Dewan Serukan Percepatan Pembangunan Huntara dan Rumah Tinggal

0
Anggota DPRD NTB, M. Hadi Sulthon (Suara NTB/dok)

Mataram (Suara NTB) – Kalangan DPRD NTB menyerukan pemerintah untuk mempercepat pembangunan hunian sementara atau rumah tinggal bagi para korban gempa yang tak lagi memiliki rumah. Upaya ini penting karena korban yang tinggal di pengungsian sangat rentan terkena penyakit.

Hal itu disuarakan Anggota DPRD NTB dari Daerah Pemilihan Kabupaten Lombok Barat dan Lombok Utara, M. Hadi Sulthon, S.Sos, saat dikonfirmasi Suara NTB, Selasa, 9 Oktober 2018.

IKLAN

Sulthon mengingatkan, saat ini sudah banyak korban gempa, terutama di Kabupaten Lombok Barat dan Lombok Utara yang terkena penyakit malaria akibat kondisi yang buruk di pengungsian. “Tentu ini membutuhkan penanganan dari pemerintah. Tapi memang bisa dimaklumi juga warga banyak yang terkena penyakit karena mereka hidup terlalu lama di pengungsian. Mereka masih di tenda,” ujar Sulthon.

Karena itulah, Sulthon menegaskan, pembangunan rumah tinggal, atau setidaknya hunian sementara yang layak dan sehat perlu segera diprioritaskan.

Mengutip data Dinas Kesehatan (Dikes) NTB yang dilansir Suara NTB sebelumnya, Sulthon menyebutkan, saat ini jumlah warga korban gempa di Kecamatan Gunung Sari Lombok Barat yang terserang malaria sudah mencapai 259 orang. Penanganan penyakit malaria yang menyerang ratusan warga ini dilakukan seperti Kejadian Luar Biasa (KLB).

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dikes NTB, Marjito, S.Si, SKM, M. Kes yang dikonfirmasi disela-sela kunjungan Menko Kemaritiman, Luhut Binsar Panjaitan dan Menteri Keuangan, Sri Mulyani di Desa Guntur Macan Lombok Barat, Senin, 8 Oktober 2018 menjelaskan kasusnya sudah mulai menurun sejak akhir September lalu. Namun secara kumulatif, masyarakat yang terserang malaria sudah di atas 350 orang.

Ia menyebutkan data kumulatif masyarakat yang positif malaria sampai saat ini 359 kasus. Mereka ditangani di beberapa Puskesmas. Yakni Puskesmas Gunung Sari 24 kasus, Puskesmas Meninting 53 kasus, Puskesmas Penimbung 259 kasus dan Puskesmas Sigerongan 23 kasus.

‘’Penanganan KLB dilakukan. Kita juga lakukan sosialisasi, membagikan kelambu. Barusan datang kelambu sekitar 1000 lembar. Kita akan bagikan gratis,’’ ujarnya.

Marjito menyebutkan, sebanyak 2.500 kelambu sudah dibagikan ke masyarakat yang berada di daerah-daerah yang endemis malaria. Untuk mencegah semakin banyaknya masyarakat yang terserang malaria, pihaknya melakukan penyuluhan kesehatan. Selain melakukan penyemprotan terhadap daerah-daerah yang disinyalir tempat nyamuk pembawa penyakit malaria, masyarakat diharapkan hidup bersih dan sehat. “Daerah radius 100 meter harus kita pastikan untuk memutus mata rantai penyebarannya,” katanya.

Di lokasi yang sama, Camat Gunungsari, H. Rusni, S.Sos menjelaskan untuk penanganan masyarakat yang terserang di Kecamatan Gunung Sari dilakukan di dua puskesmas. Yakni Puskesmas Gunungsari dan Penimbung. Penderita malaria yang paling banyak ditangani di Puskesmas Penimbung.

‘’Upaya-upaya yang dilakukan mencegah paling penting PSN (Penyemperotan Sarang Nyamuk). Itu sudah dilakukan,’’ katanya.

Rusni mengatakan, pihaknya juga sudah menindaklanjuti instruksi Bupati Lombok Barat (Lobar) agar di setiap desa dilakukan PSN. Untuk penanganan wabah malaria ini, pihaknya juga membentuk tim untuk merumuskan langkah-langkah penanganan jangka pendek dan panjang yang akan dilakukan.

‘’Kalau sekarang PSN ini. Stop malaria, melalui gerakan Jumat  Bersih. Tapi memang sementara ini lumayan. Apalagi dalam situasi kita dapat musibah dan ini terjadi di lokasi pengungsian,’’ katanya. (aan)