Di Tengah Pandemi, Angka Kemiskinan NTB Turun Jadi 14,23 Persen

Persentase penduduk miskin. (Suara NTB/bul)

Mataram (Suara NTB) – Angka kemiksinan di Provinsi NTB menurun pada Maret 2021. Jumlah penduduk miskin pada September 2020 tercatat 746,04 ribu orang (14,23 persen). Pada Maret 2021, jumlah penduduk miskin 746,66 ribu orang (14,14 persen).

“Terlihat adanya penurunan persentase penduduk miskin selama periode September 2020 – Maret 2021 yaitu sebesar 0,09 persen poin. Akan tetapi, nilai ini masih lebih tinggi jika dibandingkan dengan Maret 2020 yang tercatat sebesar 713,89 ribu orang (13,97 persen),’’ sebut Koordinator Fungsi Statistik Sosial Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi NTB, Arrief Chandra Setiawan.

Iklan

Pada Maret 2021, jumlah penduduk miskin di daerah perkotaan tercatat 391,89 ribu orang atau 14,92 persen. Sedangkan penduduk miskin di daerah pedesaan 354,77 ribu orang atau 13,37 persen. Peranan komoditas makanan terhadap Garis Kemiskinan jauh lebih besar dibandingkan peranan komoditas bukan makanan (perumahan, sandang, pendidikan, dan kesehatan).

Ini terjadi baik di perkotaan maupun perdesaan. Pada Maret 2021, sumbangan Garis Kemiskinan Makanan terhadap Garis Kemiskinan sebesar 74,88 persen untuk perkotaan dan 75,50 persen untuk perdesaan. Menurut Arif, pada periode September 2020 – Maret 2021, Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) di NTB mengalami penurunan dari 2,740 pada September 2020 menjadi 2,239 pada Maret 2021.

Ini mengindikasikan bahwa rata-rata pengeluaran penduduk miskin di NTB cenderung mendekat dari Garis Kemiskinan. Kemudian Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) juga mengalami penurunan dari 0,730 pada September 2020 menjadi 0,491 pada Maret 2021. Ini berarti kesenjangan pengeluaran di antara penduduk miskin semakin berkurang.

Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) baik di perkotaan maupun perdesaan mengalami penurunan. Untuk perkotaan, Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) menurun dari 2,847 pada September 2020 menjadi 2,351 pada Maret 2021. Untuk perdesaan, Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) menurun dari 2,636 pada September 2020 menjadi 2,129 pada Maret 2021.

Selanjutnya, Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) untuk perkotaan maupun perdesaan mengalami penurunan. Untuk perkotaan, Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) menurun dari 0,714 pada September 2020 menjadi 0,511 pada Maret 2021. Untuk perdesaan, Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) menurun dari 0,745 pada September 2020 menjadi 0,471 pada Maret 2021.

Arif juga menguatkan, penurunan angka kemiskinan di NTB ini didukung tingkat pengangguran terbuka  pada bulan Februari  2020  turun menjadi 3,04  persen. Pada  Agustus 2021 naik jadi 4,22 persen. Dan keadaannya Februari 2021 turun  legi menjadi 3,97 persen. Demikian juga dengan perekonomian NTB triwulan I 2021 ini sebesar 1,13 persen, menurun dibandingkan dengan keadaan Agustus 2020 sebesar 2,99 persen.

Inflasi juga terkendali 1,89 persen. Inflasi ini tergolong rendah. Kenaikan harga juga tidak terjadi signifikan. Bahkan cenderung harga-harga mengalami penurunan. Sementara keadaan pengangguran karena Covid-19 naik 5,31 persen. Dari Agustus 2020 ke Februari 2021, angka pengangguran 28.000  orang menjadi 23.008 orang. Demikian juga bantuan-bantuan sosial dalam bentuk bantuan tunai dan sembako juga cukup besar turun ke NTB. Realisasinyapun cukup menggembirakan. “Banyak faktor yang membuat angka kemiskinan NTB turun,” ujar Arif.

Pada Maret 2021, tingkat ketimpangan pengeluaran penduduk NTB yang diukur oleh Gini Ratio tercatat sebesar 0,381. Angka ini mengalami penurunan sebesar 0,005 poin jika dibandingkan dengan Gini Ratio September 2020 yang sebesar 0,386. Sementara itu jika dibandingkan dengan Gini Ratio Maret 2020 yang sebesar 0,376, Gini Ratio Maret 2021 naik sebesar 0,005 poin.

Untuk itu, lanjutnya, Gini Ratio di daerah perkotaan pada Maret 2021 tercatat sebesar 0,413 mengalami kenaikan 0,008 poin dibanding dengan Gini Ratio September 2020 dan naik sebesar 0,01 poin dibanding Gini Ratio Maret 2020 yang sebesar 0,403. Gini Ratio di daerah perdesaan pada Maret 2021 tercatat sebesar 0,332, turun 0,004 poin dibanding Gini Ratio September 2020 yang sebesar 0,336. Jika dibandingkan dengan Gini Ratio Maret 2020 nilai ini turun 0,005 poin.

Selanjutnya, pada Maret 2021, distribusi pengeluaran kelompok penduduk 40 persen terbawah adalah sebesar 17,35 persen. Artinya pengeluaran penduduk masih berada pada kategori tingkat ketimpangan rendah. Jika dirinci menurut wilayah, di daerah perkotaan angkanya tercatat sebesar 15,84 persen yang artinya berada pada kategori ketimpangan sedang. Sementara untuk daerah perdesaan, angkanya tercatat sebesar 19,27 persen, yang berarti masuk dalam kategori ketimpangan rendah. (bul)

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional