Di Bima, Ahyar-Mori Blusukan dari Pasar Sampai Pelabuhan

Bima (Suara NTB) – Blusukan Ahyar-Mori di Kecamatan Sape dan Lambu di Bima disambut dengan melimpahnya masyarakat di jalan raya yang menantikan kedatangan pasangan Calon Gubernur NTB, TGH. Ahyar Abduh dan Calon Wakil Gubernur NTB, H. Mori Hanafi, SE, M.Comm.

Diawali dengan blusukan ke Pasar Sape sampai pelabuhan dan blusukan ke beberapa desa. Lalu di lanjut dengan pertemuan dialogis terbuka di Gedung Serbaguna Desa Naru Kecamatan Sape, yang dihadiri hingga ribuan simpatisan Ahyar-Mori.

Iklan

Dalam kata sambutannya Ketua Tim Pemenangan Partai Koalisi, Muhamad Aminullah, pada acara pengukuhan tim koalisi partai dan tim teritorial Sape – Lambu menyoroti belum meratanya pembangunan yang dirasakan di daerah Bima, sebagai bagian dari Provinsi NTB.

“Apakah Bima ini bukan bagian dari Nusa Tenggara Barat? Karena tidak meratanya pembangunan antara pulau Lombok dan Sumbawa, maka kami menaruh harapan yang sangat besar agar setelah dilantik akan membangun pulau Sumbawa, terutama Bima, sehingga pembangunan akan lebih merata.”

Dalam sambutan lainnya, Bapak Nurdin Amin dari PDI Perjuangan Kota Bima mengatakan, “Kami sepakat untuk memenangkan pasangan Ahyar – Mori!”.

Dalam pidato politiknya, TGH Ahyar Abduh mengatakan, “Pasangan Ahyar – Mori adalah suatu anugerah, dan anugerah ini turun demi NTB Untuk Semua. Saya berasal dari Barat, Lombok dan Adek saya, Mori Hanafi, berasal dari ujung Timur. Ini bukan melemahkan politik indentitas, tapi kamilah perwakilan dari Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa,” seru Ahyar.

Ia menegaskan, apabila ingin mendapatkan kesukseskan NTB, maka pemimpin tidak boleh meninggalkan salah satu kelompok. Semua kelompok masyarakat haruslah diikutsertakan dan mendapatkan perhatian yang proporsional.

“Jangan pernah tinggalkan Mbojo. Prasarana dan pendidikan meliputi kesejahteraan guru terutama guru tidak tetap, ketersediaan tenaga kerja untuk menyediakan lapangan pekerjaan masyarakat khususnya di Bima merupakan prioritas kami,” tegas politisi Partai Golkar ini.

Ahyar menegaskan, dalam membangun kebijakan yang menyentuh semua kalangan, Ahyar-Mori sudah memiliki pengalaman. Ahyar merupakan Walikota Mataram selama dua periode. Selama memimpin Kota Mataram, Ahyar telah menjadi Walikota dari sebuah ibukota Provinsi yang plural.

Masyarakat Kota Mataram, merupakan miniatur dari Provinsi NTB. Masyarakat Kota Mataram hidup berdampingan dengan begitu banyak perbedaan. Berbagai etnis di NTB, hidup dengan harmonis di Kota Mataram. Mulai dari etnis besar seperti Sasak, Sumbawa dan Mbojo, Hindu, hingga etnis – etnis lainnya.

Selama dua periode sebagai Walikota Mataram, Ahyar tentunya memiliki pengalaman dalam mengelola pluralitas di sebuah kota yang cukup dinamis. Berbekal iklim yang harmonis tersebut, tak heran jika saat ini perekonomian Kota Mataram tumbuh dengan cukup menggembirakan. Pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru terus bermunculan di ibukota provinsi NTB ini.

Sikap Ahyar Abduh yang memilih Mori Hanafi, menurutnya juga dilatarbelakangi pertimbangan untuk membangun kekuatan politik yang mempersatukan, dan bukan memecah belah. Selain itu, pilihan untuk menggandeng parpol-parpol besar hingga parpol-parpol non kursi, menjadikan Ahyar-Mori sebagai gerbong politik yang kapasitasnya paling besar di atas kertas.

Yang lebih mengagumkan adalah Ahyar-Mori telah menjadi simbol bersatunya elemen politik nasional yang berbeda kepentingan di Pemilu Presiden 2019.

“Saya tidak salah, tidak keliru dan memiliki keyakinan dari sekian tokoh yang ada di NTB, tapi saya memilih Adik saya H. Mori Hanafi. Oleh karena itu tgl 27 Juni 2018 mari kita pilih bersama-sama No.2. Mari kita satukan suara kita untuk kemenangan Ahyar-Mori!” (tim)

 

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional