Dicari, Petani Milenial di NTB

Kepala BPPSDMP RI, Dedi Nursyamsi bersama jajaran, didampingi Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi NTB, H. Husnul Fauzi, meninjau buah hasil pertanian yang dipamerkan petani. (Suara NTB/bul)

Mataram (Suara NTB) – Kementerian Pertanian selama lima tahun ke depan menargetkan pertumbuhan jumlah petani milenial sebanyak 2,5 juta orang. Provinsi NTB, sebagai salah satu provinsi lumbung pertanian dalam konteks luas, diharapkan berkontribusi besar terhadap penciptaan generasi-generasi pertanian di zaman teknologi ini.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian Kementerian Pertanian (BPPSDMP) RI, Prof. Dr. Ir. Dedi Nursyamsi, M.Agr pada  kegiatan Koordinasi Penumbuhkembangan Pengusaha  Pertanian Milenial dan Peningkatan Kualitas Penyelenggaraan Pelatihan di Mataram, Kamis, 6 Februari 2020 menegaskan, visi dan misi Presiden adalah menjadikan pembangunan pertanian Indonesia yang maju, mandiri dan modern.

Iklan

Ditindaklanjuti oleh Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo (SYL) dengan menginstruksikan untuk mengembangkan petani milenial sebagai program utama. Tantangan sektor pertanian saat ini adalah bagaimana menarik minat generasi muda untuk terjun ke dunia pertanian.

Menurutnya, generasi muda yang dikenal dengan generasi milenial keterlibatannya dalam mendukung, mengembangkan dan memajukan sektor pertanian sangat dibutuhkan.

Pertanian harus didukung kalangan mienial sebagai generasi muda, mendukung upaya pemerintah melakukan regenerasi petani sekaligus melahirkan pengusaha muda pertanian yang berdampak sosial dan ekonomi bagi masyarakat pertanian Indonesia.

Sektor pertanian apabila dikelola dengan baik, benar dan serius akan menjadi bidang yang prospektif, bahkan ada banyak komoditas pertanian yang dapat diekspor dan menjadi peluang menambah pundi-pundi devisa negara.

Untuk mewujudkan itu semua, Kementerian Pertanian, melalui BPPSDMP punya 3 program aksi yang harus dilakukan yaitu Gerakan Komando Strategis Pembangunan Pertanian (Kostratani), penyuluhan pendidikan vokasi dan pelatihan mendukung petani pengusaha milenial, penyuluhan pendidikan vokasi dan pelatihan mendukung program utama Kementan.

Dengan 3 program aksi tersebut diharapkan Kostratani yang pusat gerakannya ada di kecamatan harus dapat menggenjot SDM khususnya petani muda yang professional, mandiri, berdaya saing dan berjiwa wirausaha yang akan mampu meningkatkan kesejahteraan petani, yang akan mampu menyediakan pangan bagi 267 jiwa, dan mampu meningkatkan ekspor.

“Pemerintah sudah memberikan dukungan kepada petani milenial dengan KUR (Kredit Usaha Rakyat) dengan bunga 6 persen. KUR ini memudahkan untuk mengembangkan sektor pertanian. Pemerintah akan bantu juga, tapi yang sifatnya stimulus saja,” demikian Dedi.

Sementara Kepala Pusat Pelatihan Pertanian (PUSLATAN), Ir.Bustanul Arifin Caya M.DM mengharapkan NTB sebagai lumbung pangan dan lumbung peternakan agar terdorong generasi mudanya menjadi petani-petani modern.

Tidak disebut detail berapa NTB berkontribusi terhadap penumbuhan petani-petani milenial ini. diharapkan sebanyak-banyaknya.

“Yang pasti kedepannya, karena NTB sebagai daerah potensial. P4Snya cukup berkembang, dan sudah mampu memberi nilai produksi yang cukup menguntungkan. Harapannya, kedepan P4S ini selain menjadi tempat pemagangan bagi petani muda, juga menjadi contoh untuk berproduksi dan berwirausaha,” terangnya.

Pertanian ini, jika dikelola dengan baik, menurutnya sangat menjanjikan bagi masa depan generasi muda dan bangsa ini. Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi NTB, Ir. H. Husnul Fauzi, M. Si mengatakan, sejak tahun 2018, ada penurunan minat tenaga kerja  usia 20-39 tahun yang bekerja di sektor pertanian dengan penurunan cukup signifikan yaitu 415.789 orang.

Ini menandakan bahwa generasi muda mulai kurang meminati sektor pertanian. Sementara bahwa sektor pertanian masih merupakan penyumbang devisa tebesar saat ini dibandingkan sektor lain ( sektor pertanian 54 %, jasa 27 % dan pengolahan 19 %).

Ini menunjukkan bahwa tenaga kerja di sektor petanian masih memiliki banyak peluang terutama bagi petani milenial dan harus dimanfaatkan. Regenerasi Petani ini dapat dilakukan melalui Program Pendidikan Vokasi  di Bidang Pertanian. Dukungan Pendidikan untuk menumbuhkan kembali minat generasi muda di sektor pertanian.

Salah satunya melalui Pendidikan di Politeknik  Pertanian Kementerian Pertanian maupun Non Kementerian Pertanian, Pendidikan di SMKPP dan Program PWMP (Penumbuhan Wirausaha Muda Pertanian). (bul)