Destinasi Wisata Rawan Jadi Tempat Penyebaran Covid-19

Pengendara melintas di depan Taman Wisata Mayura, Sabtu, 24 Oktober 2020. Taman Wisata Mayura merupakan salah satu destinasi wisata di Kota Mataram yang akan diawasi ketat pada libur panjang pekan ini. Pengawasan dilakukan mengantisipasi potensi munculnya klaster baru penyebaran virus corona. (Suara NTB/cem)

Mataram (Suara NTB) – Pemerintah menetapkan cuti bersama pada 28 – 30 Oktober pekan ini. Sejumlah destinasi wisata di Kota Mataram diprediksi akan dipenuhi pengunjung. Jika tidak dilakukan pengawasan ketat terhadap protokol kesehatan, maka objek wisata rawan menjadi tempat penularan virus corona atau Covid-19.

Kepala Dinas Pariwisata Kota Mataram, H. Nizar Denny Cahyadi menerangkan, pengawasan di tiap destinasi wisata telah dikoordinasikan dengan Polresta Mataram untuk mengawasi pengunjung pada libur panjang pekan ini. Pengawasan difokuskan di Pantai Loang Baloq, Pantai Gading, Pantai Mapak, Pantai Batas Senja, Pantai Ampenan serta destinasi wisata lainnya. “Tadi sudah saya koordinasikan langsung dengan Pak Kapolres,” kata Denny ditemui pekan kemarin.

Iklan

Aparat kepolisian akan berjaga di pos pintu masuk destinasi wisata. Pengunjung diwajibkan menggunakan masker. Kendati jaga jarak menjadi yang riskan akan menjadi tanggungjawab pengelola destinasi dan petugas untuk mengingatkan masyarakat.

Pengawasan di destinasi wisata juga didukung oleh petugas dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Petugas kata Kepala Pelaksana BPBD, Mahfuddin Noor, melakukan patroli rutin di destinasi wisata yang rawan terjadi kerumunan. Pengunjung diwajibkan mengikuti protokol kesehatan. Pihaknya juga mengingatkan masyarakat memperhatikan aspek keselamatan. Pengunjung diimbau tidak bermain di pinggir pantai mengingat cuaca ekstrem terjadi beberapa hari terakhir ini. “Kita akan patroli rutin ke lokasi yang ramai dikunjungi wisatawan,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Trantibum Satuan Polisi Pamong Praja, Aank Tantawi menyebutkan, 30 personel akan dibagi untuk menjaga setiap destinasi wisata. Pengunjung diingatkan untuk mengikuti protokol kesehatan, terutama mengenakan masker. “Kita masih menunggu arahan dari Dispar untuk teknisnya,” kata Aank. Selain pengawasan, pihaknya juga akan melakukan tindakan pendisiplinan bagi warga yang kedapatan tidak menggunakan masker. Sanksi sesuai Perda NTB Nomor 7 Tahun 2020 tentang antisipasi penyakit menular akan diterapkan berupa sanksi denda.

Juru Bicara Tim Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Kota Mataram, Drs. I Nyoman Suwandiasa menyampaikan, Dispar bersama tim gugus tugas sudah membuat skenario mengantisipasi lonjakan di tempat objek wisata di Kota Mataram. Dia mengakui, potensi adanya penularan virus di area wisata. Risiko ini harus diminimalisir, jangan sampai muncul klaster baru. “Kita akan menerapkan protokol kesehatan ketat di sana (objek wisata, red),” tegasnya. Pembatasan atau pelarangan kunjungan di destinasi wisata belum diterapkan.

Akan tetapi, posko statis akan dibuat di tempat wisata dengan menempatkan seluruh stakeholder untuk mengawasi penerapan protokol kesehatan. Pengetatan di pintu masuk Kota Mataram sebagai skenario pengaturan mobilitas wisatawan belum diketahui detailnya. Hal ini coba dikoordinasikan dengan Dispar serta instansi teknis lainnya. (cem)