Dewan Dorong Intensitas Posyandu Ternak

Anggota DPRD KLU Hakamah (kanan) saat memeriksa kesehatan pada mata ternak beberapa waktu lalu. (Suara NTB/ist)

Tanjung (Suara NTB) – DPRD Kabupaten Lombok Utara (KLU) mendorong instansi teknis untuk mengintensifkan posyandu ternak, baik sapi, kambing, kuda maupun ayam milik warga. Posyandu itu dianggap penting sebab menentukan kualitas kesehatan ternak dan mempengaruhi kembang biak, serta menciptakan kualitas daging yang ASUH (Aman, Sehat, Utuh dan Halal).

“Posyandu Ternak kami anggap belum maksimal, masih banyak kelompok-kelompok Tani-Ternak (KTT) yang belum merasakan pengobatan ternak secara gratis,” ungkap Wakil Ketua Komisi II DPRD KLU, Hakamah, S.KH., A.Md.Agr., Jumat, 21 Februari 2020.

Iklan

Sebelum menjadi Dewan, Hakamah cukup intim dengan aktivitas pendampingan KTT di masyarakat. Ia bahkan tidak ragu membantu warga menyuntik ternak, dari kambing sakit, sapi hingga kuda.

Ia melihat, Pemda perlu mendampingi warga dalam proses kembang biak ternak. Sebab hewan kata dia, imunitasnya sama dengan manusia. Adakalanya ternak mengidap sakit, bahkan tidak sedikit yang mati mendadak.

“Saya ingat di Dusun  Oman Segoar, 7 ekor kambing mati sekaligus. Jadi namanya ternak, dia juga butuh penanganan kesehatan sama seperti manusia,” ujarnya.

Politisi Gerindra ini mencatat, dari populasi  920.000 ekor ternak di Lombok Utara, belum sampai 5 persen ternak yang mendapat Program Posyandu Ternak. Oleh karenanya, instansi teknis perlu menyusun rencana intervensi yang menyasar seluruh kelompok masyarakat.

Berdasarkan pengalamannya di dunia peternakan, Hakamah menyebut Posyandu Ternak perlu dilakukan antara 3-6 bulan sekali. Seluruh ternah tanpa terkecuali harus diberikan imunitas yang mendukung proses perkembangbiakannya.

“Posyandu Ternak juga membantu pemerintah dalam memastikan kondisi kesehatan ternak. Apakah ada antraks atau tidak. Karena mobilitas sapi ini juga tinggi. Hari ini di Sumbawa, besok bisa jadi dimiliki oleh orang KLU,” jelasnya.

Selain posyandu ternak, ia juga mendorong adanya prasarana pendukung di kandang kolektif milik warga. Minimal kata dia, di satu dusun terdapat kandang jepit dan timbangan ternak. Kandang jepit berfungsi untuk membantu proses inseminasi buatan (IB), pemberian vitamin, atau pun pemeriksaan kesehatan hewan. Sedangkan timbangan dapat dimanfaatkan warga untuk mengetahui bobot berat ternak dalam kurun waktu secara priodik.

“Jadi kalau alat-alat ini ada, warga akan terpacu. Mereka tahu sekian bulan bobot beratnya bertambah maksimal apa tidak. Timbangan ini juga membantu masyarakat saat akan menjual ternaknya. Dengan berat sekian, maka harganya bisa ditaksir oleh petani sendiri,” jelasnya. (ari)