapatkan kepastian hukum,’’ tegas Ainudin.

‘’Tapi ini baru sampai tahap pengaduan, sampai akan dibuat Berita Acara Introgasi (BAI) oleh pihak kepolisian. Baru kemudian sampai pada laporan dan jadi BAP (Berita Acara Pemeriksaan),’’ tambahnya.

Sementara itu, pengakuan Rwt selaku pengadu menegaskan bahwa MHJ itu adalah bapak kandung biologis dari anaknya. Bahkan pada saat anaknya mulai berusaha mencari bapak kandungnya, sekitar tahun 2012, ia sempat dihubungi oleh MHJ sebagai teradu via telpon.

‘’Saya lagi kerja di pabrik, tiba-tiba MHJ ini nelepon saya. Dia marah-marah dan memaki-maki saya karena menceritakan kejadian itu pada anaknya. Saya bingung dari mana dia dapat nomor telepon saya,’’ ujar Rwt.

Bantah Tuduhan

Sementara itu, Bupati Sumbawa H. M. Husni Djibril membantah keras tuduhan penelantaran anak. Ia mengatakan, apa yang dituduhkan itu tidak benar. ‘’Semua itu fitnah,’’ tegas Husni.

Karena itu, dia siap diperiksa untuk membuktikan kebenarannya. Agar permasalahan itu tidak menyudutkannya. ‘’Saya siap untuk melakukan tes DNA,’’ ungkapnya.

Kader PDI Perjuangan itu memang mengetahui wanita yang mengaku dihamili olehnya. ‘’Saya hanya sekadar tahu,’’ ucapnya.

Sebenarnya kasus tersebut muncul sudah lama. Sekitar tahun 1989. Perempuan tersebut dibawa oleh seseorang . ‘’’Selanjutnya, dilaporkan ke Polres Sumbawa kala itu. Saya ingat betul saya diperiksa oleh Sersan Mahdi namanya,’’ kata Husni.

Pengakuannya waktu itu, seolah-olah Rwt dihamili olehnya. Pengakuan Rwt  itu tidak sesuai dengan fakta yang ada. ‘’Pengakuan Rwt setelah dikroscek polisi, ternyata saya pada jam dan hari itu sedang berada di Jember, kala itu,’’ ungkapnya. ‘’Eeh sekarang kasus ini muncul lagi,’’ terangnya.

Menurutnya, kasus ini sengaja dimunculkan untuk menjatuhkan elektabilitasnya. Apalagi, menjelang Pilkada. ‘’Ini masalah politik,’’ ungkapnya. ‘’Saya akan lawan. Dan melaporkan balik,’’ tegasnya.

Dirreskrimum Polda NTB, AKBP. Hari Brata mengatakan, dia belum menerima laporan itu. Sebelumnya, Rwt dan penasihat hukumnya katanya, hanya bersilaturahmi dan diskusi mengenai dugaan penelantaran anak oleh  Bupati Sumbawa.

‘’Tidak ada melapor. Hanya diskusi, belum masukkan laporan,’’ kata Hari. Polisi masih menunggu laporan.  Jika ada, akan kita tindaklanjuti laporan itu. (ndi/why)