Dewan Minta Baznas Fokus pada Fakir Miskin

Pertemuan dengan Baznas-Komisi II DPRD Lotim, Selasa, 27 Juli 2021. (Suara NTB/rus)

Selong (Suara NTB) – Komisi II DPRD Lombok Timur (Lotim) meminta Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) mengevaluasi programnya. Santunan kepada para Aparatur Sipil Negara (ASN) disebut telah menimbulkan gejolak. Hati masyarakat fakir dan miskin makin pedih. Dewan meminta Baznas lebih fokus kepada fakir miskin.

Demikian disampaikan Sekretaris Komisi II DPRD Lotim, Lalu Wildan Dzikrullah saat pertemuan dengan jajaran Baznas Lotim di gedung DPRD Lotim, Selasa, 27 Juli 2021.

Iklan

Disampaikan, ketika ada perintah penyaluran dari pimpinan hendaknya dilakukan pengkajian terlebih dahulu. “Ini terkait hukum, sebelum dilaksanakan harus dilihat dan kaji dulu bagaimana efeknya,” tegasnya.

H. Suminggah, anggota Komisi II DPRD Lotim lainnya meminta juga kepada Baznas agar lebih maksimal menyentuh masyarakat yang benar-benar membutuhkan bantuan. Bantuan hendaknya sesuai dengan kebutuhan. Sebelum direalisasikan disarankan juga untuk mengecek langsung ke tengah masyarakat.

 Baznas Lotim melalui Sekretaris Baznas Lotim, Abdul Hayyi Zakaria di depan para wakil rakyat Lotim ini menjelaskan, penyaluran dana zakat kepada para ASN yang terlilit utang sudah lama diwacanakan. Dituturkan, tahun 2020 lalu pernah ada pertemuan bupati  dengan jajaran guru. Bupati dengan tegas meminta agar seluruh ASN mengeluarkan zakatnya.

Bupati kemudian ditanya bagaimana dengan ASN terlilit utang? Dijawab Bupati, akan ada jalur zakat bagi ASN yang terlilit utang tersebut. Sesuai dengan dalil hukum zakat, ada kategori gharimin atau orang yang terlilit utang.

Pemberian ke ASN yang berutang itu pun katanya hanya insidentil. Pemberiannya sebatas untuk membantu selesaikan masalah ASN yang berutang. “Jadi bukan setiap saat, berbeda dengan fakir miskin setiap hari kita berikan,” demikian ucapnya.

Sementara itu, Dewan Syariah Baznas Lotim yang juga Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Lotim, TGH Ishaq Abdul Ghani meminta pemberian ke ASN yang disebut kategori gharimin itu sebaiknya dihentikan. Pemberian zakat kepada orang yang terlilit utang itu diperbolehkan secara hukum. Tapi harus dilihat sebaik-baiknya orangnya.

Menurut TGH Ishaq Abdul Ghani yang terjadi saat ASN diberikan memang muncul persoalan psikologis. Karena ASN itu dianggap berada, sehingga masyarakat berteriak. Namun tegas ke depannya Baznas fokus saja kepada fakir miskin. “Biar pun habis uang zakat itu untuk fakir dan miskin tidak masalah,” sebutnya.

Soal adanya ASN berutang dinilai Ketua MUI Lotim ini karena kecenderungan nafsu lebih besar dari kemampuan. “Kalau kemampuannya rendah jangan beli mobil,” demikian ungkapnya. (rus)

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional