Dianjurkan WHO dan Menyehatkan, Gerakan Kelorisasi, PKK KLU Siapkan Program Lomba Cipta Kreasi Berbahan Kelor

Ilustrasi Kelor. (SuaraNTB/ist)

Tanjung (Suara NTB) – Stigma kelor masih melekat sebagai bahan makanan (sayuran) inferior di kalangan masyarakat. Sebagian bahkan tersugesti, mengkonsumsi kelor menyebabkan rematik.

Sepertinya, masyarakat perlu diedukasi lebih lanjut akan manfaat kelor yang sebenarnya. Sebab, dibandingkan daunnya, buah kelor cenderung lebih laris jika diperjualbelikan di pasar.

Iklan

Dikutip dari laman Wikipedia, Kelor atau Merunggai (Moringa oleifera) adalah sejenis tumbuhan dari suku Moringaceae. Kelor adalah tanaman yang bisa tumbuh dengan cepat, berumur panjang, berbunga sepanjang tahun, dan tahan kondisi panas ekstrem. Identifikasi itu, menyebabkan kelor dengan gampang ditemui di Lombok Utara. Sebagian besar masyarakat sudah membudidayakannya di halaman rumah, pekarangan atau bahkan kebun. Namun tidak seluruh masyarakat membudidaya atau bahkan mengkonsumsinya secara massif dan rutin. Kerap kali, kelor identik sebagai sayuran substitusi manakala sayuran utama tidak tersedia atau tidak terbeli.

Menyadari kelor yang kaya akan manfaat itu, PKK Kabupaten Lombok Utara (KLU) seperti disampaikan Ketua TP PKK KLU Hj. Galuh Nurdiyah akan mendorong Gerakan Kelorisasi di masyarakat. Salah satu upayanya, melalui terobosan program Lomba Cipta Kreasi Menu Makanan berbahan kelor. Bahkan, PKK tidak menutup adanya inovasi masyarakat untuk mengubah kelor sebagai serbuk minuman – seperti yang berkembang baru-baru ini.

“Lomba Cipta Kreasi makanan Berbahan Kelor salah satu instrumen kita menggerakkan masyarakat. Melalui even itu, PKK Kecamatan dan Desa kami harapkan ikut berperan mendampingi PKK di wilayahnya untuk mempersiapkan inovasi kreatif,” katanya,  Jumat, 10 September 2021.

Menurut Galuh, event itu mungkin tidak banyak menawarkan hadiah bagi kelompok PKK dusun. Namun, melalui even itu, Cipta Kreasi Kelor buatan ibu-ibu PKK berpeluang untuk diperkenalkan sebagai produk yang diakui di KLU.

Galuh menjelaskan, lomba nantinya  juga bertujuan memasifkan edukasi dan gerakan Kelorisasi di masyarakat. Pihaknya ingin mengubah mindset, persepsi maupun sitgma yang melekat pada kelor.

“Kita akui, pemahaman masyarakat mungkin masih banyak yang keliru. Sehingga saat edukasi akan manfaat dan kandungan kelor nanti, PKK akan melibatkan tenaga Dinas Kesehatan atau tenaga ahlinya,” ucapnya.

Untuk program Lomba itu sendiri, Galuh memproyeksikan akan dirancang sebagai program PKK tahun 2022 mendatang. Mengingat, untuk tahun 2021 ini peluang anggaran untuk mengadakan Lomba belum memungkinkan. (ari)

AdvertisementJasa Pembuatan Website Profesional