Diakomodir Untuk MotoGP, Ibu Rumah Tangga di Kuripan Sulap Sampah Jadi Kerajinan Bernilai Tinggi

Kades Kuripan, Hasbi bersama para perajin kerajinan dari sampah di Lobar. (Suara NTB/her)

Giri Menang (Suara NTB) – Sampah tak selamanya membawa “musibah”. Kalau diolah dan dimanfaatkan bisa menjadi barang bernilai tinggi sehingga membawa “berkah” bagi masyarakat. Hal ini yang tertanam dalam pola pikir para ibu rumah tangga di Desa Kuripan Kabupaten Lombok Barat.

Di tangan para ibu yang memiliki kreativitas tinggi mampu menyulap sampah atau barang bekas menjadi kerajinan bernilai tinggi.

Iklan

Beraneka ragam kerajinan bunga dibuat dari bahan sampah ini, seperti reflika bunga teratai, anggrek, mawar dan bunga tulip. Kreativitas para ibu ini terinspirasi dari kondisi sampah yang menimbulkan persoalan di masyakarat setempat.

Mereka ingin mengubah pola pikir dan menumbuhkan kesadaran masyarakat bahwa sampah tidak selamanya menjadi musibah akan tetapi bisa mendatangkan berkah. Adalah dua ibu rumah tangga asal Dusun Due Pelet Desa Kuripan, Ariyani dan Hariyati yang merintis kerajinan dari sampah sejak setahun lalu.

Dua Ibu muda ini tanpa lelah mengajak dan memberikan kesadaran masyarakat agar mau terlibat. Meski begitu susah mengubah pola pikir masyarakat, namun semangat mereka tak pernah mundur.

Ariyani menuturkan awal mula ia merintis kerajinan sampah atau barang bekas. Dibawah binaan Bunga Sampah Lestari Lombok (BSLL) ini mulai belajar membuat kerajinan dari limbah. Butuh waktu baginya untuk mengolah sampah agar kerajinan yang dibuat bagus dan menarik agar persis seperti bunga asli.

Barang bekas yang diolah menjadi kerajinan, seperti sampah botol minuman, tikar plastik bekas, sampah gelas pop mie dibuat menjadi pot bunga diipercantik dengan ornamen dari sisa tas dan sandal. Semua barang bekas ini kata dia terpakai sehingga ketika mengolah sampah tidak menghasilkan sampah baru. Selain barang bekas itu, ia juga butuh Cat dan pylox.

Hasil kerajinan sampah yang dibuat, masih sebatas membuat beragam jenis bunga. Kenapa memilih bunga? Karena bunga memiliki banyak jenis yang cantik dan menarik. Untuk membuat satu kerajinan bunga tidak butuh waktu lama. Karena kata dia, di kelompoknya memilki tugas masing-masing seperti konsep pabrik.

Ada yang tugasnya menggosok, menggunting dan membuat pola, melilit kawat dan terakhir ada yang bertugas merangkai bunga. Warga yang terlibat dalam proses ini ada beberapa orang. Namun tahap awal ini ia mengawali bersama rekannya. Sambil ia terus melakukan pendekatan ke masyarakat agar mau terlibat karena memang memiliki nilai ekonomi.

Ia ingin agar dari kerajinan ini, bisa membantu perekonomian warga. Dalam sehari ia mampu membuat 3-4 bunga tergantung tingkat kesulitannya karena butuh kesabaran dan ketelatenan.

Melalui caranya ini, ia ingin membangkitkan kesadaran masyarakat tentang hidup bersih. Meski bukan penduduk asli di desa itu namun ia memiliki prinsip ketika berada di suatu tempat ia harus mencintai daerah ini sehingga ia berpikir apa yang bisa diberikan untuk desa ini. Sehingga terbersitlah ide membuat kerajinan ini. Menurutnya memang butuh upaya pelan-pelan untuk mengubah pola pikir warga tenang sampah.

“Kesannya sampah itu kotor, jorok membawa musibah. Tapi ditangan-tangan kita sampah ini kami buat menjadi kerajinan, sehingga tenyata sampah itu bukan musibah tapi membawa berkah buat kita karena bisa mendatangkan uang,” tutur dia.

Kedepan ia berharap kerajinan ini bisa menjadi ciri khas Kuripan dan mendongkrak desa ini. Karena kedepan ia inginkan kerajinan ini bisa diproduksi lebih massal lagu untuk dijual Masyarakat. Harga kerajinan ini bervariasi mulai dari Rp25 ribu hingga Rp300 ribu disesuaikan dengan ukuran.

Disamping itu lanjut dia, kerajinan dari sampah ini juga untuk mendukung program Gubernur NTB yakni zero waste.

“Ini kan juga upaya kami mendukung program provinsi zero waste,” tuturnya.

Untuk pangsa pasar, diakuinya banyak yang berminat namun produksi masih terbatas. Pihaknya tengah mempersiapkan diri di tahun 2021, karena kerajinan buatannya sudah disiapkan masuk diakomodir oleh ITDC untuk mendukung perhelatan MotoGP.

“Produk kami akan diambil untuk suvenir pada pelaksanaan MotoGP nanti di Mandalika Loteng,” jelas dia. Beberapa stan disiapkan untuk mengakomodir produk kerajinannya.

Kades Kuripan Hasbi mengatakan pihaknya sangat mendukung kegiatan yang dilakukan oleh warganya sebagai Salah satu upaya mendukung upaya Pemdes menangani sampah di desa setempat. Selain itu, kegiatan ini juga mendukung program Zero waste yang dicanangkan oleh gubernur.

Program ini juga masuk program kerjanya semenjak menjabat kades sejak 2019 lalu. Akibat dampak covid-19, Pihaknya baru bisa menyokong maksimal tahun depan. Meski demikian mereka tetap beraktivitas. “Semangat inilah yang kami Syukuri, tanpa modal mereka tetap berkreativitas,” jelasnya.

Pihaknya pun berupaya berswadaya membantu mereka. Kedepan Pihaknya akan memberikan modal kepada kelompok ini, dimana usaha IKM ini bisa masuk unit usaha bumdes. Pihaknya akan membantu memasarkan produk kerajinan mereka. Dimana dalam setiap kegiatan di desa, produk Mereka akan ditampilkan. Bahkan ia sudah mulai membantu memasarkan melalui medsos, sehingga banyak pihak baik dari dalam dan liar desa yang tertarik membeli.

Kedepan ia juga akan memasarkan kerajinan ini  berkoordinasi dengan Pemda agar membeli produk warga sebagai souvernir tamu. Bahkan pihaknya akan meminta agar produk kerajinan ini bisa ditampilkan dalam pameran dan kegiatan yang dilakukan Pemda. (Her)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here