Diduga Ada Kejanggalan, Polisi Lakukan Autopsi Jenazah Dedi Irawan

Tim Forensik Polda NTB melakukan autopsi jenazah Dedi Irawan di Pemakaman Umum Sadrah, Dusun Lengaluh, Desa Montong Baan Selatan, Kecamatan Sikur, Senin, 11 Juli 2021.(Suara NTB/ist)

Selong (Suara NTB) – Tim Forensik Polda NTB melakukan autopsi jenazah Dedi Irawan di Pemakaman Umum Sadrah, Dusun Lengaluh, Desa Montong Baan Selatan, Kecamatan Sikur, Senin, 11 Juli 2021. Autopsi ini atas permintaan keluarga yang menilai adanya kejanggalan dalam kematian korban, karena tenggelam di Bendungan Pandanduri.

 Tim Forensik Polda NTB dipimpin dr. Arfi Syamsun, Sp. Kf. M. Si., Med., didampingi Kapolsek Terara, AKP. I Made Ngurah Wirawan, Kasubag Dal Ops, Iptu. Dewa Wija Astawa, S.H., Kasi Humas Polres Lotim, Iptu Lalu Jaharudin, Kasi Dikes, Aipda Sapriadi, Kades Montong Baan selatan Jumesah serta 8 orang anggota Polres Lotim, 18 personel gabungan Polsek Terara dan Polsek Sikur dan 6 orang perwakilan keluarga almarhum.

Iklan

 “Penggalian kubur jenazah Dedi Irawan oleh keluarga di iringi dengan pembacaan Al-Qur’an surat Yasin untuk dilakukan autopsi,” terang Kasi Humas Polres Lotim, Iptu. Lalu Jaharudin.

Sekitar pukul 11.45  Wita, Tim Forensik Polda NTB langsung melakukan autopsi terhadap jenazah almarhum Dedi Irawan dengan disaksikan pihak keluarga bertempat di pekuburan. Setelah proses autopsi selesai pada pukul 12.20 Wita, jenazah almarhum Dedi Irawan dikubur kembali seperti semula oleh keluarga.

Setelah proses autopsi selesai, dokter forensik menjelaskan hasil pemeriksaan bahwa tidak ditemukan bekas kekerasan dari kepala sampai kaki almarhum. Artinya berdasarkan hasil pemeriksaan, 80% almarhum meninggal, karena tenggelam dalam air saat mancing di Bendungan Pandanduri. “Untuk pemeriksaan lebih lanjut, tim dokter akan memeriksa sampel otak untuk dikirim ke Laboratorium Forensik,”terang Jaharudin.

Dalam proses autopsi ini, beberapa pihak yang mewakili untuk menyaksikan autopsi tersebut,  Sahrum ayah korban, Nurhasanah, ibu korban, Wiwin Ardianto, kakak korban, Pardi, paman korban, Kumpul ayah tiri korban, dan Suhariadi selaku paman korban.

Diketahui sebelumnya, korban bersama beberapa temannya memancing di Bendungan Pandanduri pada bulan Juni 2021 dengan meminjam perahu warga. Namun setelah sekitar 30 meter dari daratan, perahu itu terbalik setelah Magrib. Korban yang saat itu tidak berenang kemudian hilang tenggelam dan saat ditemukan sudah dalam kondisi meninggal dunia. (yon)

AdvertisementJasa Pembuatan Website Profesional