Diapresiasi Wagub NTB, PT Indonesia Power PLTU Jeranjang OMU Manfaatkan Sampah Jadi Bahan Bakar

Penandatanganan perjanjian kerjasama antara Manajer Unit PT IP PLTU Jeranjang OMU Melky Victor Borsalino dengan kepala DLHK Dinas provinsi tentang pelaksanaan penelitian dan pengembangan teknologi pengolahan sampah menjadi sumber energi, disaksikan Wagub NTB, Hj. Sitti Rohmi Djalilah dan Senior Manager Pembangkitan PLN Unit Induk Wilayah NTB Edyson Rajagukguk.

Giri Menang (Suara NTB) – PT Indonesia Power PLTU Jeranjang OMU Desa Taman Ayu Kecamatan Gerung mengembangkan pengolahan sampah dengan sistem Refuse Derived Fuel (RDF) untuk bahan bakar PLTU. Sistem ini mengolah sampah organik dan anorganik menjadi pelet yang bisa dipergunakan untuk bahan bakar pembangkit dikombinasikan dengan batu bara. Pihak PLTU mulai menggunakan pelet dari olahan sampah ini sejak 2019 lalu.

Wagub NTB, Hj. Sitti Rohmi Djalilah bersama Senior Manager Pembangkitan PLN Unit Induk Wilayah NTB Edyson Rajagukguk dan Manajer Unit PT IP PLTU Jeranjang OMU Melky Victor Borsalino dan kepala OPD terkait.

Untuk pengembangan pelet ini, pihak PT IP OMU pun menjalin perjanjian kerjasama dengan Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan tentang pelaksanaan penelitian dan pengembangan teknologi pengolahan sampah menjadi sumber energi. Upaya pemanafataan sampah sebagai bahan bakar yang dilakukan PT IP PLTU Jeranjang OMU ini pun mendapatkan apresiasi dari Wakil Gubernur NTB, Dr. Hj. Sitti Rohmi Djalilah yang menyaksikan penandatanganan perjanjian kerjasama tersebut, Selasa, 21 Juli 2020 di kantor PLTU Jeranjang, Lombok Barat.

Iklan

Wagub NTB didampingi, Asisten II Ridwan Syah, Kepala DLHK Madani Mukarrom, Kepala Dinas ESDM M. Husni. Hadir dari pihak PLN, Senior Manager Pembangkitan PLN Unit Induk Wilayah NTB Edyson Rajagukguk dan Manajer Unit PT Indonesia Power PLTU Jeranjang OMU Melky Victor Borsalino.

Wagub NTB melakukan praktek feeding manual pellet RDF ke conveyor batubara PLTU Jeranjang yang merupakan rangkaian proses awal dalam Cofiring Pellet RDF dan Batubara.

Melky sapaan akrab Manajer Unit PT Indonesia Power PLTU Jeranjang OMU mengatakan pengembangan pengolahan sampah dengan system RDF untuk bahan bakar PLTU ini merupakan turunan dari program Pemprov NTB dalam penanganan sampah yakni Zero Waste.

“Berangkat dari program unggulan pemprov NTB ini, kami punya teknologi pembakaran yang bisa mengkombinasikan energi pemanfaatan sampah menjadi energy yang namanya waste to energy. Kami kombinasikan sampah organik 95 persen dan anorganik 5 persen, itu kita bentuk menjadi pelet. Pelet ini dikombinasi dengan batu bara, peletnya 3 persen dan batu baranya 97 persen menghasilkan listrik 25 MW bruto,” jelas Melky.

Harapannya, dengan pengembangan RDF ini pengoperasian pembangkit berbasis green power plan dengan waste to energy. Selain itu membantu Pemda mengatasi masalah sampah dalam jangka panjang.

Penelitian penggunaan pelet sampah ini dilakukan sejak 2019. Tiga tahapan yang akan dilalui, yakni pengujian. Sampai dengan awal tahun 2020 sudah selesai dan berhasil. Kenapa penggunaan 3 persen pelet sampah? Karena hasil penelitian, nilai 3 persen itu optimum antara operasi yang diperbolehkan. Kalau di atas 3 persen penggunaan sampah, operasional pembangkit tidak bagus. Kemudian tahap II, penelitan dan pengembangan yang kerjasamakan dengan Pemprov NTB dan lembaga terkait yang diperkirakan selesai bulan September mendatang.

“Selanjutnya setelah itu tahapan komersial. Itu diharapkan memberi nilai manfaat atau ekonomi bagi masyarakat dari sampah yang diolah menjadi pelet (RDF),” ujar dia.

Pelet dari sampah untuk bahan bakar pembangkit yang dihasilkan PT IP PLTU Jeranjang OMU.

Ketika sudah komersial, diharapkan mindset warga bisa melakukan pengolahan sampah sejak dari rumah tangga masing-masing sebab mereka melihat sampah itu memiliki nilai ekonomis. Harga pelet jelas dia, Rp 400-500 per kilogram. Selain itu, ada efisiensi anggaran untuk bahan bakar di PLTU, karena kalau batu bara harganya per kilogram Rp 600. “Jadi ada Rp 150 hematnya, jadi di pembangkit ada efisiensi dan masyarakat dapat hasil dari sampah yang dijual,” ujarnya.

Edyson menjelaskan penggunaan pelet sampah untuk subtitusi bahan bakar di PLTU melalui berbagai uji coba dari 1 persen, 2 persen hingga 5 persen. Hasil uji coba yang paling baik, kata dia, pada kadar 3 persen.

Penggunaan pelet ini sudah dilakukan penelitian dampaknya terhadap debu akibat pembakaran dan penggunaan pelet ini tidak mengganggu peralatan pembakaran di pemanas. Artinya sudah menemukan komposisi campuran penggunaan pelet dan batu bara yang baik untuk bahan bakar. Kini pihaknya telah memasuki tingkat sertifikasi yang perlu dikirim datanya ke PLN pusat sertifikasi di Jakarta. Sertifikasi ini untuk memastikan apakah memenuhi syarat untuk di-SNI-kan atau tidak.

Harga pelet ini jauh lebih murah dibandingkan batu bara. Harga belinya di bawah harga batu bara, disamping dari sisi penanganan sampah bisa membantu Pemprov NTB. “Ini salah satu solusi penanganan sampah, dan kami acungkan jempol untuk pak Gubernur dan Wagub. Ini juga sebagai dukungan kami ke pemprov dalam penanganan sampah,” imbuh dia.

Lebih jauh kata dia, di tingkat Kementerian, sedang diupayakan penggunaan sampah sebagai bahan bakar pembangkit di seluruh Indonesia dengan membuat percontohan di masing-masing daerah. Di NTB sendiri ditunjuk PLTU Jeranjang.

Wagub NTB mengatakan, berbicara tentang lingkungan tentunya keindahan alam di daerah ini kalau tidak sungguh-sungguh dipelihara maka dia akan pupus dengan waktu dan akan hilang sehingga tidak ada yang bisa diwariskan kepada anak cucu di kemudian hari.

“Kami, saya Bapak Gubernur dan seluruh jajaran dari pemerintah provinsi NTB bertekad untuk bagaimana kita memperjuangkan alam NTB ini salah satu caranya tentunya adalah dengan mengelola sampahnya dan juga tentunya menanami daerah-daerah yang memang sudah gundul harus ditanami, sehingga program unggulan di NTB ada program bersih dan juga NTB hijau biasa kita wujudkan,” jelas Rohmi.

Menurut dia, program yang dilakukan pihak PT IP PLTU ini sederhana. Namun diyakininya pada 10-20 tahun ke depan, kalau konsisten dilakukan maka akan dirasakan manfaatnya. “Bukan Kita yang rasakan tapi anak cucu kita,”ujar dia.

PLN dan PT IP jelas dia memberikan kontribusi yang luar biasa karena mau menjadi mitra pemerintah untuk bersama-sama bagaimana berpikir agar pengolahan sampah di NTB dan mungkin ada di Indonesia ini ada solusinya. Karena untuk pengolahan sampah ini kata dia harus dipikirkan dari hulu ke hilir.

Bukan hulunya saja, namun bagaimana hilirnya supaya bisa mengubah slogan soal sampah ini bukan menjadi musibah namun berkah. Bagaimana caranya menjadi berkah? harus ada satu teknologi dan usaha yang lebih. Hal ini sudah direncanakan, di tahun 2023 70% penanganan dan 30% pengurangan bisa tercapai.

“Ini sedang kita perjuangkan,” imbuh dia. PT Indonesia power dan semua pihak yang hadir jelas dia untuk menjawab tantangan itu. Dan pemprov bersama PT IP dan lembaga terkait bekersama melakukan riset selama lima tahun kedepan.

Harapannya, apa yang dilakukan bersama ini benar-benar menjawab permasalahan sampah, di mana yang menjadi masalah dari sampah ini sesungguhnya adalah sampah anorganik. Tidak masalah sekarang dalam pembuatan pelet sampah, 5 persen dari sampah an organik dan 95 persen organik. Namun secara bertahap terus ditingkatkan, persentase penggunaan sampah anorganik yang akan diolah. Pihaknya berharap melalui riset yang dilakuan ada solusi antara lingkungan masalah sampah ini terselesaikan, artinya betul-betul mengolah an organik namun PLN juga bisa beroperasi dengan aman. Hal ini yang menjadi tujuan utama kedepannya.

“Saya yakin kalau orang kita sama-sama menginginkan kebaikan yang pasti ada usaha dari pihak baik dari Pemprov NTB maupun PLN bisa sampai kepada tujuan bersama itu, terima kasih PLN dan PT Indonesia power,” imbuh dia. Dalam kesempatan itu langsung meinjau penggunaan pelet sampah di PLTU. (her)

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional