Desa Pesanggarahan Sanggup Tak Diberikan ADD Asalkan Diberikan Kelola Wisata Otak Kokok Joben

Kades Pesanggrahan,  Badrun (Suara NTB/rus)

Selong (Suara NTB) – Keberadaan objek Wisata Otak Kokok Joben dinilai bisa menjadi salah satu sumber anggaran yang besar untuk pembangunan. Desa Pesanggrahan Kecamatan Montong Gading yang selalu ramai dikunjungi ini sanggup tidak diberikan Alokasi Dana Desa (ADD), asalkan diberikan hak pengelolaan objek wisata air terjun yang dipercaya mengandung obat tersebut.

Hal ini diungkapkan Kepala Desa Pesanggrahan, Badrun saat ditemui Rabu,  26 Juni 2019. Pensiunan TNI Angkatan Darat ini mengaku sangat berharap bisa mengelola objek wisata Otak Kokok Joben sebagai sumber pendapatannya.

Iklan

Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) yang dimiliki Desa Pesanggrahan saat ini telah mempersiapkan proposal penawaran ke Bupati Lotim. Pengelolaan melalui BUMDes Pesanggrahan diyakini akan lebih mengena dan bisa meningkatkan pendapatan desa.

Para pekerjanya tentunya adalah warga sekitar. Diakui, khusus kawasan parkir wilayah desa Pringgajurang Utara. Terhadap hal ini, katanya bisa dibicarakan dengan membangun kerjasama antar desa dalam pengelolaannya.

“Kalau dikelola BUMDes, maka akan hadirkan kreativitas berupa kuliner, pasar hasil kerajinan dan produk-produk lokal lainnya,” ungkapnya.

Sesuai Peraturan Daerah, BUMDes pun siap memberlakukan biaya karcis masuk Rp 5 ribu per orang dan parkir Rp 2 ribu.

Artinya, jika diberikan kewenangan, kawasan Joben ini jauh akan lebih tertata. Di mana, ada kelompok sadar wisata (Pokdarwis) turut serta akan dilibatkan.

Adanya objek wisata yang menjadi sumber pendapatan asli daerah ini sebutnya ada ketentuan desa yang ketempatan turut mendapatkan bagian. Sejauh ini belum ada yang diberikan secara langsung dari hasil pengelolaan objek wisata Joben. “Semestinya ada bagian sekian persen ke desa wisata. Tapi sejauh ini tidak diberikan langsung dan ini sudah saya tuntut,” demikian

Diketahui, sebelumnya objek wisata alam yang didamalnya sudah dilengkapi fasilitas kolam renang ini dikelola oleh PT Joben Ever Green. Setahun pengelola swasta itu sanggup memberikan Rp 800 juta kepada pemerintah daerah sebagai pendapatan asli daerah. Saat ini, PT Joben sudah tak lagi mengelola. Hak pengelolaan obyek wisata yang berada bersandingan dengan kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) ini diserahkan kembali ke Dinas Pariwisata Kabupaten Lotim. (rus)