Dermaga Moyo Diusut, Sejumlah Panitia Proyek Diperiksa

Kondisi Dermaga Sebotok di Pulau Moyo pada April 2018 yang belum difungsikan  maksimal. Proyek itu kini diusut Polda NTB. (Suara NTB/ars)

Mataram (Suara NTB) – Polda NTB menyelidiki proyek pembangunan Dermaga Sebotok, Pulau Moyo, Kabupaten Sumbawa. Proyek senilai Rp 8,785 miliar diduga bermasalah, sebab hingga kini belum difungsikan maksimal.

Sejumlah saksi diperiksa. Senin, 11 Maret 2019 kemarin, Pantia Pemeriksa Hasil Pekerjaan (PPHP) dimintai keterangan.

Iklan

Lima panitia pemeriksa fisik proyek diperiksa bersamaan di ruangan Subdit III Tipikor Ditreskrimsus Polda NTB. Setelah beberapa jam diperiksa sejak pagi, saksi diberi kesempatan istirahat dan dilanjutkan mulai Pukul 14.00 Wita. Usai pemeriksaan, tak ada satu pun saksi yang mau memberikan penjelasan. “Tanya ke penyidik saja,” jawab salah satu diantaranya. Ditanya juga, apakah pemeriksaan soal mangkraknya dermaga? “Ndak kok, sudah dipakai,” bantahnya.

Salah satu saksi lain  diketahui bernama Zainal Abidin. Anggota PPHP juga enggan berkomentar. Menurut keluarga yang mengantar, Zainal cukup terkejut dengan pemanggilan  sebagai saksi oleh penyidik itu, karena merasa tidak bertanggung jawab penuh atas pekerjaan itu. Saksi dimutasi di tengah jalan, namun tidak diikuti dengan pencabutan SK PPHP. Zainal yang dimutasi ke daerah terpencil pun tak bisa melanjutkan tugasnya  dan merasa sudah tidak punya kewenangan lagi. Namun panggilan sebagai saksi mengejutkannya.

Dihubungi terpisah soal penyelidikan proyek dermaga itu, Kabid Humas Polda NTB, AKBP Purnama, SIK membenarkan  setelah mendapat informasi dari Subdit III Tipikor. “Tahapannya masih klarifikasi klarifikasi saja,” ujarnya singkat.  Saksi saksi lain seperti rekanan pelaksana, konsultan pengawas dan perencana belum bisa dipastikannya. Intinya, kata dia, penyelidikan masih berjalan, sehingga semua pihak yang terkait akan dipanggil.

Berdasarkan penelusuran Suara NTB pada informasi lelang e-proc, pagu anggaran proyek itu senilai Rp9,6 miliar, bersumber dari Dana Alokasi Khusus (DAK) Kementerian Perhubungan (Kemenhub) RI.  Nilai Harga Perkiraan Sementara (HPS) Rp 9,49 miliar.

Keberadaan dermaga rakyat ini sebenarnya dikeluhkan sejak setahun lalu, karena setelah tuntas dikerjakan, tak kunjung difungsikan maksimal.   Alasannya bangunan belum rampung dan menunggu diresmikan meski sudah habiskan hampir Rp10 miliar.

Suara NTB pada April 2018 lalu pernah melihat langsung kondisi dermaga. Menjulur dari daratan ke arah pantai sepanjang sekitar 200 meter, bentuk leter L. Penunjang hanya berupa tiga besi untuk penambat kapal yang bersandar. Lainnya beberapa tiang listrik. Kiri kanan dermaga yang dekat pantai, berupa sayap  tangga, sementara dimanfaatkan warga untuk bersandar perahu motor (boat), transportasi satu satunya penduduk setempat.

Informasi dari aparat desa setempat, dermaga itu akan jadi penunjang program nasional pengembangan potensi laut dan darat dengan koneksi tiga destinasi dunia, yakni  Saleh Moyo dan Tambora atau disingkat Samota.

Keberadaan dermaga akan memangkas jarak dari Tambora, Calabai, Badas, Moyo. Dalam waktu normal menghabiskan waktu tujuh sampai delapan jam. Dermaga akan terkoneksi dengan titik titik tersebut dengan waktu yang lebih singkat.

Namun disayangkan,   hingga April 2018 lalu,  dermaga belum bisa dimanfaatkan. Sementara hanya dipakai merapat boat yang melayani penyebrangan ke Sumbawa Besar.   (ars)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here