Debit Mata Air di Lotim Mulai Menyusut

Selong (Suara NTB) – Akibat kemarau panjang yang menimpa kawasan Lombok Timur (Lotim) dan sekitarnya membuat debit air mengalami penyusutan cukup drastis. Sebanyak 16 sumber mata air yang dikelola Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM), semuanya menyusut.

Demikian diungkapkan Direktur PDAM Lotim, Muhammad Isro’i kepada Suara NTB, Sabtu, 24 September 2016. Ia jelaskan, total penyusutan air itu mencapai 30-40 persen. Kondisi ini dipastikan membuat 40 persen dari 22 ribu lebih pelanggan PDAM  ini mengalami gangguan.

Iklan

Mengingat fenomena alam ini, pihak PDAM ini mengaku tidak bisa berbuat banyak terkecuali hanya bisa menunggu datangnya air hujan. “Sekarang ini debit-debit air kita mengalami penurunan drastis,” imbuhnya.

Disebut, paling besar debit air yang diambil katanya Mencerit dan Kokok Tojang, yang besaran debitnya sekarang 60 liter per detik. Pelanggan dari dua mata air ini mengcover separuh dari seluruh pelanggan PDAM se Kabupaten Lotim. “Air dari Kokok Tojang dan Mencerit ini cover setengah dari jumlah pelanggan kita,” sebutnya.

Penurunan debit air ini, diakui kerap terjadi setiap musim kemarau. Karena itu, untuk melayani pelanggan-pelanggannya, pihak PDAM ini terpaksa mengantarkan air menggunakan mobil tangki PDAM. “Tidak bisa dialirkan lewat pipa, sehingga kita  bantu dengan mobil tangki,” ucapnya.

Pihak PDAM yang kembali tahun ini diberikan penyertaan modal Rp 3,5 miliar oleh Pemkab Lotim untuk pembangunan kantor. Begitu juga tahun ini, PDAM dapat bantuan armada mobil tanki yang akan menambah armada angkut air kepada para pelanggan.

Sementara di Desa Tirtanadi, sejumlah mata air terlihat mengalami penurunan drastis. Salah satunya, mata air Kokok Belanda yang airnya diburu oleh warga-warga yang sudah doyan dengan rasa air ini. Air yang keluar dari pipa besi dengan kedalaman 84 meter ke dalam tanah ini tampak makin berkurang.

Amaq Ham, menuturkan sudah beberapa bulan terakhir ini air andalan desa Tirtanadi ini menyusut. Biasanya, air keluar cukup deras dan warga bisa cepat mengisi air. Saat ini, antrian panjang tidak bisa dihindari saat pengisian air dari mata air yang dipugar sejak tahun 1974 lalu oleh ahli dari Kanada.

Sementara Ketua Komisi II Bidang Pendidikan dan Kesehatan DPRD Lotim, H. Lalu Hasan Rahman, menyebut jika sampai saat ini belum ada keluhan masyarakat terkait adanya yang mengidap penyakit akibat krisis air bersih berupa penyakit kulit dan diare.

Ketika Komisi II melakukan monitoring ke beberapa wilayah yang dilanda kekeringan, katanya, yang dikeluhkan oleh masyarakat rata-rata kurangnya ketersedian air bersih untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Selain mengandalkan bantuan air bersih dari pemerintah, masyarakat juga harus membeli air dengan harga yang cukup mahal yang berkisar antara Rp 100 ribu sampai Rp 250 ribu per liter atau tergantung jarak tempuh.

Sebelumnya, Sekretaris Dinas Kesehatan (Dikes) Lotim, I Made Pratnya, A.P menjelaskan, tidak terjaminnya kebersihan air yang digunakan oleh masyarakat baik untuk minum ataupun keperluan mandi akan sangat berpengaruh terhadap kesehatan mereka. Pasalnya, terjadinya krisis air bersih itu sangat mengancam kesehatan masyarakat, terutama datangnya penyakit kulit, diare dan beberapa penyakit lainnya karena minimnya krisis air bersih.

Kepala Puskesmas Jerowaru, Ahmad Rofii, SST, mengatakan krisis air bersih yang dialami masyarakat di bagian selatan sangat berpengaruh terhadap kesehatan mereka. Faktanya, dari tanggal 1 September sampai saat ini tercatat sebanyak dua masyarakat setempat mengalami penyakit kulit yang dirawat di Puskesmas Jerowaru. Diduga, penyakit kulit yang diderita masyarakat lantaran minimnya ketersediaan air bersih baik untuk minum maupun mandi. (rus/yon)