Destinasi Wisata Ditutup, Walikota Diprotes Pedagang

Pengunjung di Taman Wisata Loang Baloq, Tanjung Karang terlihat sepi, Minggu, 16 Mei 2021. Pedagang maupun pengelola destinasi wisata mengeluhkan kebijakan penutupan karena berdampak terhadap pendapatan mereka. (Suara NTB/cem)

Mataram (Suara NTB) – Walikota Mataram H. Mohan Roliskana mengaku mendapat protes dari pedagang terhadap kebijakan penutupan sementara destinasi wisata di Mataram. Penutupan objek wisata dinilai dalam rangka mencegah dan pengendalian penyebaran coronavirus disease atau Covid-19. “Iya, saya paham soal itu. Saya juga diprotes pedagang,” kata Mohan dikonfirmasi Senin, 17 Mei 2021.

Walikota memahami bahwa pascalebaran maupun menjelang lebaran topat merupakan momen bagi pedagang untuk meraup keuntungan. Objek wisata dipenuhi oleh pengunjung untuk menikmati liburan. Di satu sisi, pemerintah juga perlu mempertimbangkan kondisi pandemi Covid-19 cukup mengkhawatirkan. “Saya paham soal itu. Toh juga masyarakat mau berlibur kan menahan diri,” terangnya.

Iklan

Surat edaran Nomor 443/   /Dispar/2021 tentang pencegahan corona virus diseasae (Covid-19) pada tempat wisata/ hiburan diterbitkan 10 Mei 2021 pekan kemarin. Dalam edaran itu empat poin yang diatur. Di antaranya, melakukan penutupan sementara seluruh tempat wisata. Kedua, penutupan destinasi sementara terhitung mulai 12 – 20 Mei. Ketiga, pemberlakuan penutupan sementara tempat wisata dan hiburan diminta dilaksanakan sebaik – baiknya. Dan, terakhir efektivitas penegakan kebijakan tersebut, penjagaan dan pengawasan pada area wisata akan dilaksanakan oleh tim gugus tugas penanganan Covid-19.

Karena itu, pedagang diminta memahami kebijakan tersebut. Kebijakan itu semata – mata demi kesehatan dan pencegahan penularan virus corona.

Kebijakan penutupan destinasi wisata dirasakan dampaknya oleh pengelola Taman Wisata Loang Baloq. Hafifi menuturkan, saat libur lebaran biasanya mendapatkan banyak pemasukan dari tiket dan parkir. Sejak diberlakukan penutupan destinasi wisata penghasilan menurun drastis. “Hari ini saja baru dapat Rp40 ribu. Biasanya, bisa dapat Rp300 ribu – Rp400 ribu per hari,” tuturnya.

Dia memahami kebijakan pemerintah tersebut demi memutus mata rantai penularan virus corona. Di satu sisi, dampaknya dirasakan oleh pengelola maupun pedagang yang berada di seputaran destinasi wisata. (cem)

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional