Demi Sesuap Nasi, Seorang Ibu Tarik Gerobak Sampah Sambil Menggendong Bayi

Tak kenal lelah, pemulung asal kelurahan Pejanggik, Yunita, rela berkeliling kota Mataram demi mengumpulkan sampah plastik. Bersama anak bungsunya, sambil menarik gerobak sampah, dia menggendong bayinya dari pertokoan hingga TPS ke TPS. (Suara NTB/viq)

Mataram (Suara NTB) – Mungkin tidak banyak yang memperhatikan, ataupun mau peduli dengan Yunita (42). Pemulung asal kelurahan Pejanggik, Kota Mataram ini tak mengenal kata lelah. Setiap pagi dan sore hari, ia sibuk mencari sampah plastik di kota Mataram dengan menarik gerobak sampah sambil menggendong bayinya dari dan ke semua TPS (tempat pembuangan sementara) sampah.

Semua itu dilakukan demi sesuap nasi. Demi bayinya yang harus makan dan minum. Demi si buah hatinya yang akan melanjutkan kehidupan keluarganya. Sampah plastik dikumpulkan di pusat-pusat perbelanjaan, pasar, hingga TPS dan dijualnya untuk membeli beras.

Iklan

Ditemui Suara NTB, Rabu, 5 Februari 2020, ia bersama anak bungsunya, bayi yang baru berusia dua tahun mencari sampah di sekitar pertokoan wilayah Cakranegara. Dengan sebuah gerobak yang dibawanya, Yunita sambil menggendong bayinya keliling mencari sampah plastik.

Ke mana saja, kadang jalan sampai ke Lingkungan Cilinaya mencari sampah plastik. Kalau tidak gitu, tidak bisa beli beras, katanya tanpa nada pesimis sedikitpun. Suara NTB pun mendatangi rumah Yunita yang berada di samping Jembatan Jalan Bung Hatta Mataram. Yunita tinggal bersama sang suami yang mengalami tunawicara.

Kata Yunita, sampah yang dicari bersama Raifan Saifan Oktaviansyah, anak bungsunya yang baru berusia dua tahun itu, dijual ke salah satu pengepul di Kelurahan Monjok. Dalam sehari kata Yunita kepada Suara NTB, bisa mendapat sampah sebanyak 4-10 kilo. Sampah itu ia jual seharga Rp10.000 bahkan sampai Rp20.000. Itu tidak cukup untuk beli kebutuhan lain. Anak saya juga kan masih butuh biaya lain-lain. Beli susu dan lain-lain, tuturnya.

Sejak 2004 silam, Yunita sudah menjadi pemulung di Mataram. Wanita yang memiliki dua orang anak ini mengaku, selama ini suaminya tak bisa memberikan uang lebih untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Karena, Selamet Riadi suaminya juga bekerja sebagai Juru Parkir panggilan di salah satu toko pakaian di Mataram.

Kondisinya memang begitu, kadang kalau suami saya dipanggil untuk narik parkir, dia pergi. Tapi kalau tidak, ia dia diam di rumah, cerita Yunita. Anak sulung Yunita saat ini sedang duduk di bangku SMK Pariwisata di Mataram. Selama ini kata Yunita, dari hasil memulung tersebut, ia bisa memberikan bekal kepada anaknya yang masih duduk di bangku SMK tersebut.

Yunita selalu diberikan bantuan PKH berupa beras dan uang saku dalam tiga bulan sekali. Uang PKH itu digunakannya untuk membeli kebutuhan sekolah anaknya. Alhamdulillah ada bantuan yang saya terima. Tapi, kalau dihitung-hitung itu kan tidak cukup. Kadang dikasi Rp600 ribu sampai Rp1 juta sekali dalam tiga bulan, katanya.

Yunita yang tinggal bersama suaminya ini berharap ada pekerjaan lain yang lebih layak sebagai penambah penghasilan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Karena, jika terus memulung, selama itu juga ia harus membawa Raifan, menggendong bayinya itu, karena tak ada yang mengurus di rumah. Jadi harus dibawa ke mana-mana, katanya.

Kalau pun kakanya pulang sekolah, paling Raifan tidak mau bersama kakaknya, tambahnya. Salah satu tetangga Yunita, Arifin mengatakan keprihatinannya pada kondisi keluarga Yunita. Kata Arifin, Yunita tak kenal lelah mencari sampah plasitik selama puluhan tahun. Apalagi sekarang harus bawa anaknya. Kan jadi dobel yang dia pikul selama mencari sampah (baca: sampah), kata Arifin.

Tetangganya berharap, semoga pemerintah Kota Mataram bisa membantu Yunita agar dimudahkan dalam melanjutkan kehidupannya. Sebab, suami Yunita kata Arifin, tak bisa bekerja maksimal karena penyakit yang dideritanya. Iya kita harap bisa dibantulah. Kita kasihan juga mana harus cari sampah, mana harus gendong anaknya, tutup Arifin. (viq)