Desa Wisata Poto Siap Kembangkan Motif Tenun Baru

Salah seorang penenun tradisional Poto tengah mempraktikkan cara menenun.(Suara NTB/ist)

Sumbawa Besar (Suara NTB) – Sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat (PkM) Fakultas Teknobiologi UTS  bersama Asia Coatings Enterproses (ACE) melakukan workshop pelatihan pembuatan tenun dengan pengembangan motif berdasarakan SDA endemik sumbawa diantaranya adalah Hiu Paus. Kegiatan PkM yang dilaksanakan di Dusun Semeri yang oleh Kementerian Perindustrian RI tahun 2016 dijadikan Sentra Tenun Nesek Sumbawa. Kegiatan ini sekaligus untuk mempromosikan tenun dan pengembangan motif tenun.

Dekan Fakultas Teknobiologi Izzul Islam, M. Sc. Eng menyampaikan bahwa tujuan kegiatan ini memberikan gambaran ide untuk pengembangan motif tenun dengan tidak menghilangkan motif sakral yang telah ada. “Motif baru ini hanya penambahan yang disesuaian dengan sumber daya alam endemik sumbawa yang harus kita ekspose. ini juga menjadi bagian dari edukasi agar masyarakat juga ikut menjaga SDA endemik karena merupakan bagian yang tertuang dalam budayanya dalam bentuk tenun,” tuturnya.

Iklan

Kegiatan ini juga rangkaian kegiatan workshop di tiga desa tujuan, yaitu Labuhan Jambu dengan tema gantungan kunci imajinatif hiu paus, dusun Prajak dengan tema pewarna mangrove alami dan terakhir desa Poto dengan tema pengembangan motif tenun hiu paus. Melalui kegiatan ini diharapkan munculnya kemitraan strategis melalui sinergi desa sesuai dengan potensinya. Untuk membangun desa wisata berbasis ilmiah dan lingkungan. “Luarannya, Hiu Paus yang menjadi Icon di Desa Labuhan Jambu, menjadi pengembangan motif tambahan tenun di Desa Poto yang benang kainnya berasal dari pewarna alami yang diproduksi oleh Dusun Prajak,” jelas Izzul.

Kepala Desa Poto Fathul Muin, S.P beserta Anggota Asosiasi Penenun Tradisional Samawa (APDISA) menyambut baik kegitan ini dan mengapresiasi inisiasi yang dilakukan oleh Fakultas teknobiologi UTS untuk mengembangkan dan memajukan tenun Sumbawa. Fathul Muin Berharap dengan kegiatan ini tenun khas sumbawa bisa lebih dikenal dan pengembangan motif tambahan bisa lebih beragam lagi.

“Sebagai warga Poto kami sangat senang dengan kegiatan ini. Sebab memberikan pandangan baru bagi pelaku seni tenun agar bisa lebih inovatif. Tenun sumbawa adalah kekayaan kita bersama jadi eksistensinya harus kita jaga salahsatunya dengan inovasi,” tambah Ketua PKK desa Poto, Nurhayati.

Diketahui, kain tenun Sumbawa dikenal juga dengan nama Kre’ Sesek atau Kre’ Alang (Kre: Kain, Alang: Rumah Panggung Bertingkat). Kre’ Alang digambarkan dengan motif bercorak padat sekitar 4 hingga 5 motif dalam setiap helainya. Beberapa motif Kre’ Alang Sumbawa diantaranya Lonto Engal, Gelampok, Kemang Setange, Pusuk Rebong, Ular Naga, Slimpat dan Pio. Hingga saat ini, Kabupaten Sumbawa sudah memiliki sekitar 200 penenun yang tersebar di beberapa kecamatan. Prosesi sakral dalam pembuatan tenun Sumbawa masih dipertahankan oleh para penenun tradisional saat ini, khususnya di desa Poto. (arn)

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional