Daya Beli Masyarakat Menurun, Ojol di Mataram Sepi Orderan

Sekelompok ojek online di Mataram bersiap mengantar pesanan pelanggan.(Suara NTB/bay)

Mataram (Suara NTB) – Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang minus pada kuartal III/2020 akibat pandemi virus corona (Covid-19) turut memberi dampak pada usaha jasa di daerah. Salah satunya seperti dialami penyedia jasa ojek online di Mataram yang sejak Maret lalu mengalami penurunan order dari pelanggan.

Ketua Ojek Online (Ojol) Lombok, Budi Suseno, menerangkan penurunan tersebut bahkan mulai dirasakan sejak akhir Februari lalu. “Ini jauh sekali berkurangnya semenjak corona ini, jadi sudah lama juga. Kita juga sempat demo karena itu,” ujarnya kepada Suara NTB, Selasa, 29 September 2020. Menurutnya, sampai saat ini jumlah order yang didapat oleh jasa ojek online di Mataram mencapai 60 persen dibanding saat normal. “Dulu rata-rata pendapatan bersih kita bisa lebih dari Rp150 ribu per hari. Sekarang ini rata-rata kita cuma bisa onbit (menarik uang) Rp60 – 70 ribu per hari,” jelas Budi.

Iklan

Penurunan tersebut terjadi akibat berkurangnya jumlah order penumpang setiap harinya. Antara lain dengan ditutupnya sekolah, universitas, maupun penerapan sistem bekerja dari rumah bagi pegawai swasta dan pemerintahan. Dengan situasi tersebut, penyedia jasa ojek online di Mataram disebutnya bertahan hanya dengan mengandalkan pesanan untuk makanan. “Walaupun ini juga turun, sekarang hanya 50 persen dibanding waktu normal,” ujar Budi.

Diterangkan, sampai saat ini pihaknya mencatat setidaknya ada 600 orang penyedia jasa ojek online yang aktif beroperasi di Kota Mataram setiap harinya. Jumlah tersebut diperkirakan berkurang akibat penurunan jumlah order, sehingga persaingan di lapangan menjadi lebih ketat. “Apalagi sekarang banyak bermunculan aplikator lokal. Teman-teman juga jadi banyak yang menggeluti joki, artinya pesanannya hanya dari wa (tanpa aplikasi resmi) dan itu banyak juga,” jelasnya.

Sebagai informasi, pemerintah pusat memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal ketiga tahun ini akan memasuki fase resesi. Di mana kontraksi ekonomi terjadi pada kisaran -2,9 persen hingga -1,0 persen. Sehingga pertumbuhan ekonomi tahun ini diproyeksikan berada pada kisaran -1,7 persen hingga -0,6 persen.

Salah satu penyedia jasa ojek online di Mataram, Gilang, mengaku menurunnya daya beli masyarakat yang terjadi saat ini memang cukup terasa. Terutama dari berkurangnya jumlah order harian yang diterimanya. “Kalau resesi sih kita tidak terlalu ngerti, tapi kalau daya beli yang berkurang mungkin iya. Soalnya sekarang kita cuma dapat dari (order) makanan saja, itu pun menurun 50 persen,” ujarnya.

Menurutnya, untuk sementara ini dirinya hanya bertahan dengan mengharapkan order makanan dari pelanggan-pelanggan yang ada. “Kalau waktu normal itu gila. Sehari itu kita bisa dapat 30-25 order per hari, tapi sekarang cuma 10-15 order,” jelasnya. (bay)