Di NTB, Proses Persalinan di Faskes Belum 100 Persen

Nurhandini Eka Dewi (Suara NTB/dok)

Mataram (Suara NTB) – Hingga saat ini proses persalinan di Provinsi NTB belum mencapai 100 persen. Berdasarkan data Susenas Maret 2020, persentase perempuan berumur 15- 49 tahun yang melahirkan di fasilitas kesehatan (selain rumah dan lainnya) dalam dua tahun terakhir adalah sebesar 93,16 persen.

Adapun fasilitas kesehatan yang paling banyak dipilih sebagai tempat melakukan persalinan adalah Rumah Sakit (RS) Pemerintah/RS Swasta/RS Ibu dan Anak. Persalinan yang dilakukan di fasilitas kesehatan pada umumnya ditangani oleh tenaga kesehatan. Tenaga kesehatan terlatih yang membantu persalinan bisa dari dokter (kandungan dan umum), bidan, atau perawat.

Iklan

“Untuk mendekati 100 persen dilakukan beberapa upaya seperti mendekatkan pelayanan ke masyarakat dengan membuat Setiap desa ada polindes atau bidan,” kata Asisten III Setda Provinsi NTB dr. Nurhandini Eka Dewi, Sp.A, MPH kepada Suara NTB Senin, 3 Januari 2022.

Selain mendekatkan pelayanan ke masyarakat, Pemprov NTB berupaya melakukan pendekatan kepada pada ibu-ibu hamil dan membuat perencanaan persalinanan. Sehingga sejak awal ibu atau keluarga sudah mempunyai rencana akan bersalin di mana. Dan untuk yang berisiko tinggi sudah diinfokan bahwa yang bersangkutan harus melahirkan di sarana rujukan atau Rumah Sakit.

Terkait dengan alasan atau kendala yang membuat masih adanya proses persalinan di luar faskes, dr Eka memberikan beberapa gambaran. Misalnya saat  musim hujan, sering ada hambatan ke faskes terutama di desa yang belum memiliki ambulan desa.”Saat ini keberadaan dukun bersalin bukan sebagai penolong persalinan, tetapi sebaga mitra bidan dalam penjangkauan pasien,” terangnya.

Saat ini faskes desa sudah ada hampir di seluruh desa di NTB dengan jarak terjauh 2,5 km. Namun untuk mendekatkan pelayan, dilakukan melalui Posyandu Keluarga dan Puskesmas Keliling.

Berdasarkan data Susenas Maret 2020, sasaran strategis Kementerian Kesehatan periode 2020-2024 tentang persentase persalinan di fasilitas pelayanan kesehatan adalah 95 persen. Mayoritas ibu yang melahirkan dalam dua tahun terakhir ditolong oleh bidan sebesar 71,08 persen, dan dokter kandungan sebanyak 25,14 persen.

Persalinan tanpa bantuan dari tenaga kesehatan merupakan suatu hal yang sangat rawan dan dapat menimbulkan kegawatdaruratan obstetrik dan bisa memicu kematian ibu dan bayi. Sementara itu, masih terdapat ibu yang pernah melahirkan dengan dibantu oleh dukun beranak yaitu sebesar 2,37 persen. Persentase tersebut menurun dibanding tahun sebelumnya yang mencapai 2,75 persen.

Berat bayi lahir adalah berat bayi yang ditimbang dalam waktu satu jam pertama setelah lahir. Berat bayi lahir berdasarkan bert badan dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu Bayi Berat Lahir Rendah (berat lahir < 2500 gram), Bayi Berat Lahir Normal (berat lahir > 2500-4000 gram), dan Bayi Berat Lahir Lebih (berat lahir > 4000 gram).

Jika dilihat dari berat badan bayi yang baru dilahirkan selama dua tahun terakhir, 89,07 persen bayi lahir dengan berat normal yakni diatas 2,5 kilogram sesuai dengan data Susenas tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar bayi mendapat gizi yang cukup saat masih di dalam kandungan ibu.

Kecukupan gizi bayi saat dalam kandungan merupakan hal yang penting agar bayi dapat lahir dengan normal dan sehat, serta juga meminimalisir penyebab stunting. Akan tetapi, masih terdapat 0,82 persen bayi yang tidak ditimbang ketika baru lahir. Hal ini dapat terjadi karena ibu melahirkan bukan di fasilitas kesehatan atau tidak dibantu oleh tenaga kesehatan.

Salah satu sasaran dalam SDGs adalah pengurangan angka kematian ibu. Pemerintah berupaya mengurangi kematian ibu dengan mendorong masyarakat untuk melakukan persalinan di fasilitas kesehatan didampingi oleh tenaga kesehatan yang berkompeten. Fasilitas kesehatan telah dilengkapi dengan peralatan medis yang memadai dan standar perawatan yang baik.(ris)

Advertisement