Diduga Ada Indikasi Penimbunan Suplemen dan Susu Beruang

Jefri. (suara NTB/bul)

Mataram (Suara NTB) – Ketua Forum Komunikasi Sales dan Marketing (FKSM) Provinsi NTB, Jefri menduga ada fenomena penimbunan suplemen dan susu beruang yang dilakukan oleh oknum-oknum tertentu untuk mengeruk keuntungan di tengah situasi seperti saat ini. Dua kebutuhan strategis yang diburu masyarakat ditengah pandemi Covid-19 ini adalah suplemen vitamin C dan susu beruang. Namun diketahui, dua kebutuhan ini menjadi tidak banyak ditemukan di pasaran.

Karena itu, menurut Jefri, aparat harus benar-benar melakukan pengawasan dan menindak pelakunya. Mantan Manajer Pengelola Niaga Supermarket ini kepada Suara NTB, Kamis, 15 Juli 2021 mengatakan,  bahkan di supermarket besarpun, suplemen tertentu dan susu beruang ini tidak ditemukan. Jikapun ada, harganya dinaikkan.

Iklan

“Susu beruang dan suplemen ini harganya juga dinaikkan. Coba saja cek, di tempat tempat jualan, kadang tidak ditemukan susu beruang ini. Tapi cek ditempat lain, di Cakra misalnya, produknya ada. Tapi harganya juga naik,” katanya. Satgas Pangan intens melakukan pengawasan di distributor-distributor.

Benar, kata Jefri, di distibutor produknya tersedia. Tetapi di tingkat pemasaran di lapangan, ada oknum-oknum yang bermain memborong produk dimaksud. “Orang yang membeli dua atau tiga botol misalnya, tidak ketemu. Seolah-olah barangnya tidak ada. Tapi dicari di tempat lain, ada barangnya. Dan harganya naik. Ini yang harus menjadi perhatian aparat,” imbuhnya.

Jefri juga menyinggung soal pelaksanaan PPKM Darurat, di Kota Mataram yang berlaku secara nasional hingga tanggal 20 Juli 2021 ini. PPKM Darurat ini salah satunya mengatur waktu berjualan hingga maksimal pukul 20.00 Wita. Kebijakan ini menjadi pukulan telak bagi usaha supermarket. Alasannya, saat jam penutupan ini biasanya menjadi jam puncak belanja masyarakat.

“Jam delapan itu puncak-puncaknya orang belanja. Tapi disuruh tutup. Barangkali perlu diatur lebih bijak lagi. Karena sangat mempengaruhi usaha supermarket. Selama corona kondisinya sudah sangat berat, ditambah lagi PPKM Darurat,” ujarnya. Selain itu, penyekatan yang dilakukan aparat juga turut membatasi pergerakan para sales marketing produk untuk memasuki suatu wilayah. Dengan syarat harus sudah melaksanakan vaksinasi dan swab di tempat, menurutnya cukup mengurangi gerak para sales dan marketing mengkomunikasikan produk kepada jaringan ritel yang ada di kabupaten/kota. (bul)

Advertisement