Demo Tuntut Pembangunan Dam Mujur Ricuh

Praya (Suara NTB) – Puluhan warga menggelar aksi unjuk rasa di halaman kantor Bupati Lombok Tengah (Loteng), Selasa, 14 November 2017. Dalam aksi yang sempat berlangsung ricuh, seorang demonstran terluka saat terlibat ketegangan dengan aparat kepolisian dan anggota Satpol PP Loteng yang bertugas mengamankan jalannya aksi.

Beruntung, jalannya aksi tidak sampai meluas, sehingga proses jalannya aksi  dengan agenda meminta kejelasan soal rencana pembangunan Dam Mujur Kecamatan Praya Timur, secara umum bisa berjalan lancar.

Iklan

Aroma ketegangan sudah terasa sejak awal jalannya aksi. Begitu sampai di halaman kantor Bupati Loteng, sekitar pukul 11.00 Wita, sejumlah peserta aksi sempat bersitegang dengan anggota Satpol PP Loteng, karena tidak diberikan akses masuk ke halaman kantor Bupati Loteng. Namun ketegangan tersebut tidak berlangsung lama.

Di depan kantor Bupati Loteng, mereka menggelar orasi yang intinya meminta keseriusan Pemkab Loteng memperjuangkan pembangunan Dam Mujur. Pasalnya, Pemkab Loteng dinilai kurang serius mewujudkan rencana ini, padahal manfaatnya akan sangat besar bagi masyarakat.

Pemkab Loteng lebih memilih untuk membangun Pasar Kopang dengan anggaran Rp 80 miliar yang direncanakan bersumber dari dana pinjaman. Termasuk membangun kantor Bupati Loteng yang baru dengan anggaran ratusan miliar. “Pembangunan Dam Mujur jauh lebih penting dan mendesak. Dari pada bangun pasar Kopang maupun gedung kantor Bupati Loteng yang baru,” teriak Muhanan, koordinator aksi.

Sekitar setengah jam berorasi, lantaran belum ada satupun pejabat lingkup Pemkab Loteng yang datang menerima, massa berusaha menerobos barikade aparat keamanan. Kericuhan pun pecah, saat beberapa aparat Polres Loteng berusaha menghalangi langkah masa aksi.

Saat kericuhan terjadi, seorang peserta aksi mengalami luka bocor di kepala yang diduga terkena pentungan aparat kepolisian. Kondisi ini membuat jalannya aksi semakin panas. Salah seorang personel Polres Loteng yang terlibat cek cok dengan masa dikeluarkan dari barisan untuk mengantisipasi keributan yang lebih parah.

Pasca kejadian itu, aparat kepolisian kemudian melakukan negosiasi dengan massa aksi sampai massa berhasil ditenangkan. Satu jam kemudian, Sekda Loteng, H.M. Nursiah, S.SoS.M.Si., akhirnya datang dan bersedia menemui massa.

Dalam kesempatan itu, Nursiah menegaskan komitmen Pemkab Loteng memperjuangkan terwujudnya pembangunan Dam Mujur. Hanya saja, karena pembangunan Dam Mujur merupakan kewenangan pemerintah pusat, maka pihaknya tidak bisa berbuat banyak, selain menunggu kepastian dari pemerintah pusat.

“Pemerintah daerah bersama DPRD Loteng sudah berkali-kali menanyakan soal rencana pembangunan Dam Mujur ke pemerintah pusat. Tapi pemerintah pusat meminta kita untuk menunggu,” ujarnya. “Apapun bentuk dukungan yang pemerintah pusat nanti minta ke kita, asalkan itu demi terwujudnya pembangunan Dam Mujur kita siap penuhi,”  tambahnya. (kir)