Demo Ricuh, Lima Warga Diamankan

Warga Desa Ganti menggelar aksi di depan Mapolres Loteng, Kamis (6/2). Mereka menuntut dua warganya dibebaskan. Aksi demo sempat ricuh hingga menyebabkan lima orang warga diamankan. Tampak aparat bersiaga di pintu gerbang Mapolres Loteng, guna menghalau warga. (Suara NTB/kir)

Praya (Suara NTB) – Sebanyak lima warga Desa Ganti Kecamatan Praya Timur diamankan aparat Polres Lombok Tengah (Loteng). Kelima warga diamankan karena disinyalir sebagai penyulut aksi demo yang berlangsung ricuh di depan Mapolres Loteng yang sementara menempati eks gedung DPRD Loteng, Kamis, 6 Februari 2020.

Awalnya, warga datang ke Mapolres Loteng untuk meminta dua warga yang pada Rabu, 5 Februari 2020 malam dibebaskan. Di mana, kedua warga tersebut masing-masing H dan G, ditangkap atas dugaan keterlibatan kasus pengerusakan rumah Papuk Sumeram yang diduga sebagai dukun santet serta penganiayaan terhadap Mamiq Kamarudin dan Mamiq Suhirman, keluarga Papuk Sumeram, Selasa, 4 Februari 2020 malam lalu.

Iklan

Aksi semula berjalan aman. Sejumlah perwakilan lantas diterima Wakapolres Loteng, Kompol Ketut Tamiana. Dalam pertemuan tersebut, warga meminta dua terduga pelaku ditangguhkan. Menurut warga, kasus pengerusakan dan penganiayaan tidak hanya dilakukan oleh kedua terduga pelaku saja. Tetapi oleh masyarakat banyak.

Namun aparat kepolisian bergeming dan tetap kukuh akan memproses kedua terduga pelaku tersebut secara hukum. Karena apa yang dilakukan kedua terduga pelaku sudah masuk perbuatan pidana.

Mendapat jawaban tersebut, warga tersulut emosinya. Warga terus berusaha meminta polisi segera membebaskan kedua terduga pelaku yang diamankan tersebut. puluhan warga yang tadinya berada di luar Mapolres Loteng kemudian berusaha masuk ke halaman Mapolres Loteng dengan memaksa membuka pintu gerbang Mapolres Loteng.

Di tengah aksi  ini, salah seorang anggota Polres Loteng terkena pukulan oleh warga. Akibatnya, polisi kemudian merangsek ke tengah warga yang didominasi ibu-ibu tersebut. Jalannya aksi pun seketika berubah ricuh. Sejumlah warga yang diduga sebagai pemicu aksi, diburu aparat kepolisian.

Namun warga yang diburu justru melawan. Beberapa di antaranya berusaha kabur saat ditangkap. Isak tangi sejumlah ibu-ibu pun pecah, ketika sejumlah warga digelandang masuk Mapolres Loteng. Sejumlah warga yang melawan tampak terlibat adu fisik dengan aparat kepolisian.

Di tengah situasi mencekam, beberapa tokoh masyarakat mencoba menenangkan warga. Sementara aparat kepolisian lengkap dengan tameng dan pentungan sudah bersiap membentuk barikade untuk mengantisipasi jika warga yang coba merangsek masuk Mapolres Loteng. beberapa saat kemudian, situasi akhirnya bisa kembali dikendalikan.

“Sejak awal warga sudah kita ingatkan untuk tidak berbuat keributan. Namun warga justru memancing keributan. Sehingga terpaksa aparat kepolisian mengambil langkah tegas,” aku Wakapolres Loteng, Kompol Ketut Tamiana, kepada wartawan.

Dikatakannya, total ada lima warga yang diamankan dalam aksi tersebut. Dan, sementara masih menjalani pemeriksaan lebih lanjut. “Statusnya masih diamankan. Seperti apa kelanjutannya, nanti kita lihat proses hukumnya,” ujar Tamiana yang belum bersedia mengungkapkan identitas warga yang diamankan tersebut.

Disinggung kasus perusakan rumah dan penganiayaan yang terjadi sebelumnya, Tamiana menegaskan, itu tetap berproses. Karena itu termasuk tindak pidana. Tetapi pihaknya tetap memberikan ruang bagi warga untuk menempuh jalur damai.  (kir)