Daya Beli Masyarakat Mulai Menurun

Kondisi di salah satu pusat perberbelanjaan di Mataram, cenderung sepi. (Suara NTB/bul)

Mataram (Suara NTB) – Masyarakat cenderung mulai mengalami penurunan daya beli. Ditinjau dari aktivitas berbelanja yang trennya mulai mengalami penurunan. Sebulan lebih setelah covid-19 menjangkit ke Indonesia, perekonomian langsung terdampak. Disusul setelah masuknya wabah corona ini di Provinsi NTB, sejumlah kegiatan ekonomi ditutup.

Hotel, restoran, toko-toko, bahkan pusat perbelanjaan besar sekalipun, sudah memilih tutup. Karyawan-karyawan perusahaan dirumahkan. Hal itu sangat berdampak terhadap daya beli masyarakat, kata Ketua Forum Komunikasi Sales dan Marketing (FKSM) Provinsi NTB, Jefri. Manajer Niaga Supermarket ini mengatakan, awalnya, setelah diumumkan WNI terpapar covid-19 oleh Presiden Joko Widodo, awal Maret 2020, bisa dirasakan kecenderungan masyarakat panik.

Iklan

Apalagi untuk kebutuhan yang sangat penting. Misalnya hand sanitizer, makser, termasuk sembako. Hal tersebut terjadi hingga menjelang akhir bulan (Maret). Setelah itu, situasinya berangsur-angsur kembali normal, cenderung turun. “Belakangan pemasukan orang ndak ada. Kafé, restoran, toko-toko, hotel dan sebagainya tutup. Langsung mempengaruhi daya beli masyarakat,” kata Jefri pada Suara NTB, Selasa, 14 April 2020.

Sebelumnya, saat hotel dan restoran masih banyak yang buka, kebutuhannya cukup banyak dipenuhi dari supermarket, selain pasar. Saat ini, potensi tersebut hilang. Berbelanja masyarakat, pun terbatas pada kebutuhan-kebutuhan yang sangat pokok. Misalnya beras, gula, dan beberapa tambahan kebutuhan primer lainnya. “Kalau kebutuhan sekunder yang mencakup kosmetik, perkakas rumah tangga, hiburan sudah sepi sekali,” jelas Jefri.

Selain sembako,  jenis kebutuhan yang paling tinggi permintaannya adalah hand sanitizer, cairan untuk penyemprotan disinfektan. Misalnya pembersih lantai, pemutih lantai, dan sejenisnya. Kecenderungan kenaikan permintaan ini terlihat dalam dua minggu terakhir. Setelah masyarakat merasa bisa membuat campuran disinfektan sendiri.

Bagaimana dengan stok dan harga? Jefri menegaskan, cadangan stok saat ini dipastikan aman. Ada 80 lebih anggota FKSM yang menjadi pemasok, rata-rata tersedia. Hargapun masih cukup terkendali. “Gula pasir misalnya. Harganya harus Rp12.500 perkilo. Seperti harga lama. Stok juga banyak. Hanya pembelian dijatah. Ke konsumen hanya boleh beli sekilo. Kita nerima dari pemasok juga dibatasi,” demikian Jefri. (bul)

AdvertisementJasa Pembuatan Website Profesional