DBD di NTB Tembus 4.319 Kasus, Kematian Tertinggi di Lobar

Ilustrasi Nyamuk DBD (Suara NTB/ist)

Mataram (Suara NTB) – Di tengah pandemi virus Corona (Covid-19) yang berlangsung, masalah kesehatan yang lain di NTB juga masih cukup tinggi. Salah satunya kasus demam berdarah dengue (DBD) yang sampai dengan akhir September tercatat mencapai 4.319 kasus.

Kepala Dinas Kesehatan (Dikes) NTB, dr. Nurhandini Eka Dewi, Sp.A menyebutkan, jumlah tersebut terbilang tinggi. Namun untuk angka kematian tercatat cukup kecil, yaitu 13 kasus. “Itu termasuk rendah (angka kematian). Jadi di satu sisi ada Covid, di satu sisi kita tetap waspada dengan DBD,’’ ujarnya saat dikonfirmasi, Senin, 19 Oktober 2020.

Iklan

Diterangkan, memasuki musim hujan saat ini potensi DBD meningkat. Terutama akibat banyaknya genanangan air yang dapat menjadi lokasi jentik-jentik nyamuk berkembang. Untuk itu, penerapan 3M Plus diharapkan dapat tetap menjadi perhatian bersama oleh seluruh masyarakat.

3M Plus sendiri adalah kegiatan menguras dan menutup tempat penampungan air dan mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menjadi tempat nyamuk berkembang biak. Kemudian Plus sebagai tambahan tindakan pencegahan jentik nyamuk berkembang dengan menaburkan bubuk larvasida, menggunakan obat anti-nyamuk dan lain-lain. Termasuk mengatur cahaya dan ventilasi rumah serta tidak menggantung baju yang bisa menjadi tempat nyamuk bersarang.

Untuk angka peningkatan kasus sendiri disebut Eka tidak terlalu fluktuatif, di mana untuk Agustus hingga September penambahan kasus DBD yang terjadi sekitar 300 pasien. “Untuk ukuran 300 satu provinsi itu tidak banyak, masih sama jumlahnya setiap bulan,” jelasnya.

Untuk 13 pasien yang meninggal karena DBD disebutnya paling banyak berasal dari Kabupaten Lombok Barat. Kemudian disusul oleh Kota Mataram dan Kabupaten Lombok Timur. Penularan DBD sendiri proyeksikan paling cepat terjadi di permukiman padat di wilayah kabupaten/kota tersebut.

‘’Kalau Kota Mataram itu penduduknya padat, di Lombok Barat selain pada ada daerah-daerah tertentu. Kebetulan daerah yang banyak kasus DBD-nya itu, daerah yang banyak Covidnya juga. Jadi beririsan dia itu,’’ tandas Eka. (bay)