Derita Penderita Kanker di Lobar yang Tinggal di Rumah Kumuh

Giri Menang (Suara NTB) – Di tengah kondisi penyakit kanker ganas yang mendera Papuq Marean warga Dusun Tongkek Desa Kuripan Kecamatan Kuripan hidup di tengah himpitan kemiskinan hingga di usianya memasuki setengah abad. Mirisnya, ibu tiga anak ini tinggal di rumah kumuh terbuat dari bedek yang kondisinya persis kandang ternak. Ia tinggal bersama dua anaknya, satu putri dan satu putra yang sudah dewasa.

Ketika disambangi Ketua TP PKK Lobar, Hj Khairatun Fauzan Khalid bersama tim BPJS Mataram, Senin, 27 Februari 2017,  Papuq Marean sedang berbaring di rumah kerabatnya. Sementara waktu ia menumpang di rumah misannya, lantaran kondisi penyakit kanker yang kian parah. Saat dikunjungi kedua kalinya oleh istri orang nomor satu di Lobar tersebut, Papuq Marean berlinang air mata. Ia tak kuasa menahan haru.

Iklan

Gubuk Papuq Marean berukuran sangat kecil sekitar 2 kali 3 meter. Gubuknya persis berada di pinggir saluran, nempel dengan rumah kerabatnya yang juga tak layak huni. Atapnya terbuat dari asbes, begitupula dinding gubuknya dibangun dari asbes dan seng dengan lantai tanah. Di gubuk yang ditinggali bersama dua anaknya itu, terdapat hanya satu kamar cukup untuk tidur saja. Sedangkan dapur, dibuat seadanya di luar. Di dalam satu lokal kamar, terdapat tempat tidur dari bambu. Alasnya menggunakan tikar lusuh dan berbantalkan kain kumal.

Fitriani, anak Papuq Marean menuturkan untuk sementara waktu ibunya terpaksa numpang di rumah bibinya, karena kondisi penyakitnya. “Kalau tinggal digubuk kami kan tidak bisa nyaman, karena kondisinya yang tak layak dihuni,” kata Fitriani.

Fitriani menuturkan, ibunya telah tinggal di gubuk reot itu sejak lama hampir puluhan tahun. Ia tak ada tempat tinggal lain yang bisa dihuni, sehingga terpaksa bertahan di gubuk tersebut. Selama ini gubuknya kerap kali dipotret untuk memperoleh bantuan renovasi dari program rumah kumuh. Namun berkali-kali dipotret, namun tidak ada cerita gubuknya akan direnovasi. Diakui, gubuknya hanya difoto-foto saja, tanpa ada kejelasan. Ibunya hanya memperoleh bantuan raskin dan uang bantuan langsung untuk anak sekolah.

Ketika masih kuat, ibunya menjadi tenaga buruh serabutan. Ia menjadi buruh batubata. Akan tetapi semenjak penyakit kanker semakin parah, ibunya tidak bisa bekerja. Sehingga ia pun membantu ibunya mencari nafkah, menghidupi ibunya setiap hari. “Semenjak sakit, hampir 7-8 tahun ibu saya ndak kerja, saya yang carikan nafkah menjadi buruh batubata,” jelasnya.

Dalam sehari, penghasilan yang diperoleh Rp 20-25 ribu habis untuk membeli beras. Ia pun terpaksa kerja yang lain guna memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Istri Bupati, Hj. Khairatun Fauzan Khalid menyatakan, pihaknya berupaya membantu melalui koordinasi dengan SKPD terkait. Khusus pengobatan Papuq Marean, pihaknya mengupayakan agar bisa dibawa ke RS Sanglah Denpasar pekan ini. “Nanti kalau biaya hidup kita upayakan melalui bantuan-bantuan yang lain, yang penting ibu ini segera ditangani dulu,” jelasnya.

Sementara itu, Camat Kuripan, L. Moh. Hakam menyatakan, terkait kondisi Papuq Marean mendapatkan atensi dari semua pihak, termasuk Ketua PKK dan aparat kepolisian. Termasuk kaitan dengan program pemda lain bakal difasilitasi, salah satunya bantuan rumah kumuh. Tahun ini, Desa Kuripan Selatan memperoleh bantuan rumah kumuh 75 unit. “Mudahan rumah ibu Marean ini termasuk dibantu tahun ini, kami upayakan masuk,” jelasnya. (her)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here