Demo Kasus Cabai Rp 2,8 Miliar Ricuh

Mataram (Suara NTB) – Aksi demonstrasi dilakukan oleh Aliansi Masyarakat Peduli Transparansi NTB menuntut aparat penegak hukum mengusut pengadaan cabai Rp 2,8 miliar pada Dinas Pertanian Kota Mataram berlangsung ricuh, Kamis, 9 Maret 2017.

Massa aksi berjumlah sekitar 10 orang itu mulai melakukan orasi di depan Kantor Walikota Mataram sekitar pukul 10.30 Wita.

Iklan

Dikawal pengamanan ketat aparat Kepolisian dan Satpol PP, mereka mendesak Walikota Mataram, H. Ahyar Abduh mencopot Kepala Dinas Pertanian, Ir. H. Muttawali karena diduga telah memanipulasi data laporan.

Wakil Walikota Mataram, H. Mohan Roliskana rupanya cukup terganggu dengan demo yang dilakukan oleh mahasiswa. Dengan mengenakan jaket coklat, celana kain berwarna abu, Mohan yang awalnya tidak masuk kantor lantaran sakit datang mengenakan mobil dinasnya. Mohan datang dengan raut emosi.

Koordinator Aksi, M. Yakup yang saat itu berorasi menjadi sasaran. Meskipun Wawali sempat meneriaki petani maupun Satpol PP, agar tak melakukan aksi anarkis namun, demonstrans tetap menjadi sasaran amukan. Bahkan, bendera yang dibawa menjadi alat untuk memukul para peserta aksi.

Aparat Kepolisian dan Satpol PP berusaha mengamankan dan membawa yang bersangkutan ke Polres Mataram. Dalam orasinya, M. Yakup menyampaikan pengadaan cabai pada Dinas Pertanian Rp 2,8 miliar terbagi dalam 15 kelompok tani dengan luas areal tanam 100 hektar. Mereka menduga tidak sesuai dengan luas areal tanam. Kenyataan di lapangan hanya 30 are.

Ia menuntut Kejati NTB agar melakukan investigasi terhadap aliran dana yang diduga diselewengkan untuk kelompok tani. Selain itu, Walikota Mataram diminta mencopot Kadis Pertanian dari jabatannya, karena diduga kuat telah memanipulasi data laporan.

Wakil Walikota Mataram, H. Mohan Roliskana menduga, mahasiswa yang menyampaikan orasi telah dibayar oleh oknum tertentu. “Mereka ini pendemo bayaran,” katanya.

Lagi pula kata Wawali, mereka tidak perlu orasi. Sebab, pengadaan cabai Rp 2,8 miliar ini telah ditangani oleh Kejati NTB. (cem)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here