Delegasi Kerajaan Trengganu Malaysia Buka Peluang Ekspor Impor

Bupati KLU H. Najmul Akhyar saat menerima delegasi Kerajaan Trengganu Malaysia, Jumat,  1 Maret 2019. (Suara NTB/ist)

Tanjung (Suara NTB) – Untuk ketiga kalinya setelah gempa, delegasi Kerajaan Trengganu Malaysia hadir di Kabupaten Lombok Utara (KLU). Jumat,  1 Maret 2019, rombongan delegasi Malaysia langsung disambut Bupati KLU, Dr. H. Najmul Akhyar.

Meski awak media tidak disiapkan waktu untuk mewawancarai delegasi Malaysia, namun Bupati mengungkapkan potensi kerjasama yang akan dibangun memiliki prospek cerah. Trengganu – Lombok Utara, siap membuka keran ekspor impor yang menguntungkan kedua pihak.

Iklan

“Trengganu merupakan salah satu daerah yang minus potensi ikannya, kalau berbicara dari potensi perikanannya. Minus ini menjadi potensi kerjasama bagi KLU,” ujarnya usai menyambut delegasi Trengganu Malaysia.

Najmul mengklaim, delegasi Trengganu sengaja datang ke KLU karena tertarik melihat langsung potensi KLU. Rombongan ini sendiri akan disuguhi oleh sejumlah potensi dari perikanan, perkebunan, hingga pertanian, di mana Kelompok Jagung akan didatangi oleh delegasi tersebut.

Lombok Utara dengan daerah yang memanjang di sepanjang pantai, diklaim menyimpan sumber daya ikan. Bupati mencontohkan, di satu kelompok nelayan Dusun Kerakas, Desa Genggelang, Kecamatan Gangga, produksi ikan bisa mencapai 6 ton per harinya. Belum ditambah  oleh produksi nelayan lain di kecamatan berbeda.

Berkebalikan dengan sumber daya yang ada di Trengganu, industri produk varian ikan relatif banyak. Namun di sisi lain, sumber daya perikanannya terbatas. Plus minus antarkedua wilayah ini akan coba disingkirkan melalui kerjasama kedua pihak.

Bupati menyebut, dalam lawatan ke Trengganu beberapa waktu lalu, ia diperlihatkan potensi industri perikanan yang produktif. Untuk itulah, merupakan peluang bagi nelayan KLU untuk memeroleh mitra kerjasama yang menampung ikan. “Ini tentu menjadi kesempatan emas bagi KLU untuk melakukan ekspor ikan nantinya,” imbuhnya.

Selain ikan, delegasi Trengganu juga disuguhi potensi kelapa KLU. Menyadari bahwa harga kelapa relatif fluktuatif, menjadi peluang pula harga kelapa di petani bisa ditingkatkan melalui serapan pasar Malaysia tersebut. “Di Malaysia, harga kelapa mereka 10-18 Ringgit. Dirupiahkan ada sekitar Rp 30 ribu ke atas per butir di sana,” klaim Bupati.

Selain kelapa, produksi kakao di masyarakat juga menarik minat delegasi Malaysia itu. Bahkan klaim Najmul, pejabat Kerajaan Trengganu sempat terkejut mengetahui Lombok Utara merupakan salah satu penyangga produksi kakao nasional.

“Ini hal yang memang perlu kita kerjasamakan,  mungkin saja, Lombok Utara ini akan mengirimkan coklat dengan bentuk gelondongan ke Malaysia, atau Malaysia yang menyediakan pabriknya di sini,” tandasnya. (ari)