Diduga Lakukan “Illegal Logging”, Empat Warga Diamankan KPH Rinjani Barat

Kepala KPH Rinjani Barat Pelangan Tastura, Muhammadin (Suara NTB/ari)

Tanjung (Suara NTB) – Kekhawatiran terjadinya illegal logging pada momentum rekonstruksi  perumahan pascagempa, sedikit terbukti. Diduga untuk kepentingan komersil, 4 warga  diamankan oleh KPH Rinjani Barat, karena diduga terlibat menebang kayu di kawasan hutan.

 

Iklan

Kepala KPH Rinjani Barat Pelangan Tastura Muhammaddin, Kamis, 13 Desember 2018 mengungkapkan KPH dan aparat berhasil mengamankan terduga pelaku illegal logging. Mereka tertangkap tangan oleh aparat saat melakukan pembalakan di kawasan hutan Desa Genggelang, Kecamatan Gangga, Kabupaten Lombok Utara (KLU).

 

“4 orang warga sudah diamankan, dan ke empatnya sedang diproses,” ujar Muhammadin.

 

Ia menyebut, pelaku saat ini dititip di sel tahanan Polda NTB guna menunggu proses hukum. Hanya saja, ia enggan mengungkap identitas ke empat pelaku lantaran sudah diserahkan ke aparat. Ia klaim, semua pelaku yang terlibat berdomisili di Lombok Utara.

 

Dari tangan pelaku, KPH tidak banyak menemukan barang bukti. Kendati demikian, penebangan kayu di kawasan hutan merupakan pelanggaran.

 

Muhammadin menilai, faktor yang mendorong warga melakukan penebangan liar di kawasan hutan lebih disebabkan oleh tawaran harga yang tinggi dari pembeli. Sebagaimana momentum rehab rekon perumahan pascagempa, permintaan kayu berkualitas cukup tinggi. Apalagi di KLU, trauma akibat gempa masih dirasakan, sehingga mereka memilih membangun rumah dari kayu.

 

“Harga yang ditawarkan pembeli tinggi, sehingga mereka tergiur masuk kawasan hutan dan menebang,” imbuhnya.

 

Berdasarkan analisis KPH Pelangan Tastura, terdapat sejumlah titik rawan penebangan hutan yang diawasi secara ketat. Termasuk salah satunya dongeng gelang yang menjadi lokasi penangkapan. Lokasi lainnya juga ada di Santong dan Rempek, kecamatan yang sama (Gangga).

 

Muhammaddin mengatakan, untuk mencegah penebangan liar, KPH bertindak sesuai aturan. Pelaku terlibat illegal logging diproses hukum. Secara persuasif, KPH membangun kemitraan dengan masyarakat untuk melestarikan hutan. “Ada tim kita di lapangan menjalankan hal itu. KPH juga melakukan pengawasan dengan berpatroli setiap hari, tenaga Pamhut kita sebanyak 60  orang,” pungkasnya. (ari)