Di Atas Kertas, Daging, Telur dan Ayam Surplus

Mataram (Suara NTB) – Diatas kertas, ketersediaan stok daging sapi, telur, dan daging ayam tercatat masih surplus. Jikapun terjadi kenaikan harga, hal itu sudah menjadi mekanisme pasar.

Memasuki bulan suci ramadhan, Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID), termasuk Tim Satgas Pangan gencar melakukan sidak. Memastikan ketersediaan dan stok kebutuhan tercukupi. Selain dalam rangka stabilisasi harga dan pengendalian inflasi.

Iklan

Biasanya, saat hari-hari besar keagamaan, harga-harga kebutuhan cenderung mengalami kenaikan. Terutama untuk kebutuhan pokok, telur, daging sapi dan daging ayam yang disebut-sebut harganya mengalami tren kenaikan.

Bahkan di Pulau Sumbawa sebagai gudang ternak, harga daging mulai dikeluhkan karena mencapai Rp 120.000/Kg, demikian juga telur ayam naik menjadi Rp 1.800/butir.

Daldiri, SPt, M.Si dari Bidang Kesehatan Masyarakat Veteriner (Kesmavet) Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakeswan) Provinsi NTB kemudian mengulas hitung-hitungan pemerintah provinsi.

Untuk ketersediaan daging sapi, stoknya sebesar 10.989 ton. Sementara kebutuhannya sebulan hanya 1.000 ton. Stok sebanyak 10.989 ton ini ketersediaan dari Januari 2018 hingga Mei. Jika dikurangi dengan kebutuhan bulanan, masih tersisa stok sampai 5.000-an ton.

“Kuota pengiriman sapi potong sebanyak 44.000 ekor ke luar daerah pun, baru 10.000 yang keluar. Stok kita tercukupi,” katanya.

Demikian juga daging ayam. Ketersediaan stok sebesar 12.894 ton pada periode yang sama di tahun ini. Sementara kebutuhan sebulan hanya 1.209 ton. Stok daging ayam ini juga terus disuburkan dengan masuknya DOC (Day Old Chick) oleh pengusaha. Stok ini terus menerus dipasok.

Kemudian telur, kebutuhan sebulan hanya 2.176 ton, dengan menghitung kebutuhan ideal perorang 0,45 Kg/kapita/bulan. Sementara produksi telur, pada Februari mencapai 6.135 ton, Maret 3.166 ton, dan April 3.661 ton. Sementara Mei produksi telur sebesar 2.968 ton.

“Kalaupun terjadi kenaikan, sedikit dan sifatnya masih wajar untuk komoditas ini. Dan sifatnya kondisional, tergantung permintaan dan pasar. Tetapi harga acuannya sudah ada,” jelas Daldiri.

Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan menurutnya intens melakukan survei harga di lapangan. Untuk tiga jenis kebutuhan pokok dimaksud.  Demikian juga di tingkat distributor, pemantauan dilakukan untuk menjaga stabilitas harga.

Selain itu, koordinasi juga dilakukan dengan Dinas Perdagangan dalam rangka bersama-sama mengendalikan spekulasi pasar.

“Soal harga, kita tidak bisa intervensi. Yang bisa dilakukan memastikan ketersediaan stok dengan kebutuhan,” demikian Daldiri. (bul)