Dibangun di Lokasi Rawan Longsor, Kawasan Agrowisata Gula Aren Kekait Mangkrak

Kondisi bangunan galeri gula aren di kawasan agrowisata di Desa Kekait  mangkrak sejak selesai dibangun tahun 2018 lalu. (Suara NTB/her)

Giri Menang (Suara NTB) – Kawasan agrowisata gula aren yang terletak di Dusun Kekait Daye Desa Kekait Kecamatan Gunungsari, Kabupaten Lombok Barat (Lobar) yang dibangun dengan nilai Rp 1.4 miliar mangkrak semenjak dibangun 2018 lalu. Agrowisata yang berbengkalai selama dua tahun ini dibangun di lokasi kurang strategis, karena berada di bawah tebing pinggir sungai besar yang membentang menuju Pusuk. Jalan yang menghubungkan antara Lobar dengan Kabupaten Lombok Utara (KLU).

Untuk masuk ke lokasi ini cukup sulit. Karena pada saat itu pintu gerbang  ditutup portal. Lahan lokasi pintu gerbang ini sendiri milik warga, sehingga kalau mau masuk ke lokasi agrowisata harus meminta izin ke pemilik. Jalur menuju ke lokasi biasa dipakai lalu lalang pengangkutan material galian. Dari pintu masuk menuju agrowisata, terdapat jalan setapak dengan kondisi memprihatinkan. Masih jalan tanah dan berlubang.

Iklan

Sekitar beberapa ratus meter memasuki kawasan itu, terdapat sungai yang memisahkan. Dari seberang sungai bangunan yang masih bagus itu bisa dilihat.  Untuk menghubungkan menuju ke lokasi bangunan itu, dibangun jembatan penyeberangan berbahan besi. Setiba di lokasi bangunan galeri di kawasan agrowisata yang didanai dari APBN itu, terdapat monumen dan pintu gerbang yang kondisinya masih bagus namun kurang terawat. Dari gerbang terdapat jalan rabat menuju ke bangunan galeri gula aren. Kondisi bangunan galeri gula aren ini tertutup rapat. Pintu kaca terlihat kotor akibat tak pernah dibersihkan.

Di bagian dalam, terdapat etalase kosong, beberapa peralatan dan mesin yang dibiarkan menganggur. Tampak juga material yang berserakan. Di sebelah bangunan galeri itu, terdapat bangunan WC sebanyak empat lokal. Dari bagunan galeri itu, terdapat jalan rabat yang yang dibangun menuju air terjun yang terletak di perbukitan.

Kepala Desa Kekait, H Zaini mengatakan sejak dibangun dua tahun lalu agrowisata itu memang tak difungsikan. Sementara desa sendiri pada posisi sulit, karena bangunan belum diserahterimakan ke desa. Belum ada petunjuk dari pemda.

Sebelum pembangunan agrowisata ini, tim pusat turun mengecek beberapa lokasi. Waktu itu, pihak desa mengusulkan beberapa lokasi, namun lokasi ini yang dipilih karena dinilai tepat. Setelah disetujui lokasi ini, pembangunan pun dimulai. Dibentuklah Organisasi Masyarakat Setempat (OMS) yang ditunjuk melaksanakan pembangunan sampai selesai. “Setelah selesai dibangun, kami tunggu-tunggu operasional. Tapi ini kan mandek setelah dibangun,”terang dia.

Bangunan ini juga belum diluncurkan. Rencananya diresmikan oleh Bupati Lobar H. Fauzan Khalid, namun batal karena sesuatu dan lain hal. OMS pun tidak bisa berbuat banyak mengoperasikan bangunan ini, karena belum ada petunjuk dan diserahterimakan.

Bagaimana intervensi desa? pihak desa jelas dia, membantu dari sisi pembangunan jembatan besi senilai Rp50 juta dari DD.  Salah satu kendala juga dalam operasional agrowisata lahan menuju lokasi ini sendiri berada di Desa Lembah Sari, di mana lahan itu milik orang. Jalur ini dipakai untuk pengangkutan material. Di sini, ujarnya,  sudah ada kesepakatan OMS untuk membuka jalan ini untuk wisata.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Lobar Sahabudin melalui Kabid Industri Kimia  Agro dan Hasil Hutan (IKAHH), Hj. Baiq Laksmi  Dwiarti mengatakan terkait bangunan ini penyerahannya bukan dari Disperindag, namun langsung dari pusat. Terkait kepastian kepada siapa diserahkan, nantinya dari pusat yang menentukan. (her)