Di Daerah Terpencil, Internet Gratis Sulit Dimanfaatkan Maksimal

Lalu Basuki Rahman (Suara NTB/ron)

Mataram (Suara NTB) –  Pemberian bantuan paket internet gratis bagi siswa oleh pemerintah pusat disambut baik banyak pihak. Namun, bantuan internet gratis itu bakal sulit dimanfaatkan oleh siswa yang berada di daerah terpencil.

Kepala Kantor Cabang Dinas (KCD) Dikbud NTB, Kabupaten Lombok Utara (KLU), Dr. Lalu Basuki Rahman pada Jumat, 25 September 2020 mengatakan, pemberian internet gratis bagi siswa dan guru di daerah Kabupaten Lombok Utara bisa maksimal dimanfaatkan hanya di daerah tertentu seperti perkotaan. Namun, daerah pegunungan dan lembah yang belum ada akses internet, menurutnya pemanfaatan bantuan itu akan tidak maksimal.

Iklan

“Belum lagi ada siswa yang tidak punya ponsel berbasis Android dan laptop. Seperti di SMAN 2 Bayan, 40 persen siswa belum punya ponsel berbasis Android,” ujarnya.

Ia mengakui, sebagian wilayah KLU tidak memiliki akses internet atau blank spot. Hal itu membuat pembelajaran jarak jauh berbasis daring sulit diterapkan. Seperti diberitakan, pemerintah pusat telah mulai menyalurkan bantuan internet gratis. Siswa akan mendapatkan kuota internet gratis sebesar 35 GB setiap bulannya. Sementara guru, dosen, dan mahasiswa memperoleh kuota sebesar 50 GB.

Oleh karena itu, Lalu Basuki Rahman menyampaikan, solusi yang dipilih untuk pembelajaran di daerah terpencil antara lain menggunakan pembelajaran secara luring melalui mekanisme guru kunjung, atau siswa datang ke rumah. Jumlah maksimal siswa ke rumah guru sebanyak 10 orang dengan tetap menerapkan protokol kesehatan.

Ia juga sudah meminta kepada sekolah untuk meminjamkan siswa buku dari perpustakan, dengan masing-masing siswa menerima satu buku per mata pelajaran. “Kami minta sekolah mengosongkan perpustakaan dengan semua buku dipinjamkan ke siswa,” katanya.

Di samping itu, pelibatan  orang tua siswa sangat penting dalam proses Belajar dari Rumah (BDR) saat ini. Hal ini penting karena, pendidikan pertama dan utama di keluarga. “Di KLU saya minta sekolah identifikasi siswa yang bisa mengikuti BDR secara daring dan secara luring. Baru direncanakan pembelajaran, baik secara daring atau pun luring,” katanya.

Selain itu, menurutnya, pihak sekolah harus mengidentifikasi kompetensi dasar yang esensial. Selama pandemi Covid-19 ini, tidak semua kompetensi dasar harus disampaikan.

Sebelumnya, Kepala Dinas Pendidikan Kota Mataram, Drs. H. Lalu Fatwir Uzali, S.Pd., MM., berharap bantuan paket internet gratis segera diberikan. Pihaknya sudah menginstruksikan sekolah menyerahkan nomor ponsel siswa. “Kami berharap paket internet bisa segera hadir di ponsel siswa,” katanya. (ron)