Daya Beli Rendah, Pembelian Kendaraan Menurun

Ilustrasi kendaraan (Suara NTB/dok)

Mataram (Suara NTB) – Daya beli masyarakat terhadap kendaraan pada bulan Januari atau awal tahun 2020 masih rendah. Sehingga realisasi kendaraan baru yang mendaftar sebagai wajib pajak menurun dibandingkan  bulan Januari 2019. Penurunan ini berimplikasi pada potensi pendapatan daerah dari Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) dan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB).

‘’Sehingga belanja harus diatur lebih efisien. Realisasi belanja daerah harus menyesuaikan dengan realisasi pendapatan yang masih rendah,’’ ujar Kepala Badan Pengelolaan Pendapatan Daerah (Bappenda) NTB, Dr. Ir. H. Iswandi, M. Si saat memberikan keterangan pers di kantornya, Selasa, 11 Februari 2020.

Iklan

Menurut Iswandi, lemahnya daya beli masyarakat tersebut perlu menjadi perhatian semua pihak terkait. Dengan pembangunan, ekonomi bergerak kemudian meningkatkan daya beli masyarakat sehingga dapat memacu penerimaan pajak yang lebih progresif lagi.

Pendapatan daerah NTB yang bersumber dari PKB dan BBNKB terjadi penurunan pada Bulan Januari. Penurunan penerimaan PKB dan BBNKB akibat turunnya jumlah kendaraan baru yang melakukan pendaftaran pada Bulan Januari 2020.

Jumlah penurunan kendaraan baru yang melakukan pendaftaran secara kumulatif sebanyak 2.155 unit dibandingkan periode Januari 2019. Dengan rincian kendaraan roda 2 dan 3 sebanyak 2.108 unit dan kendaraan roda empat sebanyak 47 unit. Kondisi ini perlu mendapatkan perhatian dari Organisasi Perangkat Daerah (OPD). OPD diminta jangan terlalu bernafsu untuk belanja.

Melihat kondisi pendapatan yang turun seperti ini, ia berharap semua pihak dapat bergerak. Misalnya, OPD sektor perdagangan atau sektor ekonomi harus memacu agar daya beli masyarakat semakin tinggi.

‘’Sehingga pajak akan meningkat. Pajak meningkat berarti PAD bertambah. Ini supaya semua bisa membaca situasinya. Dari segi pengelolaan anggaran, itu (belanja)  harus lebih efisien lagi,’’ katanya mengingatkan.

Belanja OPD pada awal tahun anggaran ini secara otomatis tak bisa dipenuhi semuanya. Tetapi harus disesuaikan dengan pendapatan daerah yang masuk. ‘’Untuk mengatasi persoalan ini, semua pihak harus bekerja keras,’’ pesan Iswandi.

Akibat turunnya jumlah kendaraan baru yang melakukan pendaftaran, terjadi penurunan penerimaan PKB dan BBNKB mencapai Rp3 miliar lebih. Untuk penerimaam PKB turun sebesar Rp 361.445.727. Sedangkan BBNKB Rp 2. 709.508.097. Disebutkan, jumlah kendaraan baru yang melakukan pendaftaran pada Bulan Januari 2020 sebanyak 8.764 unit, sedangkan pada Januari 2019 sebanyak 10.922 unit.

Dengan penerimaan BBNKB kendaraan baru pada Januari 2020 sebesar Rp34,76 miliar lebih. Sedangkan pada Januari 2019, penerimaan BBNKB dari kendaraan baru mencapai Rp37,39 miliar. Ia menjelaskan penurunan jumlah pendaftaran kendaraan baru pada Bulan Januari 2020 ini disebabkan oleh beberapa faktor.

Antara lain menurunnya daya beli masyarakat. Pertumbuhan ekonomi NTB di awal tahun 2020 dapat dikatakan melambat yang tercermin dari menurunnya daya beli masyarakat terhadap kendaraan bermotor. Berdasrkan informasi dari beberap dealer terbukti permintaan kendaraan bermotor mengalami penurunan.

Dari 10 kabupaten/kota di NTB, hanya Lombok Utara dan Bima yang mengalami peningkatan jumlah pendaftaran kendaraan baru. Sedangkan delapan kabupaten/kota lainnya, jumlah kendaraan baru pada Januari 2020 mengalami penurunan.

Iswandi merincikan seperti Kota Mataram terjadi penurunan jumlah pendaftaran kendaraan baru sebanyak 63 unit. Pada Januari 2019, jumlah kendaraan baru sebanyak 1.711 unit, sedangkan Januari 2020 turun menjadi 1.648 unit. Kemudian Lombok Barat turun sebanyak 16 unit, dari 1.710 unit pada Januari 2019 menjadi 1.694 unit pada Januari 2020.

Lombok Utara terjadi kenaikan jumlah kendaraan baru sebanyak 95 unit. Pada Januari 2019, jumlah kendaraan baru sebanyak 487 unit, meningkat menjadi 582 unit pada Januari 2020. Lombok Tengah turun sebanyak 890 unit kendaraan baru. Pada Januari 2019, jumlah kendaraan baru di Lombok Tengah sebanyak 1.948 unit, turun menjadi 1.058 unit pada Januari 2020.

Selanjutnya penurunan jumlah kendaraan baru juga terjadi di Lombok Timur sebanyak 947 unit. Pada Januari 2019, jumlah kendaraan baru tercatat sebanyak 2.311 unit, turun menjadi 1.364 unit pada Januari 2020. Sumbawa terjadi penurunan jumlah  kendaraan baru sebanyak 234 unit.  Pada Januari 2019 sebanyak 766 unit, turun menjadi 532 unit pada Januari 2020.

Kabupaten Sumbawa Barat juga terjadi penurunan sebanyak 75 unit. Dari 365 unit pada Januari 2019, menjadi 290 unit pada Januari 2020. Kabupaten Dompu juga terjadi penurunan sebanyak 41 unit. Dari 211 unit pada Januari 2019, menjadi 170 unit pada Januari 2020.

Sementara di Kabupaten Bima terjadi kenaikan sebanyak 35 unit. Dari 293 unit pada Januari 2019, menjadi 328 unit pada Januari 2020. Sedangkan untuk Kota Bima terjadi penurunan sebanyak 19 unit. Dari 340 unit pada Januari 2019, menjadi 321 unit pada Januari 2020.

Iswandi menjelaskan, menurunnya daya beli masyarakat setidaknya disebabkan dua faktor. Pertama, kurangnya daya beli masyarakat kelas menengah ke bawah karena biaya hidup semakin tinggi. Penghasilan masyarakat kelas menengah ke bawah yang biasanya dapat digunakan untuk membeli barang selain kebutuhan pokok atau untuk membeli sepeda motor, saat ini beralih ke biaya hidup pokok yang dirasakan meningkat.

Faktor alam atau gagal panen di beberapa wilayah di NTB juga dinilai berpengaruh. Seperti diketahui bahwa musim hujan pada akhir tahun 2019,  mengalami keterlambatan dan dibarengi dengan curah hujan rata-rata (average rainfall) yang sangat rendah. Di mana jumlah hari hujan dalam satu bulan tidak lebih dari 10 hari.

‘’Hal ini menyebabkan masyarakat gagal panen sehingga petani mengalami kerugian. Dan modal yang  dikeluarkan untuk biaya tanam dan pemeliharaan tanaman tidak bisa terbayar yang berdampak pada menurunnya kemampuan masyarakat membeli kebutuhan di luar kebutuhan pokok. Seperti pembelian sepeda motor,’’ katanya.

Sedangkan jumlah kendaraan objek baru dari mutasi masuk luar daerah antara 2019 dan 2020 mengalami penurunan walaupun tidak signifikan sebesar 3 objek.  Yaitu 780 objek pada tahun 2019 menjadi 777 objek pada tahun 2020. Jumlah kendaraan dari mutasi masuk akan mengikuti bulan jatuh tempo. Biasanya,  pemilik kendaraan luar daerah akan melakukan cabut berkas di daerah asal sebulan atau dua bulan sebelum jatuh tempo pajak.

Berdasarkan fakta yang terjadi, lanjutnya, bahwa kelas menengah ke bawah jumlahnya cukup tinggi. Kelompok ini merupakan konsumen kendaraan bermotor roda 2 yang memiliki kecenderungan membeli kendaraan dari jenis roda 2.

Faktor kedua, kata Iswandi,  menurunnya kebutuhan kelas menengah ke atas yang merupakan konsumen kendaraan roda 4. Kelas menengah ke atas memiliki kecenderungan menginvestasikan dananya di bank atau dalam bentuk lain.

Selain itu, masyarakat masih menunggu kendaaraan tahun rakitan terbaru dengan jenis atau varian baru yang akan dikeluarkan oleh para ATPM. Sumber dari beberapa dealer di NTB menyebutkan, pembelian kendaraan baru biasanya meningkat pada triwulan IV yaitu Bulan Oktober, November dan Desember.  Hal ini disebabkan semakin gencarnya promo, diskon dan kemudahan yang diberikan oleh dealer dalam rangka mencapai target penjualan tahunan.

‘’Dan setelah periode ini yaitu bulan Januari biasa mengalami penurunan pembelian kendaraan baru karena sudah terpenuhinya kebutuhan/keinginan masyarakat membeli kendaraan pada bulan sebelumnya,’’ jelasnya.

Kemungkinan lain dari penurunan ini, adalah belum adanya promo-promo menarik awal tahun yang dilakukan oleh dealer maupun finance. Disebabkan para dealer dan finance ini baru mempersiapkan program tahun 2020.

Selain itu, menurunnya permintaan kendaraan niaga seperti pick up, truck, box dan sejenisnya.  Disebabkan peluang bisnis untuk usaha angkutan barang di awal tahun masih belum terbuka. Dimana para pengusaha masih menunggu peluang-peluang usaha/proyek yang didukung oleh kendaraan niaga ini sehingga pembeliannya rendah. (nas)