Di Tengah Moratorium, Uang Kiriman PMI dari Luar Negeri Rp394,5 Miliar Masuk NTB

Abri Danar Prabawa (Suara NTB/bul)

Mataram (Suara NTB) – Moratorium (penyetopan sementara) pengiriman TKI atau PMI (Pekerja Migrant Indonesia) masih diberlakukan. Baik ke negara-negara Timur Tengah, juga ke Malaysia. Namun menjadi berbanding terbalik, jika melihat jumlah uang kiriman dari luar negeri terus mengalami peningkatan.

Bahkan di tahun 2021 dibandingkan dengan tahun 2020 lalu, berdasarkan catatan BP2MI (Badan Perlindungan Pekerja Migrant Indonesia) Provinsi NTB di Mataram, per 30 November 2021, kiriman uang dari luar negeri (remitansi) yang masuk ke NTB sebsar Rp394.502.097.510,93. Sementara tahun 2020 lalu, total remitansi yang masuk ke NTB sebesar Rp307.701.349.900,73. Naik sebesar 28,21 persen.

Iklan

Kepala BP2MI Mataram, Abri Danar Prawaba dalam diskusi dengan media di kantornya, Kamis (13/1) kemarin mengaku heran, negara-negara yang menjadi tujuan pavorit tenaga kerja asal NTB sampai saat ini masih ditutup sementara. Misalnya ke Arab Saudi, demikian juga dengan Malaysia yang masih menutup pintu masuk bagi pekerja asing setelah pandemi COVID-19.

Kok bisa naik remitansi. Padahal masih moratorium,” tanya Abri.

Pertanyaannya ini mengarah kepada kemungkinan besar masih adanya pemberangkatan pekerja NTB ke luar negeri secara tidak prosedural (illegal). Padahal, bekerja keluar negeri tanpa prosedur pemerintah akan sangat berisiko. Contoh kasus, pada Desember 2021 lalu, terjadi beberapa tragedy tenggelamnya kapal penyeberangan pekerja illegal Indonesia ke Malaysia. Puluhan nyawa melayang sia-sia. Niat dari rumah untuk berangkat mencari rizki, justru nahas. Nyawa melayang.

Abri mengatakan, bekerja keluar negeri harus menggunakan jalur legal yang disiapkan pemerintah. sehingga jika terjadi apa – apa. Maka risikonya bisa dialihkan. Misalnya, mendapat asuransi, baik asuransi kecelakaan, maupun kematian. Kemudian negara bisa memberikan perlindungan dan pengawasan lebih optimal.

“Kalau bekerja ke luar negeri secara ilegal, risiko menjadi tanggung sendiri,” ujarnya.

Abri menambahkan soal remitansi. Bahwa uang-uang yang masuk dari luar negeri sebagian besar berasal dari Timur Tengah. BP2MI menggunakan data uang masuk dari Bank Indonesia. Padahal, jika dilihat historisnya, Malaysia adalah negara tujuan bekerja masyarakat NTB sebagian besarnya.

“Saya juga heran, padahal Malaysia ini adalah tujuan utama pergi bekerja masyarakat NTB, tapi kok uang yang masuk kebanyakan dari Timur Tengah,” ujarnya.

Karena itu, ia sedang berkoordinasi dengan PT. POS di Mataram. Untuk mengidentifikasi uang masuk melalui western union.

Pada bagian lain, Abri juga meminta kepada pihak perbankan yang selama ini menampung kiriman PMI dari luar negeri. Agar memberikan kontribusi balik kepada keluarga-keluarga PMI untuk diberdayakan.

“Jangan terima uang PMI saja dong. Berterimakasih juga. Caranya berdayakan keluarga PMI ini untuk mengelola uang kiriman dari luar negeri menjadi produktif. Ajari mengembangkan modalnya menjadi usaha. Agar tidak menjadi PMI terus. Jangan hanya nampung uang yang begitu besar itu saja,” demikian Abri.(bul)

Advertisement