Di Tengah Pandemi, Ziarah Kubur Tak Ramai

Warga Kota Mataram melakukan ziarah kubur di TPU Karang Medain, Senin, 12 April 2021. Kegiatan tersebut jamak dilakukan menjelang Ramadhan. Kendati demikian, tahun ini jumlah peziarah tidak seramai tahun-tahun sebelumnya.(Suara NTB/bay)

Ziarah kubur menjelang Ramadhan menjadi salah satu tradisi yang dilakukan oleh warga Kota Mataram setiap tahunnya. Selain untuk mengirimkan doa, kegiatan tersebut sekaligus dilakukan untuk melepas rindu pada keluarga yang telah tiada.

SALAH satu warga Kota Mataram, Euis Agustin yang mendatangi makam saudaranya di tempat pemakaman umum (TPU) Karang Medain mengaku Ramadhan kali ini memang memiliki kesan berbeda. Terutama karena masih diberlakukannya beberapa pembatasan akibat pandemi coronavirus disease (Covid-19) yang masih berlangsung.

Iklan

“Biasanya kami datang (berziarah) setiap Jumat, termasuk menjelang puasa ini. Harapannya untuk berdoa, terutama bagi keluarga yang merasa kehilangan,” ujar warga Kelurahan Sayang-Sayang tersebut. Dirinya berharap dengan ziarah tersebut rindu keluarga dapat sedikit terobati. “Apalagi ini menjelang puasa juga, sekaligus kita mengingatkan diri sendiri soal hidup yang cuma sementara,” sambungnya.

Euis bersama kedua anaknya melakukan ziarah ke makam saudaranya yang meninggal sekitar tiga tahun lalu. Menjelang Ramadhan, keluarga besarnya juga melakukan hal serupa guna mengirimkan doa. “Cuma kita datangnya bergiliran, kalau keluarga yang lain datangnya pagi. Jadi tidak beramai-ramai juga,” jelasnya.

Suasana di TPU Karang Medain sendiri memang lebih sepi dibanding Ramadhan tahun sebelumnya. Hal tersebut terlihat dari jumlah peziarah yang tidak lagi memadati kompleks pekuburan tersebut. Salah seorang penjual bunga di TPU Karang Medain, Linda mengakui hal tersebut.

“Dari kemarin memang agak sepi. Misalnya kita cuma dapat Rp100-150 ribu jualan bunga ini, padahal tahun-tahun sebelumnya kalau (menjelang) puasa bisa sampai Rp500 ribu. Ya, arena covid ini juga,” ujar Linda.

Menurutnya, berkurangnya peziarah tersebut terjadi setahun terakhir. Terutama sejak pandemi Covid-19 masuk ke Kota Mataram. Karena itu, pada Ramadhan kali ini jumlah peziarah terbilang sama dengan hari-hari biasa lainnya. “Saingan juga semakin banyak, karena dikiranya akan ramai. Jadi kalau jualan bunga agak susah juga lakunya,” ujar Linda.

Terpisah, Kabid Tibumtranlinmas Satpol PP Kota Mataram, M. Israk Tantawi Jauhari menyebut pemantauan terhadap ziarah kubur terus dilakukan pihaknya. Mengingat aktivitas tersebut menjadi rutinitas warga Kota Mataram setiap tahunnya.

Hal tersebut menjadi perhatian karena potensi kerumunan yang mungkin ditimbulkan. Terutama di tengah pandemi Covid-19 yang masih berlangsung. “Kita tetap pantau ziarah kubur ini. Di beberapa pekuburan tetap melaksanakan protokol kesehatan dengan menggunakan masker. Sampai sekarang masih aman dan dapat ditoleransi, belum ada kerumunan yang terlalu ramai,” ujarnya kepada Suara NTB, Senin, 12 April 2021.

Pihaknya menjadwalkan pemantauan untuk ziarah kubur akan dilangsungkan sampai hari terakhir menjelang Ramadhan. “Kita juga awasi kawasan pantai bekerja sama dengan pihak Kecamatan dan Kelurahan. Tim dari Pol PP bersama Tim Oprasi Gabungan juga memantau khusus malam hari di Pantai Ampenan,” tandas Aank. (bay)

Advertisementfiling laporan pajak ucapan idul fitri ucapan idul fitri Jasa Pembuatan Website Profesional