Dari Penyelamat, Pintar Memasak Hingga Main Bola

Mataram (Suara NTB) – Ratusan pelajar Indonesia dan Malaysia bersaing merancang robot penyelamat dan robot yang pintar memasak. Pelajar tingkat sekolah dasar hingga kelas menengah itu berkompetisi dalam Internasional Islamic School Robotica Olympic. Robot dengan beragam kemampuan pun ditampilkan.

Olimpiade robot sekolah islam kelas internasional itu terselenggara di Kota Mataram, Jumat, 19 Agustus 2016 siang. Ini merupakan olimpiade kelima yang diselenggarakan oleh Komunitas Robokop Indonesia. Tahun depan, olimpiade ini akan berlangsung di Jepang. Seluruh pelajar pecinta robot di tanah air tengah bersiap – siap untuk mengikuti seleksi penerimaan peserta.

“Tahun – tahun sebelumnya olimpiade ini diselenggarakan di Bandung dan Kuala Lumpur. Tahun depan kegiatannya akan beralih ke Jepang,” tutur Dhadhang Setiya Budi Winarto, koordinator penyelenggara olimpiade di Mataram ketika diwawancara.

met, kompetisi robot (2)

Sebagian besar peserta yang mengikuti kompetisi itu berasal dari pelajar Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP). Peserta berasal dari Jawa Timur dan Jogjakarta. Ada juga rombongan pelajar yang datang jauh – jauh dari Kedah, Malaysia.

Ahmad Syaiful Bin MD Zain, tenaga pendidik di Maktab Rendah Sains Mara Merbok mengemukakan, pihaknya menampilkan dua tim dari jenjang SMP untuk kompetisi tersebut. Mereka menciptakan robot bertenaga baterai yang dapat bermain bola.

Selain menciptakan robot yang pandai bermain bola, ada juga komunitas yang menrancang robot pemain teater. Robot – robot yang menjadi aktor tersebut disiapkan panggung sederhana sebagai tempat pementasan. Robot – robot akan bekerja sesuai perannya masing – masing. Panggung tersebut menjadi sirkus yang dihiasi atraksi belasan robot.

Beberapa peserta asal Sidoarjo, Jawa Timur mengemukakan, kreatifitas merancang dan menyiapkan kerja – kerja robot itu dituangkan melalui semacam ekstrakurikuler (ekskul). Banyak sekolah Islam di Pulau Jawa memiliki ekskul robotika.

“Ini hanya ekstrakurikuler, bukan bagian pokok mata pelajaran. Sifatnya hanya hobi saja. Tetapi kalau yang mau serius menggeluti bidang ini, mereka bisa masuk ke SMK – SMK,” kata Kusumoning Tiyas Utami, Guru IT SMP Deltasari Sidorajo yang mendampingi peserta didiknya dalam kompetisi internasional itu.

Salah satu siswa kelas sembilan di SMP Deltasari Sidoarjo, Alif Rysandy Hidayat Roi mengaku dirinya menggeluti ekskul tersebut sejak SD. Dalam kompetisi ini, ia bersama rekan – rekanya membuat suatu terobosan dengan menciptakan robot penyelamat (Rescue Robocop).

met, kompetisi robot (3)

“Kami ikut cabang kompetisi rescue, jadi kami menciptakan robot penyelamat. Suatu waktu, ketika ada bencana robot ini dapat diberi perintah untuk mengevakuasi korban. Tetapi ini hanya replika,” katanya.

Ia memiliki harapan besar, kelak rancangan robot yang dilakukan bersama timnya itu dapat diaplikasikan dalam dunia nyata. Mereka ingin menciptakan robot penyelamat yang berfungsi dalam kehidupan sehari – hari.

Dengan bergelut di bidang ekskul tersebut, sebagai peserta didik, mereka juga dapat mengasah kemampuannya untuk menguasai tekhnologi. Anak – anak dituntut memahami kerja IT dan seluruh elemen masin penggerak robot. Suatu saat rancangan robot yang mereka ciptakan itu dapat diterapkan dalam upaya pengembangan teknologi di masa berikutnya.

“Rancangan robot ini terbentuk dari lego, semacam elemen plastik yang dapat disusun sehingga menjadi satu kesatuan. Kemudian ada energi listrik yang dimasukkan sebagai energi kinetiknya. Ada juga alat sensor untuk radar pendeteksi benda,” tandasnya. (met)