DBHCHT 2020 di Sumbawa Difokuskan Pada Kualitas Bahan Baku

Dedi Heriwibowo (Suara NTB/ist)

Sumbawa Besar (Suara NTB) – Alokasi Dana Bagi Hasil Cukai dan Hasil Tembakau (DBHCHT) di Sumbawa untuk 2020, diprioritaskan pada peningkatan kualitas bahan baku ini. Makanya, dialokasikan anggaran DBCHT yang cukup signifikan untuk mendukung program ini. Selain tentunya program program lainnya.

Hal ini, menurut Kabid Ekonomi Bappeda Sumbawa, Dr. Dedi Heriwibowo, tetap mengacu kepada Peraturan Menteri Keuangan RI, Nomor 7 tahun 2020. Tentang penggunaan, pemantauan dan evaluasi DBHCHT. Dalam PMK 7 tersebut, penggunaan DBCHT digunakan untuk lima program. Yakni, program peningkatan kualitas bahan baku, program pembinaan industri, program peningkatan lingkungan sosial, sosialisasi ketentuan bibit dibidang cukai dan atau pemberantasan barang kena cukai ilegal.

Iklan

Program ini diturunkan dalam kegiatan apa yang bisa dibiayai melalui DBCHT. Misalnya program peningkatan bahan baku, untuk budidaya tembakau yang baik, penanganan panen dan pasca panennya, peningkatan sarana prasarana usaha tani tembakau, pertumbuhan dan penguatan kelembagaan perkebunan, inovasi, kemudian pengembangan bahan baku.

“Itu kegiatan yang dibolehkan untuk kualitas bahan baku. Tembakau kita terutama di sentranya yang ada di Buer dan sekitarnya. Sentra produksi ini sudah turun temurun dilakukan dan dikembangkan oleh petani di sana. Dan sekarang ini kita dorong agar tidak hanya menanam saja. Tetapi juga mengolah meningkatkan kualitas bahan bakunya melalui pola tanam yang bagus, budidaya tembakau yang baik, sampai dengan penanganan panen dan pasca panennya,” ujarnya, baru-baru ini.

Tahun 2019 lalu, lanjut Dedi, bersama kelompok tani di Buer, berhasil memproduksi tembakau rajangan yang siap mendapat cukai. Cukainya akan diurus tahun ini. Kabupaten Sumbawa ini siap menjadi daerah penghasil cukai tembakau dari kegiatan ini.

Untuk mendukung hal itu, juga diupayakan peningkatan areal tanam seluas 200 hektar. Sehingga produksi tembakau ini bisa masuk dalam kapasitas industri kecil dan menengah. “Sehingga tembakaunya itu bisa dikelola secara ekonomis dan efisien. Dan jika dilakukan pengenaan cukai, itu masih bisa bersaing untuk dipasarkan baik di pasaran lokal maupun ke luar daerah,”kata birokrat muda Sumbawa ini.

Fokus program lainnya, pembinaan industri, yang memang ditujukan untuk daerah-daerah yang menghasilkan cukai tembakau yang memiliki industri tembakau. Tahun 2019 memang Sumbawa belum memiliki industri yang menghasilkan cukai. Namun perlahan tapi pasti 2019 sudah meningkatkan kualitas dan kuantitas tembakau. Sehingga 2020, bergerak masuk ke dalam proses industrialisasi. Kita masuk ke industri.

“Dalam industri ini memang kita akan memfasilitasi kepemilikan hak atas kekayaan intelektual. Mereka Sudah membuat produk tembakau rajangan dengan cap 945. Disamping akan kita fasilitasi pengurusan hak merk, juga jika ada hak paten yang bisa dipatenkan dalam produk ini juga akan kita fasilitasi,” katanya.

Selain itu, juga bergerak untuk pembentukan kawasan industri hasil tembakau. Jadi kalau UKM terus berkembang, bisa diinisiasi pembentukan klaster industri hasil tembakaunya. Karena tidak hanya digunakan untuk rokok saja tembakau ini. Sekarang ini sudah banyak produk-produk turunan dari tembakau. Misalnya untuk pestisida herbal itu bisa dihasilkan dari olahan tembakau. Begitu juga produk-produk lain yang digunakan untuk industri yang menggunakan bahan baku tembakau ini. Itu yang kedepan akan diupayakan,” tukasnya.

Kemudian kegiatan pembinaan lingkungan sosial. Dialokasikan untuk sektor kesehatan, ketenagakerjaan seperti pelatihan, infrastruktur, pemberdayaan ekonomi masyarakat, dan pembinaan lingkungan hidup. Ini kegiatan yang ada di program pembinaan lingkungan sosial. Memang ada ketentuan dalam PMK 7 ini juga diatur bahwa dana DBCHT minimal separuh atau 50 persen digunakan untuk membiayai BPJS, mendukung program Jaminan kesehatan nasional.

“Jadi memang filosofinya akses negatif dari rokok ini, dikonpensasi oleh pemerintah melalui dana BPJS untuk membiayai program kesehatan,” tukas Dedy. (arn)