Data di DIKTI Bermasalah, Mahasiswa IAIN Ancam Boikot Pendaftaran

Mataram (suarantb.com) – Aliansi Mahasiswa Peduli IAIN Mataram, menggelar demonstrasi di depan Rektorat Kampus I IAIN Mataram, Rabu, 20 Juli 2016. Mereka mengancam akan memboikot pendaftaran mahasiswa baru 2016, jika tujuh tuntutan mereka tidak diindahkan.

Di antara tuntutan utama demonstran ini adalah terkait ketidakcocokan data diri mahasiswa dengan data yang ada di data laman Pangkalan Data Pendidikan Tinggi Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi. Data ini biasanya diakses melalui situs forlap.diktik.go.id.

Iklan

Dalam selebaran yang diedarkan para demonstran ini, pihak Institut diduga tidak menyampaikan laporan data mahasiswa akurat sehingga data yang ditampilkan di laman itu juga tidak valid.

Koordinator Lapangan II, Muhammad Arif Budiman menunjukkan data mahasiswa dari laman tersebut kepada suarantb.com Rabu, 20 Juli 2016. Ia menyayangkan salah seorang mahasiswi yang terkenal pintar dan sekarang tengah menyelesaikan studinya di IAIN mataram pada data tersebut tercantum tidak pernah menempuh SKS.

“Ini lihat, mahasiswi pintar kok ditaruhkan SKS 0. Ini sama artinya mahasiswi yang bersangkutan tidak pernah menjalani perkuliahan selama ini,” pungkasnya.

Ia juga menambahkan, “data mahasiswa sudah ada di setiap semester beserta keterangan SKS, tapi semua mahasiswa nilai SKS-nya masih nol. Seharusnya kalau sudah diinput hasilnya akan berubah,” ujar Arif sebelum memulai aksi demo.

Selain tuntutan utama mengenai permaslahan data tersebut, demonstran ini juga memiliki enam tuntutan lainnya yaitu diantaranya adalah, kebijakan Wakil Rektor II terkait kewajiban pembayaran SPP bagi mahasiswa yang telah menyelesaikan bimbingan skripsi, pelayanan akademik yang tidak memuaskan, bank yang berbeda di masing-masing fakultas, sarana prasarana belajar mahasiswa yang sampai saat ini belum bisa dibenahi, dosen pembimbing mahasiswa yang diduga tidak profesional hingga perpustakaan yang memberlakukan denda mahal.

Ditanya masalah tuntutan mengenai klarifikasi pembagian bank yang berbeda beda di masing masing fakultas, Arif menduga akan adanya rezim pada kebijakan tersebut. Alasannya di masing masing fakultas mempunyai kebijakan yang berbeda beda.

“Jika dicontohkan dengan mahasiswa semester akhir, Fakultas Tarbiyah tidak membayar sedangkan Syari’ah membayar. Ini kan terjadi kekeliruan nantinya, jadinya kita hearing dilakukan penyeragaman,” bebernya.

Selain itu Arif memberatkan sikap Lembaga IAIN Mataram, mengenai pembayaran SPP untuk mahasiswa yang sudah mendaftar skripsi. “Katanya untuk pelayanan skripsi, tanpa ada penerapan Kartu Rencana Studi (KRS), berarti kan kita bayar slip bukan bayar kuliah,” pungkasnya. (ism)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here