Di Sejumlah Apotek Oksigen dan Obat Covid-19 Menipis

Kegiatan di Apotek Ridho Ilahi Farma. (Suara NTB/bul)

Mataram (Suara NTB) – Stok oksigen di distributor kosong, demikian juga obat-obatan yang biasanya digunakan untuk penanganan Covid-19, juga kosong. Karena tingginya permintaan. Kondisi ini terjadi sejak beberapa waktu terakhir, ketika disebut-sebut angka Covid-19 terus meningkat.

Apalagi Indonesia memberlakukan PPKM darurat untuk Pulau Jawa dan Bali. Suara NTB melakukan pemantauan, per Rabu, 7 Juli 2021. Vita, dari PT. Ridho Ilahi Farma, distributor alat-alat kesehatan dan obat-obatan menjelaskan, stok oksigen saat ini kosong. Kesulitan ini dimulai sejak Bulan April 2021. Ia biasanya mendatangkan dari Surabaya, oksigen plus tabungnya.

Iklan

“Sekarang kosong. Kita pesen sudah tidak ada,” kata Vita, kepada Suara NTB. Ridho Ilahi Farma menjadi suplayer obat-obatan, alat-alat kesehatan. Untuk oksigen, biasanya permintaan datang dari rumah sakit, dan fasilitas kesehatan di Lombok. Sebelum-sebelumnya, menurut Vita, tidak susah mendapatkan pesanan. Sekali pesan, biasanya sampai seratus tabung. Ukuran bervaririasi, antara 1 meter kubik, 1,5 meter kubik, 2 meter kubik, hingga 6 meter kubik.

“Kalau sekarang tidak ada sama sekali stok. Kalau ada yang minta, saya kasitau, sedang tidak ada,” jelas Vita. Sementara untuk obat-obatan, Vita mengatakan, ketersdiaannya untuk obat-obat generik ada. Permintaan juga mengalami kenaikan. “Tapi untuk obat covid memang tidak ada. Kami memang melakukan penyesuaian harga juga, tapi tidak terlalu signifikan,” imbuhnya.

Vita juga menegaskan, sampai saat ini tidak ada penarikan obat-obatan atau suplemen untuk meningkatkan antibodi oleh produsen untuk memenuhi permintaan di Pulau Jawa. Katanya, tidak terjadi hal itu. Sejauh ini permintaan obat-obatan dan suplemen masih bisa dipenuhi. Namun untuk sepekan ke depan, tidak dapat diprediksi.

Sementara itu, Daman Bagian Pengadaan di Apotek Catur Warga mengatakan, sudah seminggu terakhir obat-obatan yang biasanya digunakan untuk menangani penderita Covid-19 kosong. Beberapa jenisnya tidak bisa lagi dipesan. Demikian juga suplemen untuk meningkatkan daya tahan tubuh, juga kosong. Apalagi setelah diberlakukannya PPKM Darurat oleh pemerintah, stok obat dan suplemen limit.

Permintaan obat-obatan dan suplemen untuk meningkatkan daya tahan tubuh menurutnya permintaannya cukup tinggi di Apotek Catur Warga. Mencapai 75 persen. Kendati demikian, Daman menegaskan, apotek tidak menaikkan harga. Sementara Cipto, dari Apotek Duta Sehat, permintaan obat beberapa waktu terakhir masih seperti biasa. Kecuali untuk suplemen terjadi lonjakan permintaan.

Misalnya vitamin C, vitamin B Komplek. Untuk obat-obatan Covid-19, menurutnya tidak disediakan di apotek-apotek dan hanya tersedia di rumah sakit yang menangani Covid-19. “Kalau obat covid di luar susah dapatnya,” katanya. Tidak ada penarikan obat-obatan, atau suplemen oleh produsen untuk dijual di Pulau Jawa. Kecuali yang ditarik adalah invermectin 12.

BPOM merekomendasikan penarikan dari peredaran. Cipto menambahkan, permintaan vitamin memang tinggi. Namun tidak setinggi ketika awal-awal Covid-19 menghebohkan. Demikian juga untuk harga obat-obatan dan vitamin, apoteknya tidak menaikkan. Terakhir, Dewi, pemilik apotek Dewi mengatakan, obat-obat untuk penanganan Covid-19 sedang kosong. Yang tersedia adalah suplemen – suplemen untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Itupun terbatas.

Dewi mengatakan, kondisi ini terjadi sejak Bulan Juli 2021 ini, bulan sebelumnya, stok obat-obatan atau suplemen tidak terganggu. Sejak pemerintah mengumumkan PPKM Darurat, memang terjadi kenaikan permintaan suplemen. Untuk obat-obat tertentu penanganan Covid-19, tidak juga bisa sembarangan karena harus menggunakan resep dokter.

Apalagi obat-obatan untuk Covid-19 hanya diprioritaskan kepada rumah sakit dan klinik yang menangani pasien Covid-19. Dewi mengatakan, secara umum ketersediaan suplemen sedang limit. Dari distributor, permintaan juga sangat dibatasi. Biasanya dalam seminggu misalnya dipesan 10 box, distributor hanya memenuhi pesanannya maksimal 8 box. Meski begitu, harga tidak mengalami kenaikan. Kecuali , kata Dewi, jika harga dinaikkan dari tingkat distributor.

“Penjualan masih menggunakan harga yang biasa. Tidak ada perubahan,” demikian Dewi. Sementara itu, Kepala Dinas Perdagangan Provinsi NTB, Drs. H. Fathurrahman dihubungi terpisah mengatakan, sudah membahas kondisi di lapangan ini dengan stakeholders. Selanjutnya, Pemprov NTB juga akan menyampaikan ke Kementerian Perdagangan untuk langkah-langkah strategis agar ketersediaan obat-obatan dan oksigen tetap ada. (bul)

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional