Defisit Anggaran, Seniman NTB Gagal Ikuti Program ke Luar Negeri

Mataram (suarantb.com) – Salah seorang seniman NTB, Muhammad Sibawaihi gagal berangkat ke luar negeri akibat defisit anggaran pemerintah. Dia merupakan satu diantara 56 seniman yang terpilih sebagai peserta Program Pegiat Budaya Luar Negeri Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Sibawaihi terpilih melalui proses seleksi dan akan ditempatkan di Selandia Baru.

Kepada suarantb.com, Sibawaihi menyebutkan, hal tersebut sebagai bentuk sikap lemah pemerintah. Kalau memang tidak siap secara pendanaan, lebih baik tidak membuat program yang tidak bisa direalisasikan.

Iklan

“Cuma ya kecewa sedikit. Karena banyak kegiatan  yang saya batalkan. Harusnya kemarin bisa jadi pembicara di Arkipel,” ujarnya, Senin, 5 September 2016. Ia  menyarankan Pemerintah untuk lebih siap lagi dalam merencanakan dan merealisasikan program. Jangan sampai membatalkan sesuatu yang sudah disampaikan dan mendapat respon dari masyarakat.

“Kalau dari saya, ini menjadi pembelajaran yang baik bagi pihak pemerintah dalam membuat program. Baiknya program yang akan di-sounding atau di-publish digarap dengan matang. Saya secara pribadi tidak tega melihat kawan-kawan lain, yang membatalkan banyak agenda mereka karena program ini, termasuk saya,” katanya.

Sebagai bentuk protes terhadap sikap pemerintah ia dan peserta lainnya mengirimkan surat terbuka kepada Presiden Joko Widodo.

Dalam surat terbuka tersebut, para peserta yang telah siap berangkat ini menilai, Dirjen Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan juga Kementerian Keuangan tidak serius menyelesaikan persoalan. Tak jelasnya iktikad  pemerintah merealisasikan Program Pegiat Budaya Luar Negeri 2016 ke Selandia Baru yang seharusnya dilaksanakan pada 21 Agustus hingga 9 September 2016 atas dana beasiswa LPDP Kementerian Keuangan akhirnya menjadi janji palsu. (ast)

Berikut, beberapa penggalan dari surat terbuka tersebut :

ilustrasi

(Terkait Ketidakjelasan Pelaksanaan Program Pengiriman Pegiat Budaya ke Luar Negeri 2016)

Kepada Yth :

Presiden Republik Indonesia

Bapak Ir. Joko Widodo

Bapak Presiden yang Terhormat.

Kami 56 Pegiat Budaya—yang terpilih untuk dikirim ke Selandia Baru (21 Agustus-9 September 2016), melalui surat terbuka ini ingin mengungkapkan kegelisahan ini terkait ketidakjelasan pelaksanaan Program Pengiriman Pegiat Budaya ke Luar Negeri 2016 yang ditaja oleh Kemendikbud.

Bapak Presiden yang Terhormat.

Sejak awal Agustus 2016 beberapa dari kami berinisiatif menghubungi staf Kemendikbud melalui telepon, surel, atau kotak komentar di laman resmi kementerian tersebut, sebab kami tak kunjung dihubungi pihak Kemendikbud perihal keberangkatan, sedangkan bila merujuk pada maklumat resmi di laman daring mereka, jadwal keberangkatan kami sudah dekat. Namun kami tak kunjung mendapatkan jawaban yang memuaskan. Satu-satunya balasan agak spesifik yang diterima teman kami di lamat surelnya adalah : kemungkinan keberangkatan akan diundur hingga Oktober 2016.

Kami yang tergabung dalam grup WhatsApp Pegiat Budaya sungguh syok. Bukan sekadar oleh isi jawaban, namun juga pada bagaimana institusi sebesar Kemendikbud memberikan klarifikasi. Ya, kalau tidak ada yang menghubungi pihak Kemendikbud, bagaimana kami beroleh informasi pengunduran keberangkatan tersebut? Bagaimana kalau—beberapa dari— kami berinistiaf berangkat tanggal 17 Agustus ke Jakarta untuk mengikuti pembekalan sebagaimana jadwal awal yang diumumkan Kemendikbud di laman daringnya, siapa yang bertanggungjawab? Oh, betapa serampangannya pihak penyelenggara mengelola program ini—ya, bahkan sekadar memberitahu kami secara resmi tentang ketidakjelasan ini saja, Kemendikbud tidak berinisiatif!

Kami pun ‘mengutus’ Ratu Selvi Agnesia (Script Writer, Teater) dan Gema Swaratyagitha (Komposer, Musik) untuk menemui Dirjen Kebudayaan, Bapak Hilmar Farid, di Pembukaan Art Summit Indonesia 2016 pada 15 Agustus 2016. Hasil pembicaraan tersebut sungguh meresahkan kami sebab Dirjen Kebudayaan pun tidak bisa menjanjikan program ini akan berjalan (artinya kemungkinannya bukan hanya diundur, tapi juga dibatalkan!). Akhirnya Benny Arnas (Script Writer, Teater) membawa suara kami lewat surat yang ia tulis kepada Bapak Hilmar Farid pada 17 Agustus sehingga akhirnya kami menerima surel berupa surat pemberitahuan Kemendikbud tertanggal 18 Agustus 2016 (No: 2031/E.E1/KB/2016) yang ditandatangani Dirjen Kebudayaan. Inti surel itu sama: permohonan maaf atas keterlambatan pemberitahuan informasi perihal belum adanya kepastian pencairan dana dari LPDP Kementerian Keuangan.

Tak ayal, komentar-komentar menyesalkan sikap Kemendikbud pun mulai meramaikan grup WhatsApp kami.

Berikut kami kutip secara langsung beberapa di antaranya untuk menunjukkan bahwa ketidakjelasan ini telah menimbulkan kerugian materil dan psikologis yang sejatinya tidak bisa pihak penyelenggara dipandang sebelah mata:

“Kasian Pangrawit saya, mereka rela dengan legowo saya batalin pentasnya di Jogja, Solo, Korea, dan Jepang karena saya bilang harus ke New Zealand, karena waktu itu kan jadwalnya sudah ditetapkan, sedangkan mereka kan pekerjaanya cuma seniman yang bertumpu pada pentas. Gusti kok bisa begini yah.” Nuranaini, penari Topeng Losari asal Cirebon-Jawa Barat.

“Saya Darwin dari film, kebetulan LA Indie Movie tempat saya belajar mendukung dan akan live report saat saya di New Zealand, kemudian saya diundang di NET TV (Tonight Show, tayang Jumat ini, 19 Agustus 2016 jam 23.00) saya bilang akan berangkat ke NZ dari beasiswa LPDP Kemdikbud, beberapa media di Banten pun dari TV Lokal, koran sampai radio sempat mewawancarai saya tentang ke NZ, saya bicara apa adanya, saya bilang berangkat 21 Agustus. Efek mundurnya jadwal, saya benar-benar merasa malu. Apalagi kalau sampai batal. Malu saya. Maaf curhat. Saya pikir ketika Kemendikbud membuat program ini, semua rencana dan anggaran sudah siap, ternyata realita tidak sesuai ekspretasi, mudah-mudahan ada hikmahnya.” Darwin Mahesa, mewakili bidang Film, Script Writer asal Banten.

“Saya juga harusnya tugas akhir tanggal 10 September karena ada Pegiat Budaya saya undur konser saya jadi Oktober. Lha.. kok malah gak jadi. Sedangkan saya melibatkan teman-teman dari Belanda yang akan datang ke Indonesia, saya juga malu kalau gak berangkat sebenarnya” Ignatius Made Anggoro, Komposer/Musisi bidang Musik. Asal Yogyakarta.

“Saya sudah sampai cancel beberapa tawaran pekerjaan di lembaga penelitian” Firman Faturrahman, bidang Sejarah asal Tangerang-Banten.

“Saya mengajar di SMA negeri. Saya cukup susah minta izin ke kepala sekolah karena saya guru baru dengan syarat saya harus mencari guru ganti, saya pun diizinkan. Kepala sekolah dan rekan-rekan juga murid-murid sudah mendukung keberangkatan saya. Tapi diundur bahkan kalo semisal sampai batal. Rasanya langkah saya berat ke sekolah” Meita Meilita. Perupa, bidang Visual-Jawa Barat.

Jakarta, 2 September 2016

Atas Nama

56 Pegiat Budaya 2016

Disusun atas nama Pegiat Budaya 2016 :

  1. Ahmad Khairudin- Semarang – Bidang Kuratorial
  2. Ferry Cahyo Nugroho – Malang – Bidang Tari
  3. Wisnu Aji Setyo Wicaksono – Yogyakarta – Bidang Tari
  4. Parrisca Indra Perdana – Pasuruan – Bidang Tari
  5. Gema Swaratyagita – Surabaya – Bidang Musik
  6. Kennya Rinonce – Banten – Bidang Teater
  7. Salfia Rahmawati – Depok – Bidang Arsip dan Sejarah
  8. Firman Faturohman – Tangerang Selatan – Bidang Sejarah
  9. Taufiq Panji Wisesa – Bandung – Bidang Keramik.
  10. Dedy Satya Amijaya-Semarang Jateng-Bidang Tari
  11. Tri Anggoro – Yogyakarta- Bidang Tari
  12. Rini Maulina – Bandung, Jawa Barat-Bidang seni Visual
  13. Andi P. Hutagalung – Sumatera Utara – Bidang Film
  14. Fauzan Abdillah – Surabaya – Bidang Film
  15. Muhammad Sibawaihi-NTB- Bidang Film
  16. Fiole Aditya – Malang – Bidang Film
  17. Nuranani – Jawa Barat, Cirebon- Bidang Tari
  18. Ratu Selvi Agnesia- DKI Jakarta- Bidang Teater
  19. Darwin Mahesa – Banten – Bidang Film
  20. Benny Arnas – Sumsel – Bidang Teater
  21. Meita Meilita – Jawa Barat – Seni Visual
  22. Wendy HS – Sumatera Barat – Seni Teater
  23. Putri Fidhini – Bandung, Jawa Barat – Seni Visual
  24. Mahatma Muhammad- Sumatera Barat- Bidang Teater.
  25. Vani Dias Adiprabowo – Yogyakarta – Bidang Film
  26. Darlane Litaay – Papua – Bidang Tari
  27. Indradi Yogatama – Yogyakarta – Seni Musik
  28. Markus Rumbino – Papua – Seni Musik
  29. Irna Nurjanah – Yogyakarta – Teater
  30. Ignatius Made Anggoro-Yogyakarta-Seni Musik
  31. Bathara Saverigadi Dewandoro-DKI Jakarta- Bidang Tari
  32. Iman Fattah – DKI Jakarta- Musik

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here