Demam Berdarah, Tiga Warga di KLU dan Lotim Meninggal

Tanjung (Suara NTB) – Dua orang pasien yang diduga (suspect) Demam Berdarah Dengue (DBD) asal Lombok Utara meninggal pada pekan lalu. Kedua pasien masing-masing, Wartyadi (16 tahun) asal Dusun Tebango Bolot, Desa Pemenang Timur, dan Putri Zaskia (4,5 tahun), asal Dusun Karang Langu, Desa Tanjung.

Plt. Dikes Lombok Utara, H. Samsul Bahri, melalui Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular pada Dikes KLU, Ketut Jaya Selasa, 31 Januari 2017 mengungkapkan, kedua pasien Suspect DBD meninggal pada waktu dan tempat perawatan yang berbeda. Pasien Wartyadi meninggal di RSUD Tanjung sekitar 8 hari lalu, sedangkan Putri Zaskia, meninggal Sabtu pekan lalu usai mendapat perawatan di RSUP NTB.

Iklan

“Kedua pasien ini belum dinyatakan positif DBD namun baru sebatas suspect DBD. Hasil diagnosa lab Puskesmas dan rumah sakit yang dikeluarkan belum mengarah ke positif DBD,” kata Jaya.

Ia menjelaskan, diagnosa klinis Puskesmas menunjuk kondisi pasien Wartyadi, mengalami penurunan kesadaran, riwayat konvulsi dengan trombosite premier. Riwayat perawatan pasien mengeluhkan demam, kepala nyeri, kejang-kejang, dan mual. Selama dua hari masa penanganan pasien di Puskesmas Pemenang, selanjutnya pasien diarahkan ke RSUD Tanjung. Selang beberapa jam penanganan di RSUD, pasien tak tertolong dan meninggal dunia.

Sementara bagi pasien Putri Zaskia, jelas Ketut Jaya, mengeluhkan gejala yang hampir sama. Penanganan yang dilakukan Puskesmas sesuai prosedur yang berlaku, sehingga diputuskan untuk dirujuk ke RSUD Tanjung. Tak mampu ditangani di kabupaten, pasien lantas dilarikan ke RSUP NTB. Lagi-lagi, pasien pun tak tertolong.

Menyikapi meninggalnya dua pasien suspect DBD ini, Dikes KLU langsung antisipatif. Investigasi di kedua dusun asal pasien dilakukan. Hasilnya, memang tidak ditemukan terdapat jentik-jentik nyamuk aedes aegepty.

Di Lombok Timur (Lotim), seorang anak di Lotim, atas nama Kafani Riza (4,5) alamat RT 21 Karang Sukun Selong meninggal saat dirawat di Puskesmas Selong sekitar pukul 7.30 Wita, Selasa, 31 Januari 2017. Ia meninggal diduga terserang DBD.

Kafani Riza meninggal setelah semalam dirawat di Puskesmas Selong. Sebelumnya, korban dirawat di rumahnya selama enam hari sebelum dibawa ke puskesmas. Vavan Revano, dokter yang menangani korban, mengatakan, keluhan yang disampaikan orang tua korban saat dibawa bahwa korban mengalami panas badan dan dirawat di rumahnya selama enam hari. Namun selama dirawat di rumah, pengobatan tetap dilakukan dengan dilakukan oleh salah satu dokter di Kecamatan Selong.

Melihat anaknya tidak ada perubahan, tuturnya, korban kemudian dibawa ke Puskesmas Selong pada hari Senin sekitar pukul 18:30 Wita dengan kondisi pasien cukup baik dengan masih bisa berbicara.  Namun Selasa pagi, kondisi pasien turun dan muncul bintik-bintik merah pada beberapa bagian tubuhnya, sehingga dicurigai mengalami demam berdarah.

Sementara, Kepala Puskesmas Selong, Ihsan, SKM, mengaku belum bisa memastikan apakah bocah yang meninggal saat dirawat di puskesmas terserang DBD ataupun tidak. Karena untuk memastikan apakah seseorang itu terkena gigitan nyamuk DBD harus dilakukan dengan uji laboratorium.

Hal senada juga disampaikan, Kepala Dinas Kesehatan (Dikes) Lotim, drg. Asrul Sani. Dirinya mengaku belum menerima laporan resmi terkait adanya masyarakat Lotim yang meninggal, karena terserang penyakit DBD. Namun, katanya, untuk memastikan apakah seseorang itu terkena DBD terlebih dahulu harus dilakukan uji laboratorium.

Terkait dengan masyarakat yang terkena DBD, katanya, untuk tahun 2017 pada minggu pertama terdapat sebanyak 27 orang, minggu kedua 41 orang dan minggu ketiga 38 orang dan minggu ke empat sebanyak 36 orang. Jumlah kasus tersebut, katanya, bisa merupakan tambahan dari minggu-minggu sebelumnya ataupun jumlah kasus baru per minggunya. (ari/yon)