Datangi DPRD Lobar, Guru Honorer di Atas 35 Tahun Desak Diluluskan PPPK Tanpa Tes

Forum GTKHNK 35+ Kabupaten Lobar melakukan hearing ke DPRD Lobar terkait hasil tes PPPK belum lama ini. (Suara NTB/her)

Giri Menang (Suara NTB) – Puluhan guru honorer yang tergabung dalam Forum Guru dan Tenaga Kependidikan Honorer Non Kategori di atas 35 tahun (GTKHNK 35+) Kabupaten Lombok Barat (Lobar) melakukan hearing ke DPRD Lobar, Rabu, 22 September 2021. Para guru untuk kali ketiga menyampaikan keluh kesah dan tuntutan terkait persoalan rekrutmen Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK). Mereka menuntut agar bisa diluluskan PPPK tanpa tes.

Di hadapan Wakil Ketua DPRD Lobar Hj. Nurul Adha bersama Komisi IV DPRD Lobar yang menerima tenaga guru ini, perwakilan guru honorer, Faizah, mengaku soal PPPK itu dinilai berat bagi para guru seusianya. Pasalnya hanya sekitar 2 persen dari 600 guru kategori GTKHNK 35+ yang bisa memenuhi nilai ambang batas atau passing grade yang ditentukan kementerian. “Mungkin keluhan kita sama semua guru,” katanya. Guru honorer di SDN 1 Gerung Utara itupun membeberkan beberapa keluhan yang dihadapi ketika mengikuti tes itu.

Iklan

Mulai dari soal yang di luar prediksi dan kisi-kisi yang disampaikan kepada para guru itu. Padahal sebelumnya sudah dilakukan try out dengan membentuk beberapa kelompok untuk menghadapi tes itu. “Kayak kita di-prank sama soal itu, kita disuruh PKB (Pengembangan keprofesian berkelanjutan), try outtry out, sudah kita pelajari semua bersama teman-teman dengan membuat tim-tim. Ternyata soal-soal yang kita pelajari tak ada satupun yang keluar, jauh dari kisi-kisi itu,” keluhnya.

Ia mengungkapkan hampir sebagian besar nilainya sekitar 200 point dari ketentuan passing grade. Bahkan ada yang hanya bisa memperoleh nilai 145 point, terutama para guru usia di atas itu dan agak kaku mengunakan komputer.

Tingginya passing grade yang dipatok pemerintah agak sulit dicapai. Bagaimana tidak berdasarkan ketentuan pemerintah pusat Seleksi Kompetensi Manajerial minimal 130 dengan nilai kumulatif 200. Kemudian, Seleksi Kompetensi Sosial kultural 130 dengan kumulatif 200, seleksi wawancara dengan passing grade 24 dan kumulatif maksimal 40. Begitu juga, Seleksi Kompetensi Teknis dengan nilai maksimal 500 dan passing grade sesuai kriteria jabatan.

Bahkan pada tes yang berikutnya para guru itu harus bersaing lagi dengan para guru swasta yang sudah memiliki sertifikasi. “Itu jadi bahan pikiran kita apakah kita bisa tes itu,” ujar guru lainnya Khusnul Khotimah menambahkan.

Meski ada kebijakan guru usia 35 tahun ke atas memperoleh afirmasi tambahan nilai Seleksi Kompetensi Teknis sebesar 15 persen. Itu masih dinilai rendah untuk membantu para guru itu lulus PPPK. Justru mereka mengaharapkan agar afirmasi itu ditambah dengan melihat masa mengabdi mereka yang sudah lebih belasan hingga puluhan tahun lamanya. “Kalau perlu diluluskan seratus persen tanpa tes. Sebagai bentuk penghargaan buat yang sudah lama mengabdi,” harapnya.

Menangapi keluhan itu, Wakil Ketua DPRD Lobar, Hj. Nurul Adha mengatakan akan melanjutkan menyampaikan aspirasi para guru usia 35 tahun ke atas itu kepada DPR RI. Sebab diakuinya ini bukan kali pertama guru itu hearing kepada dewan atas kondisi pelaksanaan PPPK. Di samping pihaknya akan bersurat langsung kepada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.

“Perjuangan ini tidak boleh kita putus asa dan pesimis. Kita akan terus memperjuangkan dengan menyuarakan ke DPR RI, kalau yang menangani persoalan ini Dewan PKS DPR RI ini ada Bu Ledia Hanifa,” ungkap Ketua DPD PKS Lobar itu.

Diakuinya, dengan hanya 2 persen guru kategori itu yang lulus, seleksi PPPK itu sangat berat bagi guru usia itu. Meski dari data kuota PPPK Lobar seluruhnya sebesar 1.752 formasi. Di mana 600 di antaranya kategori GTKHNK 35+. “Sebenarnya kuotanya cukup besar, tapi dari pengalaman (keluhan) atas tes itu yang tidak sesuai kompetensi mereka yang diujikan, soal-soal di luar ekspektasi mereka, apa yang mereka perkirakan soalnya tidak masuk,” jelasnya.

Tak hanya itu kendala bagi sebagian guru itu agak kaku dengan komputer. Terlebih yang berusia di atas 40 tahun, dirasa, agak berat juga harus selama tiga jam di hadapan komputer dan akan membuat konsentrasi menurun. “Konsentrasi tidak fokus dan sebagainya, sehingga begitu melihat hasil nilai tidak sesuai harapan mereka. Yang diharapkan bagaimana kita advokasi supaya mereka diakomodir terkait afirmasi untuk poin lama mengabdi mengajar,” terangnya. (her)

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional