Dialog dan Pesona “Egoisme” Frau di Konser Tembus Pandang

Mataram (Suara NTB) – Penyanyi dan pianis Frau, memukau penggemarnya di Mataram dalam showcase bertajuk “Konser Tembus Pandang” Sabtu, 20 Januari 2018.

Pemilik nama lengkap Leilani Hermiasih atau Lani ini berhasil berdialog dengan penonton yang hadir di gedung pertunjukan Taman Budaya NTB. Hanya 264 tiket yang disebar untuk menyaksikan konser gadis kelahiran Yogyakarta 1990 yang dijuluki pemilik “suara surga” ini.

Frau dengan talenta sebagai penyanyi, musikus, komponis dan sekaligus lirisis ini, menggiring penontonnya serius menyimak komposisi musik dari pianonya. Ia tampil sekitar satu jam. Meski sebagian merasa asing dengan liriknya, namun tertutupi dengan kepiawaiannya memainkan piano yang ‘menghipnotis’.

Di sela-sela lagu berikutnya,  lulusan magister Antropologi Sosial (Ethnomusicology) di Queen’s University Belfast, Inggris ini, berdialog dengan penonton. Baginya, Lombok dengan segala keindahannya bukan tempat asing, karena sebelumya pernah menyapa di panggung berbeda.  Ia juga berkisah tentang sekelumit peristiwa dalam lagu lagu ciptaannya.

Frau yang terlihat total dalam penampilannya,  menyuguhkan lagu-lagu yang bernuansa kental jazz, dengan lirik-lirik tentang kehidupan dan kritik sosial. Tampak sangat menjiwai tiap lirik yang ke luar dari vocalnya.

Pada akhir penampilannya, Frau menutup dengan lagu Sepasang Kekasih di Luar Angkasa. Lagu ini berhasil mengajak penonton ‘berdialog’ dengan mengikuti liriknya.

Konser dengan kapasitas penonton terbatas Frau ini dibuka dengan penampilan  Pipiet & The Maiqkane’s, serta pertunjukan karya visual  Mantra, yang merupakan kerjasama Taman Budaya dengan Belibis6, menyelenggarakan.

Frau melejit dan mencuri perhatian lewat lagunya Mesin Penenun Hujan.  Muda dan bertalenta, karena ia bernyanyi dan memainkan piano untuk lagunya sendiri. Itu kemudian jadi alasan banyak yang memperbincangkannya. Dan menuliskan syair berkelas.

Ia adalah penyanyi, musikus sekaligus komponis yang layak diperhitungkan di belantika musik tanah air saat ini.

Konser ini memang menyuguhkan perbedaan.  Kesan berbeda terasa sejak pengunjung akan masuk ke gedung pertunjukan. Setiap orang diberi satu tanaman kaktus yang di setiap potnya bertuliskan kata-kata pendek yang memberi motivasi positif, sebagai cindera mata untuk dibawa pulang.

Ary Juliant, musisi senior NTB menilai bahwa konser Frau yang diselenggarakan untuk kali kedua di Mataram ini, sebagai bentuk vitamin khusus bagi kalangan seniman muda NTB. Karena menurutnya seni itu tidak hanya tentang menyuguhkan hiburan semata.

“Luar biasa, saya suka karya Frau. Karya yang menurut saya bervitamin untuk anak muda dan pencerahan kepada siapapun,” ungkap Ary usai konser.

Musisi indie asal Bandung ini menyebut, penampilan Frau  memberi gambaran bahwa kesenian bukan hanya soal hiburan saja, kedalaman karya  yang dieksplorasi.

“Karena selama ini yang ada di Mataram kita kekurangan sekali referensi pencerahan. Karena hanya berkutat di situ-situ saja dan tidak melihat dunia lain,” sambungnya.

Imam Sofian pengiat musik Jazz NTB juga memberikan apresiasi. Menurut dia, lagu dan musik yang Frau hasilkan adalah bentuk karya seni yang berisi dan bermakna dalam. Bukan hanya dari isi kisah dalam liriknya, namun juga pada setiap penekanan yang diberikan dalam permainan pianonya.

“Makna dalam setiap lirik lagunya, hampir tidak ada yang dangkal. Ditambah penguasaan teknisnya dalam memainkan piano yang begitu menjiwai, membuat penampilan Frau yang sebenarnya bisa dibilang monoton itu, menjadi sangat menarik untuk terus dinikmati,” ungkap Imam, owner  Bandini Coffee  yang turut jadi sponsor konser itu.

Selain karya seni musik yang disuguhkan, Imam juga menilai cara Frau berkomunikasi dengan penontonnya terbilang sangat interaktif. Sehingga setiap jeda lagu saat konser berjalan, juga menjadi momen yang menyenangkan bagi penonton yang hadir.

“Terkadang musisi dan seniman itu cukup egois dalam karya-karyanya. Namun Frau mampu membungkus egoisme itu dengan permainan piano yang indah, kualitas vokal yang baik, dan gaya interaksinya yang menarik. Sehingga tetap bisa mendapat tempat di hati para penikmat seni,” tutup Imam.

Firad Pariska, penonton lainnya mengaku sangat menikmati semua suguhan lagu Frau. Meskipun ia terbuka mengakui ada beberapa karya yang tidak sepenuhnya difahami, tapi keseluruhan ia kagum. “Saya suka, lagu-lagunya bagus, permainan pianonya juga hebat,” ungkap Firad.  (ars)