Data 800 Pasien Covid-19 di Lobar Diduga Bermasalah

Ilustrasi Berkas. (Suara NTB/ist)

Giri Menang (Suara NTB) – Data sekitar 800 pasien Covid-19 di Kabupaten Lombok Barat (Lobar) diduga bermasalah, lantaran pasien Covid-19 ini tidak didukung data alias tidak tercatat di Lobar. Sedangkan mereka memiliki KTP Lobar. Mereka tercatat sebagai warga Lobar akan tetapi tidak tinggal di Lobar, sehingga tak terdata di Lobar. Data sekitar 800 pasien ini pun sedang dilakukan perbaikan dengan berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan (Dikes) NTB.

Sekda Lobar Dr. H. Baehaqi yang dikonfirmasi mengenai hal ini, menjelaskan, jika pihaknya sudah ada langkah-langkah penanganan sinkronisasi terhadap data 800 pasien Covid-19 yang diduga bermasalah. “Sudah ada langkah-langkah penanganan oleh Dikes,” jelas Sekda Rabu, 28 Juli 2021.

Iklan

Data pasien ini jelas dia, warga yang memiliki KTP Lobar Namun tinggal di luar daerah. Seperti ada warga Lobar ber-KTP Lobar, namun mereka tinggal di Bandung, Bogor dan Kabupaten Lombok Utara. “Mereka tinggal di daerah lain (luar daerah), tapi dia masih memiliki KTP Lobar,”ujarnya

 Karena itulah, perihal pendataan pasien covid-19 ini pihaknya sudah menyampaikan  dalam rapat ke Dikes Provinsi agar pendataan pasien Covid-19 bisa diusulkan berdasarkan tempat tinggal, bukan berdasarkan KTP. “Itu yang kami usulkan kemarin,” ujarnya.

Mengenai alasan banyak yang tak tercatat, sekda mengaku, hal ini yang sedang ditelusuri oleh Dikes. Rencana Kamis, 29 Juli 2021 ini pihaknya akan melakukan rapat dengan Dikes dan jajaran terkait.

Sementara itu, Direktur RSUD Tripat Arbain Ishak mengatakan terdapat sekitar ratusan pasien yang defisit di Lobar, karena tak tercatat. Hal ini mempengaruhi keakuratan data. “Kelengkapan datanya ndak ada, karena ada di Luar. Itu yang disinkronkan,” ujarnya.

Untuk di RSUD sendiri tidak ada, artinya semua pasien sudah masuk semua. Pihaknya menangani pasien, kemudian dilengkapi data.

Sebaliknya, pihaknya tidak mungkin menangani pasien namun tidak ada datanya. Dan pihaknya tidak berani mendata menangani pasien,namun pasiennya tidak ada. Terkait adanya dugaan informasi data pasien yang digelembungkan seperti diduga terjadi di daerah lain? Pihaknya memastikan tidak ada penggelembungan data pasien Covid-19. “Kami tidak berani melakukan seperti itu, karena kalau kami ada pasien Covid-19 ya kami tangani dan masuk data,” ujarnya.

Sejauh ini di RSUD sendiri menangani 40 pasien, terdiri dari 14 orang positif covid-19 sisanya suspek 26 orang. (her)

AdvertisementJasa Pembuatan Website Profesional