Diduga Cabuli Bocah, Seorang Kakek di KSB Nyaris Diamuk Masa

Taliwang (Suara NTB) – Satuan Reserse Kriminal (Sat Reskrim) Polres Sumbawa Barat, mengamankan seorang kakek yang diduga melakukan tindak pidana pencabulan terhadap anak di bawah umur, Sabtu, 5 Mei 2018 malam di Kecamatan Taliwang. Pelaku yang diketahui berinisial BU (60) juga nyaris dihakimi masa yang sudah sangat geram dengan perbuatannya. Beruntung aksi main hakim sendiri ini tidak terjadi, setelah puluhan anggota Dalmas turun mengamankan pelaku di rumahnya.

“Saat ini terduga pelaku pencabulan sudah kita tetapkan sebagai tersangka dan dilakukan penahanan di Mapolres setempat. Sementara korban SA (12) yang merupakan tetangga tersangka, kita masih lakukan proses rehabilitasi terhadap kondisi psikologinya. Hal itu kita lakukan, karena akibat kasus yang menimpanya tersebut kini kondisinya sedikit terganggu,” ungkap Kapolres Sumbawa Barat melalui Kasat Reskrim Iptu Putu Agus Indra SIK, kepada media Suara NTB, Sabtu, 5 Mei 2018.

Iklan

Dikatakannya, dalam melancarkan aksi bejat tersebut, pelaku mengiming- imingi calon korbannya sejumlah uang dan barang. Dengan taksiran mulai Rp5000 hingga Rp 10. 000 untuk bisa “mengencani” anak-anak di bawah umur ini.

Setelah memberikan sejumlah uang, pelaku bisa secara leluasa untuk mengencani korbannya yang notabene merupakan tetangganya. Perbuatan layak sensor terhadap SA juga diakui baru sekali dilakukan. Hanya saja, SA menampik pengakuan dari tersangka ini karena dia merasa sudah dua kali melakukan aksi layak sensor dengan tersangka ini.

“Untuk saat ini kita masih menyesuaikan keterangan dari korban maupun tersangka, sementara untuk TKP-nya sendiri hanya satu yakni rumah tersangka,” sebutnya.

Disinggung apakah tersangka memiliki penyimpangan seksual, hingga saat ini pihak terkait belum bisa memastikan. Sebagai tindak lanjut kasus dugaan itu, pihak terkait juga melibatkan saksi ahli psikologi terhadap kejiwaan tersangka apakah ada indikasi penyimpangan seksual atau tidak. Akibat perbuatan itu, tersangka terancam dijerat dengan pasal 76E Jo (juncto) pasal 2 UU tindak pidana perlindungan anak dengan hukuman paling singkat lima tahun dan maksimal 15 tahun. Sementara terkait kondisi psikologis korban, pihaknnya juga akan melibatkan tim dari psikolog untuk melakukan pendampingan.

“Kita belum bisa pastikan ada kelainan atau tidak terhadap prilaku tersangka. Guna memastikan hal itu, kita juga libatkan saksi ahli psikologi dalam penanganan kasus ini,” tandasnya. (ils)