Di Forum ASAFF, HBY Sebut Fokus Jadi Kunci Sukses Keberhasilan Membangun

Bambang M. Yasin

Jakarta (Suara NTB) – Bupati Dompu, Drs H Bambang M Yasin dinilai berhasil merubah pola pikir masyarakat Dompu yang dipimpinnya dan berani memilih komoditas sesuai ekosistem lokal yang dikerjakan secara fokus berhasil memajukan daerahnya. Keberanian ini juga harus dilakukan pemerintah, karena tidak mungkin semua urusan bisa dilakukan secara bersamaan di tengah keterbatasan yang dimiliki.

Iklan

Hal itu disampaikan Prof Dra M. A. Yunita Triwardani Winarto, MS., MSc, Ph.D selaku moderator setelah mendengarkan pemaparan Drs H Bambang M Yasin pada sesi diskusi tentang dimensi sosial politik untuk mencapai ketahanan pangan dan pengembangan pertanian di pedesaan pada forum pertanian dan pangan Asia (ASAFF) 2018.

Kegiatan yang dihadiri 6 Negara yaitu Iran, India, Teto Taiwan, Malaisia, Singapura, Timour Leste dari 20 Negara yang direncanakan ini juga dihadiri oleh Presiden urusan pangan dunia (FAO – PBB) untuk wilayah Indonesia dan Timour Leste. Pada sesi yang sama dengan Bupati sebagai pembicaradi Jakarta Convention Center (JCC) Jakarta, Kamis, 29 Juni 2018 hadir Prof Dr Ir Ambo Tuwo, DEA dari UNHAS Makasar soal pangan dari laut, Prof Dr Ir Eni Harmayani, M.Sc dari Universitas Gajah Mada soal pangan lokal.

Profesor Antropologi dari Universitas Indonesia ini langsung menyampaikan apresiasinya setelah mendengarkan sendiri pemaran Drs H Bambang M Yasin di hadapan peserta diskusi forum ASAFF terkait cerita sukses pembangunan Dompu dengan program jagungnya. “Kami sangat mengapresiasi karena mendengar sendiri dari pelaku,” kata Prof Dra M. A. Yunita.

Bupati Dompu, Drs H Bambang M Yasin menjadi salah satu pembicara utama yang mendapat sambutan antusias dari peserta karena sebagai pelaku dan satu – satunya dari pemerintah daerah (Pemda), Kamis, 29 Juni 2018.

Kesuksesan Kabupaten Dompu dinilai karena keberanian Bupatinya memilih komoditas sesuai ekosistem lokal dan tidak putus asa ketika ada tantangan serta hambatan yang terjadi. “Di situ ketekunan, keteguhan dari bapak Bupati mencari cara,” katanya.

Tidak hanya bisa mensejahterakan masyarakat dengan program jagungnya, tapi juga berhasil merubah mindset rakyat. “Ini, mengubah mindset ini sangat penting. Kalau tidak, bagaimana mengangkat kesejahteraan petani,” tambah profesor Yunita.

Drs H Bambang M Yasin menjadi satu – satunya kepala daerah yang menjadi pembicara di forum Internasional ASAFF dengan keynote speaker Jendral TNI (Purn) Dr. Moeldoko, S.IP. Sehingga pengalaman membangun Kabupaten Dompu yang disampaikan H Bambang M Yasin, mendapat apresiasi dari para peserta dan tamu undangan.

Bupati Dompu, Drs H Bambang M Yasin dalam pemaparannya menegaskan, bisnis jagung di Dompu berhasil membuat rakyat sejahtera. Dari sebelumnya selalu terbelakang di NTB, kini sudah menjadi pemilik pendapatan perkapita tertitinggi di NTB, warga miskin terendah dengan rata – rata penurunan 1,2 persen per tahun.

Memilih komoditas jagung untuk dikembangkan dan ditanam massal bukan tanpa alasan. Di Dompu masih cukup tersedia lahan tadah hujan dan belum termanfaatkan. Masyarakatnya juga sudah terbiasa menanam jagung, tapi volumenya masih terbatas. Kemudian gerakan menanam jagung ini bukan tanpa resiko.

Sebagai gerakan yang melibatkan warga yang banyak dan lahan yang luas. Apalagi komoditas jagung ini membutuhkan pupuk yang cukup dan tepat waktu serta pengolahan pasca panen dan pasar. Ia pun selalu dicari ketika pupuk terbatas dan harga jagung yang anjlok. Tapi tidak membuatnya mundur, karena mengetahui apa yang dilakukan ada manfaatnya. “Sebenarnya hal yang sangat penting di sini, keberanian Bupati (pemimpin) memilih komoditas. Saya tahu apa yang saya lakukan ini, akan ada manfaatnya. Saya maju apapun resikonya. Pertanyaannya, berapa banyak Bupati yang mau seperti itu,” tanya H Bambang.

Selama ini, banyak hal yang dilakukan dan tidak ada yang tuntas. Di Dompu, jagung menjadi fenomenal karena diurus tuntas dari A ke Z. Mulai menentukan dan pengolahan lahan, pemilihan bibit serta jenis jagung, dan sebagainya dilakukan secara tuntas hingga kemudian sukses. “Ini sebenarnya, sesuatu yang menjadi idialisme kita sebagai warga Negara. Bahwa kita ingin orang – orang di sekitar kita bisa makan disaat dia lapar, bisa pergi disaat mereka mau pergi. Itu intinya,” jawabnya saat ditanya motivasi menanam jagung oleh peserta.

Urusan jagung kini sudah tertangani dengan baik, baik dari kontinuitas (kelanjutan produk), kuantitas (besaran jumlah), dan kualitas (mutu). Namun kedepan dan saat ini terus didorong kreatifitas. Karena program jagung ini, tidak ingin hanya menjual dalam bentuk pipilan. Tapi suatu saat dijual dalam bentuk olahan. Gerakan jagung juga tidak sampai mengganggu komoditas pertanian lain seperti lahan padi dan Dompu tetap mengalami surplus produksi setiap tahunnya. “Ibarat rantai. Tidak ada satu mata rantai yang terlewatkan,” katanya.

Tidak hanya itu, kesuksesan program jagung juga karena keberhasilan merubah pola pikir masyarakat dan petani. Ketika jagung ingin baik hasilnya, harus dipupuk tepat waktu, tepat volume dan petani mengupayakannya dengan segala cara. Benih bantuan pemerintah, ketika tidak sesuai favorit petani akan ditolak dan dibeli sendiri. Ketika tidak kebagian pupuk subsidi, akan dibeli pupuk industri. “Mengubah mainset, merubah pola pikir masyarakat, mengubah perilaku masyarakat dan ini baru bisa dilakukan apabila ada contoh, keteladanan para pemimpin, bukan hanya ngomong saja,” terangnya.

Ia pun menegaskan, kenapa Negara terus berkutat pada masalah yang sama dari tahun ke tahun karena takut memilih. Indonesia tidak pernah berani memilih. Masalah import beras, kini bukan saatnya untuk dilawan. Namun tugas pemerintah mencari produk lain untuk mengimbangi import dengan eksport. “Indonesia harus berani memilih beberapa komoditas saja, terus kita urus dengan benar. Kalau kita pilih jagung, daerah mana yang sesuai dengan ini supaya kita bisa menghasilkan jagung sebanyak – banyaknya, kalau perlu kita kalahkan Amerika. Kita eksport jagung ke Amerika. Jagi konsepnya harus saling mengimbangi, saling melawan. Bukannya melarang, bukannya menghentikan,” tegas H Bambang. (ula/*)