Dermaga Mangkrak di Lotim Disulap Jadi Objek Wisata

OBJEK WISATA BARU - Pantai Selfie atau Tanjoh Desa Tanjung Luar menjadi objek wisata baru yang ramai dikunjungi wisatawan lokal. (Suara NTB/rus)

Selong (Suara NTB) – Dermaga mangkrak Tanjung Luar milik Pemerintah Provinsi. Dibangun tahun 1990 an. Sejak tahun itu, dermaga ini memang beberapa kali dimanfaatkan. Hanya saja, saat angin barat tidak ada kapal yang berani sandar.

Dermaga ini pernah direncanakan sebagai tempat sandar kapal pengangkut Semen Gresik. Namun, rencana tersebut gagal dan belum ada kabar sampai sekarang.

Iklan

Daeng Ihsan Warga Tanjung Luar mengaku dermaga ini sudah lama tak difungsikan membuat pemuda di bawah binaannya ini berinisiatif untuk mengalihfungsikan.  Kini, kawasan dermaga yang berada di pantai Tanjoh Desa Tanjung Luar itu menjadi kawasan objek wisata yang ramai dikunjungi wisatawan.

Sentuhan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Pantai Tanjoh ini menjadikan kawasan ini menjadi salah satu daya tarik baru bagi wisatawan yang cinta swafoto atau selfie.

Pantai ini pun kemudian disebut banyak orang dengan Pantai Selfie. Pengelola membuat beberapa tempat yang menarik dengan view pantai. Beberapa berugak dan warung makan dengan sajian makanan-makanan khas laut tersaji dan siap santap.

Kawasan ini pun dulu terlihat kotor dan jorok. Bangunan dermaga pun sudah mulai rusak. Namun, lambat laun bisa terlihat bersih. Meski dengan ornamen-ornamen bambu, namun kawasan pantai Selfie ini cukup diminati wisatawan.

Wisatawan yang masuk gratis. Cukup dengan membayar biaya parkir. Terlihat Minggu,  28 Oktober 2018, Pantai Selfie ini cukup ramai dengan kehadiran para wisatawan. Dermaga bambu yang dibuat pun sering digunakan untuk sandar perahu-perahu ketinting yang mengantarkan wisatawan ke Pantai Pink.

Inisiatif warga menyulap kawasan tersebut sebagai objek wisata, karena kerap disalahgunakan sebagai tempat berbuat mesum. Warga tidak ingin perilaku buruk tersebut terus terjadi, sehingga kini bisa lebih bermanfaat.  Di dermaga itu juga pernah dipasang alat deteksi tsunami. Namun alat tersebut dirusak oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. ‘’Saat ini, hilang alat tersebut dan trompetnya saja yang tersisa,’’ ujar anggota DPRD Lombok Timur ini.

Karena tempat wisata tersebut semakin ramai, Daeng berharap alat deteksi tsunami itu kembali terpasang agar bisa memberikan informasi awal kepada warga, sehingga bisa siaga bencana.

Pengembangan wisata, kata Daeng memang menjadi salah satu alternatif untuk mencari sumber pendapatan asli daerah (PAD). Apalagi, pemerintah daerah di era kepemimpinan H. M. Sukiman Azmy dan H. Rumaksi diketahui sudah komitmen untuk memajukan sektor pariwisata.

Pemerintah perlu meningkatkan anggaran pariwisata. Selama dua periode menjadi wakil rakyat, selama ini dinilai perhatian terhadap pariwisata masih sangat minim. Menurutnya, ketika anggaran pariwisata di perbesar maka dampaknya akan sangat besar bagi pembangunan Lotim. (rus)