Dari Satu Juta Kunjungan di KLU, Cuma 11.873 Wisatawan Berkunjung ke Desa

Tanjung (Suara NTB) – Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Lombok Utara (KLU) akan mengupayakan peningkatan angka kunjungan wisatawan ke desa-desa. Di samping lama tinggal wisatawan di objek-objek wisata juga akan kembali dinaikkan setelah mengalami penurunan tahun lalu.

Kepala Disbudpar Lombok Utara, H. Muhammad, S.Pd., Jumat, 18 Mei 2018 tak menyangkal, tingginya angka kunjungan wisatawan ke Lombok Utara tahun 2017 lalu mencapai 1.003.860 orang belum banyak berwisata ke desa-desa. Dari target wisatawan yang berkunjung ke desa wisata sebanyak 15.000 orang, realisasinya sebesar 11.873 orang. Dengan capaian hanya 1,1 persen dari 1 juta kunjungan wisatawan tentu menjadi pekerjaan rumah bagi dinas untuk berpikir bagaimana meningkatkan jumlah kunjungan itu.

Iklan

“Lama tinggal wisatawan menurun menjadi 1,7 hari dari 3,2 hari. Tentu ke depan ini kita tingkatkan lagi. Caranya, kita perbanyak even di 3 gili,” ujar Muhammad.

Tahun lalu, beberapa hal yang mempengaruhi lama tinggal wisatawan, termasuk erupsi Gunung Agung di Bali. Akibat erupsi itu, sebagian wisatawan mengurangi lama tinggal dengan meninggalkan Lombok Utara lebih cepat dan memilih lokasi objek wisata ke provinsi lain yang lebih nyaman.

Berikutnya minimnya even wisata daerah juga ditengarai menjadi penyebab. Dengan menonjolkan beragam kesenian tradisional dan budaya Lombok Utara lebih intens, diharapkan dapat merangsang lama tinggal maupun angka kunjungan wisatawan. Menurut Muhammad, penampilan kesenian tradisional secara terjadwal dan kontinyu di hotel-hotel menjadi hiburan alternati bagi pengunjung untuk bertahan berlama-lama di KLU.

Upaya berikutnya, sebut Muhammad, adalah dengan menyiapkan destinasi wisata yang ada di daratan Lombok Utara. Lombok Utara memiliki air terjun hampir di setiap desa. Demikian pula inovasi masyarakat desa melalui program pemberdayaan adat dan budaya. Jika potensi-potensi ini dikemas dalam kalender wisata daerah, maka target lama tinggal dan kunjungan wisatawan ke desa diharapkan tercapai.

“Kita perlu mengguide wisatawan di 3 gili ke objek wisata di darat dengan mengemas dan memperkenalkan wisata budaya. Paket-paket wisata harus disiapkan sebagai alternatif. Di daratan bisa dibantu fasilitasi komunikasi antara pengelola di darat dengan manajer hotel di 3 gili, sehingga wisatawan yang menginap memiliki alternatif tujuan wisata,” jelasnya.

Muhammad menyadari, even di 3 gili dapat ditampilkan secara parsial di spot-spot pantai yang memberi daya tarik pengunjung. Dengan komunikasi dan kesediaan hotel menyiapkan eksibisi, Disbudpar tidak menjadikan belum terbangunnya panggung even di Gili Trawangan sebagai kendala. Karena even kesenian itu bisa saja dilaksanakan pada malam hari di areal roi pantai. (ari)