DBD Serang Wilayah Perkotaan di Sumbawa

Sumbawa Besar (Suara NTB) – Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) cukup tinggi terjadi di Kabupaten Sumbawa dalam tiga bulan terakhir. Meskipun tidak ada korban yangf meninggal dunia, namun jumlahnya mencapai ratusan kasus. Di mana didominasi oleh tiga kecamatan di wilayah kota, yakni di Kecamatan Sumbawa, Kecamatan Labuhan Badas, dan Kecamatan Unter Iwes.

Data yang diperoleh Suara NTB di Dinas Kesehatan (Dikes) Kabupaten Sumbawa, tercatat sekitar 160 kasus DBD di Kabupaten Sumbawa sejak Januari hingga Maret. Kasus tersebut tersebar di 17 kecamatan yang ada. Yakni di Kecamatan Sumbawa 77 kasus, Kecamatan Labuhan Badas 20 kasus, dan Unter Iwis 22 kasus. Kemudian Kecamatan Moyo Utara delapan kasus, Kecamatan Moyo Hilir enam kasus, Kecamatan Moyo Hulu dua kasus, Kecamatan Lunyuk dua kasus, Kecamatan Plampang empat kasus, Kecamatan Batulanteh dua kasus. Kecamatan Lopok empat kasus, Labangka satu kasus, Kecamatan Alas satu kasus, Kecamatan Maronge dua kasus, Kecamatan Empang satu kasus, Kecamatan Lenangguar dua kasus, Kecamatan Utan satu kasus dan Kecamatan Rhee satu kasus.

Iklan

“Sekitar 160 kasus DBD yang tersebar di belasan kecamatan di Kabupaten Sumbawa sejak bulan Januari hingga Maret. Paling mendominasi di wilayah kota seperti di Kecamatan Sumbawa, Labuhan Badas, dan Unter Iwis,” kata Sekretaris Dikes Sumbawa yang dikonfirmasi melalui Kabid P3PL, Agung Riyadi, Jumat, 7 April 2017.

Dijelaskannya, dari hasil pengamatan yang dilakukan pihaknya, lebih didominasinya kasus DBD di wilayah kota lantaran beberapa hal. Pertama kepadatan rumah penduduk. Dimana kepadatan rumah penduduk ini akan membuat aktivitas masyarakat padat. Baik itu terhadap penggunaan air, sampah plastik yang menumpuk di tempat sampah, dan lainnya. Hal ini tentu berpotensi terhadap tempat perinduan nyamuk. Kemudian migrasi penduduk yang tinggi dan variasi pekerjaan di kota. Misalnya banyak tempat penampungan barang rongsokan dan lainnya yang juga berpotensi tempat perinduan nyamuk.

Tentunya kata Agung, terhadap hal ini pihaknya sudah melakukan fogging fokus di 50 lokasi yang diduga tempat perinduan nyamuk. Pihaknya juga sudah menyampaikan kepada masyarakat melalui camat dan kepala desa untuk tetap melakukan upaya pembersihan lingkungan atau dikenal dengan Pembersihan Sarang Nyamuk (PSN). Terutama menerapkan metode menutup, mengubur, dan menguras (3C). “Untuk pengendalian DBD ini tidak bisa dilakukan oleh pihak Dikes sendiri. Tetapi perlu peran penting masyarakat untuk tetap menjaga kebersihan lingkungan,” tukasnya. (ind)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here